Setelah Puluhan Tahun, Korea Selatan Hentikan Siaran Propaganda ke Korea Utara

Korea Selatan telah menangguhkan siaran radio puluhan tahun ke Korea Utara dalam langkah terbaru guna meredakan ketegangan. Langkah ini menandai kemenangan simbolis bagi Pyongyang dengan memutus sumber informasi langka tanpa sensor bagi warganya.

Baca juga: Born To Fly, ‘Top Gun’ Made in China yang Tampilkan Propaganda Kekuatan AU Cina Lewat Jet Tempur Siluman Chengdu J-20

Seperti dikutip The Straits Times, Kantor Kepresidenan Korea Selatan mengatakan pada 23 Juli 2025, bahwa siaran radio telah ditangguhkan “untuk beberapa waktu”, dengan mengatakan bahwa langkah tersebut lebih baik daripada menyaksikan hubungan antar-Korea memburuk.

Hal ini mengonfirmasi laporan terbaru dari program 38 North di Stimson Centre yang menyatakan bahwa empat stasiun radio yang diyakini dioperasikan oleh Badan Intelijen Nasional Korea Selatan telah berhenti beroperasi pada awal Juli.

“Di sebagian besar dunia, penyiaran lintas batas merupakan peninggalan masa lalu (era 60-an),” kata Martyn Williams, seorang peneliti senior di Stimson Centre.

“Namun Korea Utara tidak seperti kebanyakan negara di dunia. Korea Utara adalah salah satu dari sedikit tempat di mana penduduknya tidak memiliki akses internet dan dilarang mengakses media asing.”

Langkah ini khususnya penting karena program-program tersebut, yang beberapa di antaranya berasal dari tahun 1970-an, “tidak pernah berhenti siaran sejak awal, terlepas dari apakah hubungan politik antara kedua Korea sedang hangat atau dingin”, kata Williams.

 

Langkah ini sejalan dengan upaya Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang lebih luas guna memperbaiki hubungan dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, yang menandakan perubahan dari kebijakan garis keras pendahulunya yang konservatif.

Meskipun dampak dari penangguhan siaran ini sulit diukur, upaya konsisten Korea Utara untuk mengganggu sinyal menunjukkan bahwa siaran tersebut efektif dalam menjangkau pendengar, kata Williams.

Kedua negara saling adu propaganda dengan siaran radio dan speaker bersuara keras disebut sebagai “perang propaganda audio” atau secara umum dikenal sebagai Loudspeaker Propaganda War antara Korea Utara dan Korea Selatan di kawasan perbatasan Demilitarized Zone (DMZ).

Awasi Ketat Garis Perbatasan, Korea Selatan Hadirkan Robot Pengintai di Atas Rel

Konten siaran dari Korea Selatan ke Korea Utara, mencakup konten dari Lagu-lagu K-pop dan musik pop Barat, berita dunia yang disensor oleh pemerintah Korut, informasi tentang gaya hidup bebas di Korea Selatan, dan kritik terhadap kepemimpinan Kim Jong-un. Sementara konten dari Korea Utara ke Korea Selatan, mencakup pujian terhadap rezim Pyongyang, seruan bersatu kembali di bawah Korea Utara dan propaganda anti-AS serta anti kapitalisme.

Masuk kategori sebagai psychological operations (Psyops) atau information warfare, tujuan utamanya adalah perang psikologis, menanamkan ketidakpuasan di antara warga/tentara musuh, sampai demonstrasi kekuatan propaganda. (Bayu Pamungkas)

Ada Raisa di Depan Istana Negara, Siap Mengurai Massa!

2 Comments