IRBM 9M729 Oreshnik (Kedr) – Varian Rudal Balistik Antarbenua RS-26 Rubezh yang Hantam Ukraina dengan Hulu Ledak Hipersonik

Guna mengurangi ‘kepanikan’ global dan agar tidak disebut melanggar perjanjian dalam Intermediate-Range Nuclear Forces (INF Treaty), maka satu hari setelah serangan rudal balistik hipersonik dengan MIRV (Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles) ke kota Dnipro di Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putih menyatakan bahwa pihaknya tidak menggunakan rudal balistik antarbenua (ICBM), melainkan yang digunakan adalah rudal balistik jarak menengah atau intermediate-range ballistic missile (IRBM).

Baca juga: Melesat Bak Petir, MIRV yang Dibawa Rudal Balistik Hipersonik RS-26 Rubezh Bikin Ukraina dan Negara Sekutu Ketar-ketir

Sumber Pentagon sebelumnya menyebut yang digunakan Rusia dalam serangan 21 November 2024 ke Dnipo adalah ICBM dari jenis RS-26 Rubezh. Namun, bila merujuk pada pernyataan Putin, maka yang digunakan adalah rudal “Oreshnik”. Meski ada perbedaan nama, namun ternyata ada kaitan yang tidak jauh antara RS-26 Rubezh dan Oreshnik, pasalnya Oreshnik adalah 9M729, yang merupakan varian pengembangan dari RS-26 Rubezh, khususnya di segmem IRBM.

Meski diklaim dalam kategori IRBM dan mampu membawa hulu ledak nuklir dan konvensional, 9M729 atau Oreshnik dilengkapi dengan MIRV, yang dalam satu rudal dapat dilengkapi beberapa hulu ledak untuk menyasar berbagai sasaran, dalam hal ini, Oreshnik sama persis dengan RS-26, yang dalam satu rudal membawa enam hulu ledak.

Namun, disebut kecepatan luncur MIRV dari Oreshnik tidak mencapai Mach 24, masih tetap di level hipersonik, kecepatan rudal yang menyerang Dnipo disebut punya kecepatan Mach 11 pada fase terminal.

Seperti dikutip United24 Media, Direktorat Intelijen Utama Ukraina (HUR) memberikan perincian lebih lanjut, dengan menyatakan bahwa “Oreshnik” merujuk pada proyek penelitian, sementara sistem rudal operasionalnya bernama “Kedr.” Spesifikasi yang diketahui meliputi Rudal dengan enam hulu ledak, yang masing-masing membawa enam submunisi.

Jika ini memang rudal balistik jarak menengah, seperti yang disebut Putin, jangkauannya dapat mencapai hingga 5.500 kilometer. Ini akan melanggar Perjanjian INF pada 1987, yang ditandatangani oleh AS dan Uni Soviet untuk melenyapkan rudal semacam itu. Dengan demikian, mengembangkan Kedr akan menandakan pelanggaran Rusia terhadap perjanjian ini.

Sejauh ini, sangat sedikit informasi konkret tentang Kedr, publikasi militer Rusia pada tahun 2023 menyebutkan proyek tersebut tetapi menghilangkan rincian teknis yang tepat. Laporan menunjukkan bahwa Kedr mungkin menggantikan RS-24 Yars, rudal balistik antarbenua yang mampu menargetkan lokasi hingga 10.000 kilometer jauhnya.

HUR menyebut Kedr masih dalam tahap pengembangan. Uji coba awal dilakukan pada tahun 2023 dan 2024 di lokasi pengujian Kapustin Yar di wilayah Astrakhan, Rusia. Peluncuran pada tanggal 21 November yang menargetkan Dnipro juga berasal dari lokasi ini.

Pengembang sistem rudal ini juga sama pentingnya. HUR memberikan daftar perusahaan yang terlibat, dengan perhatian khusus pada Moscow Institute of Thermal Technology yang bertanggung jawab atas hampir semua desain rudal balistik Rusia, termasuk Yars, Topol, Bulava, dan RS-26 Rubezh.

Iran Punya “Kheibar Shekan” – Rudal Balistik Jarak Menengah Penantang Sistem Hanud David’s Sling Israel

RS-26 Rubezh sendiri bukanlah pengembangan baru. Pengujian dimulai pada tahun 2012, dan Kedr diyakini sebagai evolusi atau peningkatan dari proyek sebelumnya ini, yang didasarkan pada RS-24 Yars. Hubungan ini menjelaskan kebingungan mengenai apakah rudal tersebut jarak menengah atau antarbenua.

Selama pengujian, RS-26 Rubezh menempuh jarak 5.800 kilometer, melampaui batas jangkauan Perjanjian INF sebesar 5.500 kilometer. Akibatnya, rudal tersebut dianggap sebagai pelanggaran perjanjian, dan diskusi tentangnya dihentikan antara tahun 2017 dan 2018. Namun, jelas bahwa RS-26 Rubezh berfungsi sebagai fondasi bagi rudal Kedr. kepala HUR Kyrylo Budanov menyebut, bahwa Rusia belum memproduksi massal rudal Kedr. Sistem tersebut masih dalam tahap eksperimental.

[the_ad id=”77299″]

Sebagai catatan, Short-Range Ballistic Missiles (SRBM) atau rudal balistik jarak pendek dirancang untuk menempuh jarak hingga 500 kiometer. Sementara IRBM dirancang untuk menempuh jarak antara 3.000 dan 5.500 kilometer, dan ICBM dapat menempuh jarak lebih dari 5.500 kilometer.

IRBM ditujukan untuk serangan di wilayah atau benua tertentu, seperti menargetkan lokasi di negara atau wilayah tetangga. IRBM memiliki jangkauan yang lebih pendek daripada ICBM, sehingga cocok untuk serangan strategis di wilayah geografis yang lebih dekat. (Bayu Pamungkas)

Korea Utara Luncurkan Hwasong-16B – Rudal Balistik Jarak Menengah Hipersonik Berbahan Bakar Padat

6 Comments