Dassault Falcon 50 “Suzanna” – Jet Bisnis dalam Insiden USS Stark, Mampu Luncurkan Dua Rudal Anti Kapal AM-39 Exocet

Secara teori, dapat saja pesawat jet bisnis dipersenjatai, namun, faktanya tidak mudah untuk mengintegrasikan suatu jenis senjata, sebut saja rudal jelajah anti kapal kapal ke jet bisnis. Diperlukan biaya besar untuk modifikasi, pengujian sistem, sertifikasi sampai regulasi untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Dan salah satu jet bisnis yang mampu menorehkan ‘tinta emas’ dengan menjadi peluncur rudal anti kapal, adalah Dassault Falcon 50 buatan Perancis.

Baca juga: Hari ini dalam Sejarah, Frigat USS Stark Lumpuh Diserang Rudal Anti Kapal AM-39 Exocet

Falcon 50 produksi Dassault Aviation, adalah jenis pesawat jet bisnis bermesin triple jet yang populer di 80-90an. Debut Falcon 50 sebagai pelunncur rudal adalah tatkala pesawat jet bisnis yang dioperasikan Angkatan Udara Irak ini, terlibat sebagai eksekutor dalam serangan ke frigat AL AS USS Stark pada 17 Mei 1987 di Teluk Persia.

Insiden USS Stark merupakan pengalaman tak mengenakan yang menimpa Armada AL AS di era modern. USS Stark secara tak terduga mampu dilumpuhkan oleh dua rudal anti kapal AM-39 Exocet yang awal dikabarkan diluncurkan oleh dua jet tempur Mirage F1EQ-5 milik Angkatan Udara Irak.Akibat dari insiden serangan Exocet, sebanyak 37 personel AL AS tewas dan 21 lainya mengalami luka-luka.

USS Stark adalah bagian dari Middle East Task Force yang ditugaskan untuk berpatroli di lepas pantai Arab Saudi di dekat perbatasan Iran-Irak. Pada saat itu, Komando Pusat Amerika Serikat mengidentifikasi pesawat penyerang sebagai pesawat tempur Dassault Mirage F1 Irak.

Namun, laporan sebenarnya menegaskan bahwa pesawat penyerang adalah jet bisnis Dassault Falcon 50 yang telah dimodifikasi dengan radar dan cantelan rudal untuk membawa dua rudal AM-39 Exocet untuk operasi anti-kapal. Serangan oleh Falcon 50 jelas tidak diduga oleh awak USS Stark, mengingat identifikasi pada radar mengklasifikasikan Falcon 50 sebagai pesawat sipil.

Dassault Falcon 50 “Suzanna”

Sementara, Mirage F1EQ-5 yang dioperasikan Irak saat itu hanya mampu membawa satu unit Exocet dalam sekali terbang. Irak sebelumnya telah menggunakan jet Falcon yang dimodifikasi dengan tanda sipil untuk melakukan operasi intelijen dan pengintaian fotografi rahasia di Teluk Persia untuk menghindari kecurigaan.

Irak yang tidak berkonfrontasi dengan AS, kemudian menyebut bahwa insiden tersebut merupakan salah tembak. Otoritas militer Irak mengira bahwa USS Stark adalah kapal tanker Iran yang memasuki perairan eksklusif Irak. Lewat jalur negosiasi, akhirnya disepakati Irak memberikan santunan senila US$27,3 juta untuk keluarga korban insiden USS Stark.

Modifikasi Pada Falcon 50
Terlepas dari kontrversi atas fakta yang terjadi pada insiden USS Stark, yang menarik dipetik disini adalah kemampuan Dassault Aviation untuk melakukan modifikasi pesawat jet bisnisnya menjadi penempur yang mematikan.

Oleh Dassault Aviation, Falcon 50 dipasangi model hidung runcing khas Mirage F.1 yang berisi radar Cyrano — dan satu peluncur untuk rudal anti kapal AM-39 Exocet di bawah setiap sayap. Sepanjang tahun 1985 dan awal 1986, Direktur Departemen Intelijen Angkatan Udara Irak, Brigadir Jenderal Mudher al-Farhan, mengumpulkan intelijen tentang pekerjaan kapal tanker-antar-jemput Iran yang dioperasikan oleh kru yang terlatih khusus dan dikawal oleh kapal perang Angkatan Laut Iran.

Mirage-F.1-BQ Irak

Kemudian, Dinas Intelijen Irak menyediakan salah satu Dassault Falcon 50 jet untuk operasi klandestin yang tujuannya adalah untuk ‘memeriksa secara visual’ beberapa target di masa depan.

Hasil studi mengusulkan pemasangan radar Cyrano IV-C5 yang sama dan sistem kendali tembakan Mirage F.1EQ-5 ke Falcon 50. Pekerjaan modifikasi dilakukan di Perancis. Sebagai hasil dari negosiasi terkait, Falcon 50 dengan registrasi YI-ALE dikirim ke Perancis. Selama modifikasi di Villaroche, Falcon 50 Irak mempertahankan kontrol biasa di sisi kiri kokpit tetapi menerima kokpit lengkap dari F.1EQ-5 di sisi kanan.

Perubahan eksternal bahkan lebih dramatis, hidung aslinya diganti dan menerima hidung runcing khas Mirage F.1 yang berisi radar Cyrano. Dan paket persenjataan, berupa kemampuan meluncurkan dua unit rudal anti kapal AM-39 Exocet.

Setelah pengujian ekstensif di Perancis, Falcon 50 diterbangkan ke Irak pada 9 Februari 1987 dan ditugaskan ke layanan AU Irak. Oleh Dinas Intelijen Bagdad, pesawat tersebut dikenal dengan nama kodenya, “Suzanna”.

Setelah serangkaian penerbangan pelatihan, pada pagi hari tanggal 17 Mei 1987, kru Suzanna menerima perintah untuk memuat dua Exocet dan kemudian dipindahkan ke Pangkalan Udara Wanda untuk operasi di Teluk Persia.

Saat itu, rudal Exocet telah menjadi rudal anti kapal yang terkenal dan efektif, digunakan oleh banyak negara dan telah diintegrasikan ke dalam berbagai platform udara dan permukaan, termasuk pesawat tempur, helikopter, dan kapal.

Baca juga: AM-39 Exocet: Rudal Anti Kapal Yang ‘Batal’ Memperkuat TNI AL

Penggunaan rudal AM-30 Exocet dari pesawat jet bisnis Falcon menunjukkan fleksibilitas rudal tersebut untuk diangkut oleh platform yang berbeda, termasuk pesawat sipil yang dapat dimodifikasi untuk keperluan militer. Meskipun tidak umum, kasus ini menunjukkan bahwa dalam keadaan tertentu, rudal Exocet dapat diintegrasikan ke dalam pesawat jet bisnis tertentu untuk tujuan militer.

Sang algojo yang kondang sebagai alumni Perang Malvinas, AM-39 Exocet, punya bobot 670 kg dengan panjang 4,69 meter, diameter 350 mm, melaju dengan kecepatan subsonik dan terbang sea skimming, AM-39 punya jarak jangkau sejauh 70 km. (Gilang Perdana)

6 Comments