Rusia Waspada, Ukraina Luncurkan “Flamingo” – Rudal Jelajah Berhulu Ledak Satu Ton dengan Jangkauan 3.000 Km

Sistem pertahanan udara Rusia harus ekstra waspada, khususnya setelah pihak Ukraina merilis videpo propaganda atas suksesnya uji coba peluncuran rudal jelajah jarak jauh. Bukan sembarang jarak jauh, rudal yang diberi nama “Flamingo” diklaim mampu menjangkau sasaran 3.000 kilometer, yang artinya dapat menyerang jauh ke wilayah Rusia.
Keberadaan Flamingo pertama kali diungkapkan jurnalis foto Associated Press, Efrem Lukatsky, lewat sebuah unggahan di Facebook. Bersamaan dengan foto yang menyertainya dan klaim jangkauan yang disebutkan juga disebutkan, Ia menyatakan bahwa rudal tersebut sedang diproduksi massal melalui sebuah perusahaan Ukraina bernama Fire Point.
Kemudian, media Ukraina, Ukrainska Pravda merilis dua video Flamingo yang diluncurkan dengan booster dari rel yang dipasang pada trailer. Rudal-rudal tersebut terlihat menanjak tajam tepat setelah peluncuran. Klip video yang diposting, dikatakan menunjukkan rudal-rudal tersebut digunakan dalam serangan real terhadap Rusia.
Laporan Ukraineska Pravda mengatakan bahwa hulu ledak Flamingo mencapai 1.150 kilogram. Detail lain tentang Flamingo, termasuk bagaimana rudal tersebut diarahkan ke sasaran masih sedikit.

The War Zone menyebut, desain Flamingo sangat mirip, bahkan mungkin identik, dengan desain rudal jelajah FP-5 yang sebelumnya dipamerkan oleh Milanion, sebuah perusahaan yang berbasis di Uni Emirat Arab. Perusahaan yang sama ini sebelumnya telah memasok material untuk angkatan bersenjata Ukraina. Belum diketahui apakah “FP” dalam FP-5 merupakan singkatan dari Fire Point.
Milanion menyatakan bahwa FP-5 juga memiliki jangkauan 3.000 kilometer. Lembar fakta di situs web perusahaan, yang ditampilkan di bawah ini, juga mencantumkan kecepatan tertinggi 950 kilometer per jam., dan kecepatan jelajah 850–900 kilometer per jam.
First footage of Ukraine’s Flamingo cruise missile tests released. Media report specs: range up to 3,000 km, 1,000 kg warhead, speed up to 950 km/h. Resistant to EW and can be mass-produced. pic.twitter.com/39mfF2MUbR
— NOELREPORTS 🇪🇺 🇺🇦 (@NOELreports) August 18, 2025
Bicara tentang sistem pemandu, Milanion mengatakan FP-5 menggunakan kombinasi berbagai metode, termasuk berbagai jenis navigasi satelit. Perusahaan tersebut mengatakan rudal tersebut dirancang agar tahan terhadap serangan peperangan elektronik. Sistem navigasi inersia yang mendasarinya kemungkinan akan tersedia.
Desain FP-5 terbilang sangat besar, dengan lebar sayap enam meter dan berat lepas landas maksimum 6.000 kilogram, serta sebuah hulu ledak seberat satu ton. Lembar fakta tersebut juga memuat rendering rudal yang disiapkan untuk diluncurkan dengan trailer dua poros.
The “Flamingo” appears similar to the Milanion FP-5 concept ground-launched cruise missile with these specs:
– Range = 3,000 km (1,869 mi);
– Speed = 950 km/h (600 mph);
– Max altitude = 4,000 m (13,000′);
– Payload = 1,000 kg (2,200 lbs);
– Guidance = GPS/GNSS ANTI-JAM CRPS,… pic.twitter.com/Z06cQUliW6— OSINT Intuit 🇺🇸 🇨🇦 🇬🇧 🇺🇦 🇮🇱 🇬🇪 (@UKikaski) August 17, 2025
Meski identik dengan FP-5, namun Flamingo juga ada kemiripan dengan drone intai era Uni Soviet, Tupolev Tu-141 atau Tu-143, yang keduanya pernah digunakan Ukraina sebagai ‘drone kamikaze’ ke pangkalan udara (lanud) Rusia, Engels dan Dyagilevo, pada 5 Desember 2022.
Lanud Engels dan Dyagilevo adalah basis pembom strategis jarak jauh yang digunakan dalam misi serangan udara ke Ukraina. Pangkalan udara di Engels — juga dikenal sebagai Engels-2 — di wilayah Saratov adalah Pangkalan Penerbangan Jarak Jauh utama Rusia di bagian barat negara itu, dan bejarak sekitar 482 kilometer dari perbatasan Ukraina.
[the_ad id=”77299″]
Tu-141/143 dengan kode Reys adalah drone intai, yang menjalankan tugas intai dengan cara mengambil gambar dengan kamera, yang hasilnya baru diproses setelah drone kembali ke ‘markas’. Ditenagai mesin turbojet berkekuatan 590 kilogram, Tu-143 mampu melesat hingga kecepatan 950 km per jam.
Sementara jarak jelajah drone ini sejauh 200 kilometer dan punya ketinggian terbang sampai 5.000 meter. Hingga kini varian Tu-143 masih digunakan oleh Rusia dan Ukraina, namun difungsikan sebagai target drone. (Gilang Perdana)
Dua Pangkalan Udara Pembom Strategis Rusia Diserang Drone ‘Kamikaze’ Bertenaga Jet era Soviet



hati hati. pertemuan presiden putin dgn trump, sebenarnya bisa nmny strategi US. padahal bnyk termasuk US/Nato sudah tahu ukraine sedang mempersiapkan menghancurkan kota rusia dengan rudal tsb dan rencana serangan lainnya.. siapa tidak mau militer rusia terlalu dekat pada eropa dan kekuatan rusia menandingi kkuatan US ?