Soal Ancaman Nuklir, Ternyata Cina Lebih Khawatir Pada Kemampuan Pembom Lawas B-52 Stratofortress

Bukan oleh jet tempur stealth F-35 Lightning II dan F-22 Raptor, ternyata yang dianggap sebagai ancaman terbesar bagi Angkatan Bersenjata Cina adalah pembom strategis lawas berusia 70 tahun, yakni B-52 Stratofortress yang kerap digelar Angkatan Udara AS di kawasan Pasifik.

Baca juga: Pembom B-52H Mendarat di Kualanamu, Jadi Jenis Pembom Kedua AS yang Mendarat di Indonesia

Seperti dikutip South China Morning Post – scmp.com (21/5/2025), peneliti dari Angkatan Bersenjata Cina menilai peninggalan pembom dari era perang dingin B-52 dianggap sebagai ancaman nuklir yang lebih besar daripada F-35, F-22 atau pembom stealth B-2 Spirit.

Penilaian ancaman tersebut diungkapkan oleh tim peneliti Cina terhadap kemampuan militer AS dalam meluncurkan serangan udara nuklir taktis terhadap Cina, yang ternyata menghasilkan beberapa temuan yang tidak terduga.

Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Wang Bingqie dari PLA Air Force Early Warning Academy di Wuhan, pesawat pengebom B-52H Stratofortress berusia 70 tahun, peninggalan Perang Dingin, muncul sebagai ancaman utama di semua fase pertempuran, yang mencakup tahapan pengerahan, penetrasi, dan serangan akhir.

Respon Bila Perang dengan Cina, AS Tempatkan Enam Unit Pembom Strategis B-52 di Lanud Tindal

Hasil penelitian, yang mensimulasikan operasi penembusan udara – penetrating counterair (PCA) Angkatan Udara AS terhadap armada Angkatan Laut Tiongkok atau target darat, dipublikasikan pada hari Jumat di jurnal keamanan terkemuka Cina, Modern Defence Technology.

Strategi PCA didasarkan pada platform canggih seperti pesawat tempur siluman F-35A dan pesawat pengebom stealth B-2 Spirit – keduanya mampu membawa senjata nuklir – dan pesawat nirawak yang berkolaborasi dalam serangan sistem-sistem yang berjejaring.

Setelah Pembom B-52, Giliran Helikopter AKS Sikorsky CH-148 Cyclone Kanada ‘Dikepret’ Jet Tempur Cina Shenyang J-11

Makalah tersebut mencatat bahwa bom termonuklir taktis yang diluncurkan dari udara milik AS B61-12, yang masing-masing setara dengan 300 ton TNT, dapat digunakan untuk melumpuhkan fasilitas inti A2/AD (anti-access/area denial) dan simpul-simpul penting jika diperlukan.

“Platform bersenjata nuklir ini meningkatkan daya mematikan melalui gelombang ledakan, penetrasi radiasi, dan kontaminasi radioaktif, yang secara signifikan memperkuat daya rusaknya di luar efek fragmentasi dan penetrasi konvensional,” katanya.

B-52H diidentifikasi mampu membawa empat bom nuklir, lebih banyak daripada platform AS lainnya saat ini. Pembom ini telah mengalami modernisasi ekstensif, termasuk sistem radar canggih dan peningkatan peperangan elektronik terbatas. Para peneliti menyimpulkan bahwa B-52H harus dianggap sebagai platform ancaman tingkat atas dalam skenario serangan yang digerakkan oleh PCA.

Pembom B-52 Stratofortress Berbalut ‘Striping’ Oranye, Ada Apa?

Untuk mengurangi ancaman tersebut, peneliti merekomendasikan agar Cina meningkatkan jaringan peringatan dini, meningkatkan cakupan pengawasan, dan memperkuat sistem pertahanan udara, khususnya di sepanjang ‘koridor masuk’ yang potensial.

Cina juga mewaspadai upaya dari legislatif AS baru-baru ini untuk memulihkan kemampuan nuklir pada sekitar 30 unit B-52H, yang menunjukkan fokus Amerika yang berkelanjutan pada relevansi pembom strategis. Guna memperpanjang usia pengabdian hingga tahun 2050, pembom strategis B-52 Stratofortress akan menjalani Commercial Engine Replacement Program (CERP), yakni pemasangan mesin baru, Rolls-Royce F130, yang menggantikan mesin saat ini, Pratt & Whitney TF33- PW-103 yang digunakan sejak tahun 1960-an.

[the_ad id=”77299″]

Selain mendapatkan mesin baru, B-52J Stratofortress CERP juga memperbarui area dek penerbangan, penyangga dan nacelles. Lain dari itu, platform B-52H akan mengalami upgrade berupa pemasangan radar AESA APG-79 yang biasa digunakan pada jet tempur F/A-18E/F Super Hornet.

Salah satu senjata yang ditingkatkan dan ideal dapat diluncurkan B-52 adalah rudal AGM-183 Air-Launched Rapid Response Weapon (ARRW) yang punya kecepatan hipersonik – serta senjata nuklir barunya, AGM-181 Long Range Stand Off Weapon (LRSO). Tetapi dalam anggaran 2024, Angkatan Udara mengatakan akan “menutup” program setelah keputusan pengalihan program ke Hypersonic Attack Cruise Missile (HACM). (Gilang Perdana)

Setelah Upgrade dengan Mesin dan Radar Baru, Pembom B-52H Berubah Kode Varian Jadi B-52J Stratofortress