Terbang Perpisahan 19 September 2025, Inilah Sejarah Panjang MiG-21 India, “Flying Coffin yang Battle Proven”

Bila tiada aral melintang, pada tanggal 19 September 2025, akan menjadi momen bersejarah bagi Angkatan Udara India (IAF), pada tanggal itu direncanakan penerbangan terakhir jet tempur MiG-21 (MiG-21 Bison) oleh Skuadron ke-23 “Panthers”, yang menjadi penutup dari 62 tahun penugasan panjang dan penuh sejarah dari pesawat tempur single engine jawara era perang dingin.
Angkatan Udara India belum secara resmi mengungkapkan alasan khusus mengapa tanggal 19 September 2025 dipilih sebagai hari perpisahan terakhir bagi MiG-21. Namun, ada beberapa kemungkinan logis yang bisa menjadi pertimbangan di balik pemilihan tanggal tersebut, seperti merupakan jadwal kesiapan dan rotasi skuadron, yang mana Skuadron ke-23 “Panthers” adalah unit terakhir yang mengoperasikan MiG-21. Pemilihan tanggal 19 September bisa jadi berkaitan dengan jadwal akhir operasional mereka.
Namun, bisa juga terkait musim dan cuaca ekstrem, di beberapa wilayah India, musim hujan masih berlangsung pada Agustus hingga awal September, sehingga pertengahan hingga akhir September lebih kondusif untuk menggelar flypast dan upacara terbuka di Pangkalan Udara Chandigarh.
Skuadron ke-23 memiliki sejarah panjang dalam pengoperasian berbagai jenis pesawat tempur, termasuk Folland Gnat dan MiG-21. Pada Juni 2024, skuadron ini dipindahkan ke Pangkalan Udara Nal untuk menyatukan operasional MiG-21 dengan Skuadron ke-3, guna mempermudah pemeliharaan dan operasional pesawat tersebut. Kedua skuadron ini direncanakan akan beralih ke pesawat tempur ringan Tejas Mk1A buatan dalam negeri setelah pensiunnya MiG-21.
🎖️End of an Era !🎖️
The MiG-21 — India’s first supersonic jet and a true warrior — will retire this September after 62 years of proud service. ✈️
From shaping fighter pilots to downing a Pakistani F-16, the ‘Falcon Slayer’ has earned its place in history.🫡🇮🇳#MiG21 pic.twitter.com/nH0l8Rc9Qa
— 🇮🇳Tanmay Kulkarni (@Tanmaycoolkarni) July 22, 2025
MiG-21 Bison adalah varian terakhir dari seri MiG-21 yang dioperasikan oleh IAF. Pesawat ini telah berperan penting dalam berbagai konflik besar, termasuk Perang India-Pakistan 1965 dan 1971, konflik Kargil 1999, serta serangan udara Balakot pada 2019. Namun, karena tingginya tingkat kecelakaan dan keterbatasan teknologi, pesawat ini mendapat julukan “flying coffin” dan telah lama direncanakan untuk pensiun.
Dengan pensiunnya MiG-21, IAF akan menggantinya dengan pesawat tempur generasi baru, termasuk Tejas Mk1A buatan dalam negeri, sebagai bagian dari upaya modernisasi dan peningkatan keselamatan operasional.
Untuk Pertama Kali Jet Tempur HAL Tejas Jatuh, Jadi ‘Kabar Baik’ untuk Martin Baker
Dari sejarahnya, bersama dengan Indonesia, India menjadi negara non-Blok pertama yang membeli MiG-21 dari Uni Soviet lewat kesepakatan di tahun 1961. Awalnya hanya beberapa unit MiG-21F-13 yang dibeli dalam bentuk completely built units (CBU).
Namun, di tahun 1964, ada lompatan besar, India menandatangani kesepakatan lisensi untuk merakit dan memproduksi MiG-21 secara lokal di pabrik Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Produksi dimulai dengan varian MiG-21FL, dan berlanjut ke MiG-21M dan MiG-21bis.
India memproduksi total sekitar 657 unit MiG-21 di HAL dari berbagai varian – MiG-21FL – sekitar 205 unit, MiG-21M – sekitar 158 unit dan MiG-21bis – sekitar 220+ unit. Total unit MiG-21 (semua varian) yang dioperasikan India diperkirakan sekitar 872 unit, termasuk impor awal dari Soviet.
MiG-21 LanceR Rumania Scramble Kejar “UFO” – Jet Tempur Era Soviet dengan Teknologi Israel
MiG-21 Bison
Pada akhir 1990-an, Angkatan Udara India menyadari bahwa MiG-21 mulai ketinggalan zaman dan banyak mengalami kecelakaan. Namun, keterbatasan anggaran dan lambatnya pengadaan pesawat baru membuat mereka memilih untuk meng-upgrade MiG-21bis.
Dari kondisi di atas, para periode1996–2001, India bekerja sama dengan Rusia untuk menciptakan MiG-21 Bison, upgrade yang membuat MiG-21 bisa bertahan di medan tempur modern. Upgrade dilakukan di HAL pada sekitar 125 unit MiG-21bis, dengan peningkatan radar, avionik, kemampuan rudal R-77 (BVR), dan IFF modern.
Jadi Korban di Langit Kashmir, Inilah Sosok MiG-21 Bison yang Legendaris
Meski menyandang label battle proven, namun MiG-21 punya julukan yang tak enak didengar, yakni “Flying Coffin”, pasalnya secara statistik, MiG-21 telah mengalami lebih dari 400 kecelakaan di India sejak 1970-an, dengan setidaknya 200 pilot India tewas dalam kecelakaan MiG-21 selama 60 tahun pengoperasian. MiG-21 sempat mencatat rata-rata 1 kecelakaan fatal per 5.000 jam terbang, yang cukup tinggi dibanding standar modern.
Adapun penyebab kecelakaan pada MiG-21 umumnya terkait desain tua yang sulit dikendalikan oleh pilot muda, kemudian ada masalah pada engine flameout, sistem hidraulik, hingga kesalahan manusia. Tak bisa dikesampingkan adanya kesulitan dalam simulasi pelatihan transisi, karena pesawat tidak dirancang untuk pilot pemula. (Bayu Pamungkas)
Lawan F-16, Mengapa India Kerahkan MiG-21? Ini Kata KSAU India



Dah mampus ditembak jatuh F-16 pakai AMRAAM dari jarak jauh.Sebaiknya dipensiunkan saja pesawat jaman dinosaurus ini