Rudal Tomahawk di Ukraina? Rusia: Kami Tahu Cara Menghancurkannya!

Rupanya permintaan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky agar bisa mendapat pasokan rudal jelajah Tomahawk dari AS, telah memantik reaksi dari petinggi Rusia. Salah satunya lewat pernyataan Andrei Kartapolov, Kepala Komite Pertahanan Parlemen Rusia (sebelumnya Wakil Menteri Pertahanan), yang menyebut pihaknya mampu dan mengetahui cara mencegat rudal Tomahawk.
Pada awal Oktober 2025, Andrei Kartapolov menyebut, “Kita tahu betul rudal-rudal ini. Bagaimana cara mereka terbang, bagaimana cara menembak jatuh mereka. Kita sudah menghadapinya di Suriah, jadi ini bukan hal baru. Satu-satunya masalah yaitu siapa yang memasok mereka dan siapa yang menggunakan mereka.”
Rusia mengklaim telah memiliki pengalaman dalam melacak dan mencegat rudal Tomahawk Block IV yang ditembakkan oleh AS ke Suriah di masa lalu. Klaim ini digunakan untuk menunjukkan bahwa teknologi pencegatan Rusia sudah teruji terhadap rudal jelajah tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri mengakui bahwa Tomahawk adalah senjata yang kuat dan menimbulkan ancaman, tetapi juga menyebutnya sebagai “tidak begitu modern” (not quite that modern) dan “sudah usang” dibandingkan senjata Rusia saat ini. Petinggi Kremlin, termasuk Juru Bicara Dmitry Peskov dan Putin, berulang kali menyatakan bahwa bahkan jika Tomahawk dikirim, jumlahnya akan kecil dan rudal tersebut “tidak akan mampu mengubah dinamika” di medan perang Ukraina.

Para analis militer dari Barat berpendapat bahwa meskipun Tomahawk dapat dicegat seperti rudal jelajah lainnya, rudal jelajah ini akan tetap menjadi “masalah besar” bagi pertahanan udara Rusia karena dapat terbang pada ketinggian sangat rendah, melakukan manuver mengelak, dan memiliki hulu ledak yang jauh lebih besar daripada drone Ukraina yang saat ini menyerang wilayah Rusia. Jika dipasok dalam jumlah besar, Tomahawk akan memaksa Rusia untuk menderaskan dan mendesentralisasikan aset pertahanan udaranya.
Jangkauan maksimum rudal jelajah Tomahawk (khususnya varian terbaru yang paling mungkin dipertimbangkan, seperti Block IV/Tactical Tomahawk) adalah sekitar 2.500 kilometer (sekitar 1.550 mil).
Mirip Tomahawk, Polandia Tampilkan Rudal Jelajah Jarak Jauh Produksi Dalam Negeri
Namun, perlu dicatat bahwa jangkauan ini bisa bervariasi tergantung pada model spesifik Tomahawk yang dibahas dan jenis hulu ledak yang dibawanya. Misalnya, Tomahawk versi lama mungkin memiliki jangkauan yang sedikit lebih pendek. Angka 2.500 km adalah batas jangkauan yang sering disebut dalam konteks pertimbangan pasokan ke Ukraina.
Meskipun Rusia tidak merinci teknologi mana yang akan mereka gunakan secara spesifik untuk Tomahawk di Ukraina, sistem pertahanan udara Rusia yang dirancang untuk mencegat rudal jelajah seperti Tomahawk meliputi sistem hanud jarak jauh S-300V/S-400, sistem hanud jarak dekat Pantsir-S1 dan Tor-M2. (Bayu Pamungkas)
Berhasil Cegat Roket HIMARS dan Vilkha – Sistem Hanud Tor-M2U Dibekali Algoritma Kecerdasan Buatan



Masalah sebenarnya adalah di jumlah rudal yg di berikan ke Ukraina, terbukti ketika atacms ini sukses di Ukraina dan menghancurkan s400 di Crimea, tapi terkendala jumlah rudal yg di sumbangkan
Tantangan Ukraina jika ingin punya rudal Tomahawk adalah saat ini tidak memiliki platform peluncuran Tomahawk itu sendiri, yang biasanya diluncurkan dari kapal permukaan atau kapal selam. Muncul spekulasi mengenai penggunaan sistem peluncur berbasis darat yang baru, seperti sistem Typhon Angkatan Darat AS. Padahal, militer AS sendiri sudah lama menghapus rudal jelajah berbasis darat itu seperti BGM-109 Gryphon sejak ditarik dari layanan aktif dan dihancurkan pada tahun 1991 sesuai Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF)