Ilmuwan Cina Tampilkan Hypersonic Morphing Missile, Masa Depan Rudal Jelajah yang Kian Sulit Dicegat

Sesuai dengan kebutuhan, maka masa depan rudal jelajah akan bertumpu pada keunggulan kecepatan dan kelincahan yang ekstrem, dan terkait hal tersebut, kemudian mengemuka apa yang disebut hypersonic morphing missile.

Baca juga: Terbang Sejauh 14.000 Km dalam 15 Jam, Rusia Uji Peluncuran 9M730 “SkyFall” Burevestnik: Rudal Jelajah dengan Tenaga Nuklir

Istilah ‘hypersonic morphing missile’ (rudal hipersonik yang bisa berubah bentuk) mengacu pada salah satu konsep teknologi pertahanan paling canggih dan disruptif saat ini, bayangkan rudal yang tidak hanya sangat cepat (Mach 5 atau lebih), tetapi juga bisa mengubah bentuk aerodinamisnya saat terbang.

Seperti dikutip dari South China Morning Post (1/11/2025), para ilmuwan Cina telah mempublikasikan penelitian berupa prototipe rudal hipersonik yang menggunakan sayap yang dapat ditarik (retractable wings). Ketika ditarik, rudal mencapai kecepatan maksimal; ketika diperpanjang, maka rudal mendapatkan daya angkat (lift) dan kemampuan manuver yang jauh lebih tinggi.

Cina telah mempublikasikan studi rinci dan berhasil melakukan uji coba hardware-in-the-loop (HIL) untuk sistem kendali yang memungkinkan sayap ditarik pada kecepatan Mach 5. Ini menunjukkan bahwa secara teknologi, hal itu sudah feasible (dapat dilakukan).

Kemampuan Tempur Terdongkrak, Sukhoi Su-57 Mampu Luncurkan Rudal Jelajah Hipersonik Tsirkon (Zircon)

Rudal tersebut, yang diungkap dalam sebuah makalah, memiliki sepasang sayap yang dapat ditarik, sebuah desain inovatif yang memungkinkannya untuk menyesuaikan profil aerodinamisnya secara dinamis di tengah penerbangan.

Saat disimpan di dalam badan pesawat, sayap-sayap tersebut meminimalkan hambatan untuk jelajah kecepatan tinggi. Saat dibentangkan, sayap tersebut menghasilkan daya angkat tambahan dan meningkatkan kemampuan manuver secara signifikan.

Saat Rafale F5 “Super Rafale” Meluncur, Perancis Bakal Punya ASN4G – Rudal Jelajah Hipersonik Berhulu Ledak Nuklir

Yang terpenting, tingkat penyebaran sayap dapat disesuaikan secara presisi, memungkinkan perubahan secara langsung pada bentuk aerodinamis keseluruhan kendaraan dan karakteristik penerbangan, sebuah kemampuan yang telah lama dianggap sebagai “holy grail” penerbangan hipersonik.

Desainnya dirinci dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada 20 Oktober di Acta Aeronautica et Astronautica Sinica, jurnal kedirgantaraan terkemuka Cina, oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Profesor Wang Peng dari College of Aerospace Science and Engineering at the National University of Defence Technology (NUDT).

Konsep kuncinya terdapat pada kecepatan dan manuver yang tidak terduga. Dengan kecepatan hipersonik (minimal Mach 5),. kecepatan ini mempersulit sistem pertahanan rudal musuh untuk mendeteksi dan melacak rudal tepat waktu, dan morphing (perubahan bentuk), rudal memiliki struktur yang dapat disesuaikan secara dinamis, seperti sayap yang dapat ditarik/diperpanjang (variable wingspan) atau hidung/sirip yang dapat dipuntir (articulated nose).

Inggris Percepat Pengembangan Rudal Jelajah Hipersonik dengan Target Operasional di Tahun 2030

Ini artinya rudal dapat mengubah arah, ketinggian, dan profil penerbangan secara ekstrem dan mendadak di tengah penerbangan, dan membuat sistem pelacakan tidak berguna. Rudal hipersonik konvensional (seperti Hypersonic Glide Vehicle atau HGV) sudah sulit dicegat karena kecepatannya. Namun, rudal morphing ini melipatgandakan kesulitan tersebut karena lintasan terbangnya menjadi tidak terduga sama sekali.

Selain dikembangkan oleh Cina, AS juga melakukan eksplorasi melalui proyek-proyek seperti MUTANT (Missile Utility Transformation via Articulated Nose Technology) oleh Angkatan Udara AS, yang fokus pada kemampuan memuntir hidung rudal untuk mengubah arah secara radikal.

Meski secara konsep sangat canggih dan punya daya tembus tinggi pada sistem pertahanan udara lawan, namun Membangun rudal morphing hipersonik adalah masalah teknik yang sangat rumit. Seperti pada kecepatan Mach 5+, gesekan udara menghasilkan panas yang luar biasa. Material yang digunakan untuk mekanisme morphing (sayap yang bergerak, sambungan, dll) harus mampu menahan suhu tinggi tanpa gagal.

Punya Desain Mirip Tsirkon, Inilah “Fattah 2” – Rudal Jelajah Hipersonik Iran yang Bikin Israel Ketar-ketir

Kemudian tantangan aerodinamika, perubahan bentuk yang cepat pada kecepatan hipersonik menyebabkan perubahan mendadak pada beban aerodinamika. Diperlukan algoritma dan sistem kontrol canggih (seringkali berbasis AI) untuk menjaga kestabilan rudal agar tidak hancur atau kehilangan kendali.

Rudal morphing saat ini seperti prototipe mobil sport bertenaga tinggi yang telah berhasil melewati crash test dan uji kecepatan di trek tertutup. Rudal ini membuktikan bahwa mereka bisa melaju (dan berubah bentuk), tetapi belum siap dipasarkan ke publik (militer) karena masih perlu disempurnakan untuk keandalan jangka panjang. (Gilang Perdana)

Berkat REVOLVER Systems, Boeing C-17 Globemaster III Mampu Luncurkan Rudal Jelajah Hipersonik

One Comment