Khawatir Atas Serangan Udara Israel, Turki Luncurkan Program Pembangunan Shelter (Bomb Shelters) di 81 Provinsi

Serangan udara yang dilancarkan Israel ke ibu kota Iran, Teheren, pada bulan Juni lalu telah ‘membuka mata’ negara-negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, yaitu tidak ada kota yang aman dari serangan Israel, meski status militer negara yang dimaksud dikenal kuat sekalipun. Selama masih dalam jangkauan serangan udara Israel, maka tak ada yang tak mungkin untuk diserang Negeri Zionis.
Turki yang punya perbedaan sikap atas tragedi di Gaza, plus kepentingan yang terganggu di Suriah, bukan tak mungkin di masa depan akan menerima serangan udara dari Israel. Sebagai ilustrasi, jarak dari Tel Aviv ke Ankara – 1.100 km, sedangkan jarak dari Tel Aviv ke Teheran – 1.600 km, yang artinya Ankara ada dalam jangkauan jet tempur dan rudal balistik Israel.
Berangkat dari potensi ancaman di masa depan, pemerintah Turki tengah meluncurkan program pembangunan shelter/sarang bom nasional (bomb shelters) sebagai langkah proaktif untuk melindungi warga sipil dari ancaman konflik, terutama menyusul eskalasi regional.
Sistem ini tidak lepas dari pelajaran yang diambil Turki dari pengalaman Iran, dan sekaligus sebagai respons atas ketegangan terkini dengan Israel.

Mengutip The Star, Presiden Erdogan pada bulan Juni 2025 menugaskan TOKİ (Badan Pengembang Perumahan Nasional) untuk membangun shelter di 81 provinsi Turki, termasuk di ibu kota Ankara. Program ini sudah berjalan dan mencontoh sistem bunker yang ada di Swiss. Secara khusus pembangun shelter ditujukan untuk memberi perlindungan warga dari serangan udara/rudal (termasuk NBC), dibangun sebagai jaringan nasional baru.
Laporan dari Turkish National Intelligence Academy menekankan pentingnya memperkuat infrastruktur perlindungan sipil, termasuk shelter dan sistem peringatan dini sebagai respons terhadap perubahan battlefield, terutama setelah perang singkat antara Israel dan Iran. Langkah ini muncul lebih dari dua bulan setelah serangan mendadak Israel terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran akan potensi perluasan konflik di wilayah sekitarnya.

Di Swiss, awal mula pembangunan shelter sebagai respons terhadap ancaman Perang Dingin telah dimulai pada tahun 1950-an. Dan pada tahun 1963, pemerintah federal mewajibkan setiap bangunan baru di Swiss memiliki shelter bawah tanah (atau kontribusi dana ke shelter komunal).
Hingga pada tahun 1980-an, pembangunan masif berhasil dilakulan denhgan jaringan bertumbuh hingga cakupannya mencapai >100% populasi (artinya ada lebih banyak kursi daripada jumlah penduduk). Sampai saat ini, sistem ini terus dipelihara dan diperbarui agar sesuai dengan standar proteksi modern (NBC, blast, filtrasi udara).
Sementara Jepang masih tahap rencana dan perumusan kebijakan, Pemerintah Jepang baru pada 2024 mengeluarkan Basic Policy on Shelters dan memulai survei nasional fasilitas bawah tanah yang bisa dikonversi jadi tempat perlindungan.
Turki memang punya jaringan kereta bawah tanah (metro) di kota-kota besar seperti Istanbul, Ankara, dan Izmir. Tapi ada beberapa alasan mengapa tidak bisa langsung dimanfaatkan sebagai sistem shelter nasional, seperti keterbatasan cakupan geografis, desain tidak ditujukan untuk perlindungan, kapasitas terbatas dan masalah evakuasi.
Hingga kini, tidak ada informasi publik yang menyebutkan target penyelesaian proyek secara spesifik, yang jelas, program di Turki sudah dalam tahap pelaksanaan dengan skala nasional. (Gilang Perdana)
Bersiap Perang Nuklir, Rusia Produksi Massal ‘KUB-M’ – Shelter Bom Anti Radiasi dan Shockwave


