Hari ini 58 Tahun Lalu, Pembom Taktis Sukhoi Su-24 Fencer Terbang Perdana, Masih Berjaya di Perang Ukraina

Tepat hari ini 58 tahun lalu, bertepatan dengan 2 Juli 1967, dikenang sebagai momen bersejarah dalam dunia dirgantara Soviet. yakni menandai penerbangan perdana prototipe Sukhoi Su-24, sebuah pesawat pembom taktis yang kelak menjadi tulang punggung kekuatan serangan udara jarak dekat banyak negara pecahan Uni Soviet selama beberapa dekade.

Baca juga: Pembom Tempur Sukhoi Su-24 Ukraina Dipersiapkan Bisa Meluncurkan Rudal Jelajah Buatan Barat, Storm Shadow!

Berlokasi di pangkalan uji coba di Zhukovsky, dekat Moskow, penerbangan perdana oleh pilot uji coba Vladimir Ilyushin, menggunakan prototipe awal yang disebut T-6-1. Penerbangan perdana berlangsung selama kurang dari satu jam dengan hasil lancar, meski beberapa masalah aerodinamika dan sistem kontrol dicatat untuk disempurnakan dalam prototipe berikutnya.

Meskipun T-6-1 menggunakan sayap tetap (tidak variabel), hasil uji coba ini sangat penting karena membuka jalan bagi desain final Su-24 dengan sayap ayun (swing wing) seperti F-111.

Latar belakang pengembangan Su-24 terkait dengan perlombaan senjata di era Perang Dingin, Uni Soviet menyadari perlunya pesawat pembom taktis segala cuaca yang mampu menembus pertahanan udara musuh dengan kecepatan tinggi di ketinggian rendah, seperti yang dimiliki oleh pesawat Barat seperti F-111 Aardvark milik AS.

T-6-1

Maka, Sukhoi OKB (biro desain) mulai mengembangkan pesawat baru yang memilikikKemampuan terbang dalam segala cuaca, cepat dan bermanuver, termasuk di ketinggian rendah, aistem avionik canggih (untuk masa itu) dan sayap variabel geometry (ayun) untuk fleksibilitas dalam berbagai kecepatan dan misi.

Evolusi setelah penerbangan perdana dilakukan hingga munculnya prototipe T-6-2 dan seterusnya menggunakan sayap ayun dan sistem navigasi serang baru (PNS-24). Sistem avionik terus dimutakhirkan, termasuk terrain-following radar, autopilot, dan kemampuan terbang sangat rendah.

Pesawat Sukhoi Su-24, hasil pengembangan dari prototipe T-6, secara resmi mulai digunakan oleh Angkatan Udara Soviet pada tahun 1974, setelah menjalani proses pengujian dan pengembangan yang panjang sejak penerbangan perdananya pada 2 Juli 1967. Unit pertama yang menerima Su-24 adalah resimen-resimen pembom taktis Soviet, terutama yang ditempatkan di wilayah Eropa Timur dan perbatasan dengan NATO.

Diproduksi oleh pabrik pesawat NAPO (Novosibirsk Aircraft Production Association) di Siberia, produksi massal Su-24 dimulai tahun 1971 (produksi awal sebelum IOC/operasional penuh) dan dihentikan produksinya pada tahun 1993 (satu tahun setelah bubarnya Uni Soviet, meski beberapa upgrade dilakukan hingga awal 2000-an).

Hari ini, 57 Tahun Lalu, Pembom Tempur Bersayap Ayun F-111 Aardvark Terbang Perdana

Oleh NATO, Su-24 diberi kode nama Fencer, yang berartii “Ahli Anggar”, mengacu pada sosok lincah dan berbahaya, sesuai dengan peran Su-24 sebagai pesawat serang taktis cepat dan presisi yang menembus pertahanan lawan dengan akurasi tinggi.

Total produksi Su-24 lebih dari 1.400 unit, termasuk varian standar Su-24, Su-24M (upgrade utama dengan sistem navigasi-serang PNS-24M, radar baru, sistem targeting lebih baik), Su-24MR (versi intai/reconnaissance) dan Su-24MP (cersi peperangan elektronik (jamming, sangat langka, hanya sekitar 10–20 unit). Sekitar 550 unit adalah varian Su-24M, yang paling modern dan banyak digunakan.

Dari spesifikasi, Su-24 ditenagai mesin 2× AL-21F-3 turbojet, yang menghasilkan kecepatan Mach 1.6 dan jangkauan tempur 615 km (low level), hingga 2.775 km (ferry). Su-24 punya jumlah hardpoint 8 (underwing & fuselage) dan payload maksimum 8 ton.

[the_ad id=”77299″]

Desain Kokpit Side-by-side
Desain kokpit side-by-side (duduk berdampingan) pada Sukhoi Su-24 adalah salah satu ciri khas uniknya, yang tidak umum di antara jet tempur atau pembom taktis pada masanya. Mayoritas pesawat tempur menggunakan konfigurasi tandem (depan-belakang), tapi Su-24 justru meniru gaya pesawat pembom Barat seperti F-111 Aardvark, yang juga memakai side-by-side.

Alasan dan Keunggulan desain kokpit side-by-Side adalah pilot dan officer sistem senjata/navigasi dapat berkomunikasi lebih mudah dan cepat tanpa mengandalkan radio internal. Ini Sangat berguna untuk misi kompleks seperti penetrasi pertahanan udara di ketinggian rendah dan segala cuaca.

Menhan Ukraina Ungkap Fakta Peluncuran Rudal Storm Shadow dari Sukhoi Su-24

Su-24 dirancang untuk menyerang sasaran presisi dalam kondisi sulit (malam, cuaca buruk, medan ekstrem). Untuk mengoperasikan radar PNS-24, sistem navigasi, dan targeting, dibutuhkan kru khusus yang duduk dalam jangkauan perangkat bersama. Kedua awak menggunakan kursi lontar K-36D yang dipasang di bawah kanopi bersama Ejeksi dapat dilakukan secara simultan dan simetris saat darurat.

Berlaga di Perang Ukraina
Su-24 justru kembali mendapat sorotan besar dalam Perang Ukraina sejak 2022, di kedua sisi konflik: Ukraina dan Rusia. Meskipun tergolong pesawat “veteran”, Su-24 terbukti masih relevan berkat upgrade dan integrasi rudal-rudal modern. Salah satunya, Ukraina mengoperasikan Su-24M dan Su-24MR (versi intai), dan secara dramatis meng-upgrade Su-24M agar bisa menembakkan rudal jelajah Storm Shadow/ SCALP-EG dari Inggris dan Perancis. (Gilang Perdana)

Gunakan Rudal Hipersonik Kh-47M2 Kinzhal, Rusia Serang Basis Pembom Tempur Su-24 “Peluncur Storm Shadow”