Masa Depan Proyek FCAS Terancam, Dassault dan Airbus Defence Berbeda Pandangan Soal ‘Porsi Kerja’

Masih jauh dari jadwal penerbangan perdana, proyek jet tempur generasi keenam tiga negara Eropa, FCAS (Future Combat Air System) terancam kelanjutannya. Selama pameran dirgantara Paris Airshow 2025 (16 – 22 Juni 2025), mencuat sengketa signifikan antara Airbus Defence and Space (ADS) dan Dassault Aviation terkait FCAS.

Baca juga: Perancis dan Jerman Beda Pandangan Tentang Proyek Jet Tempur Masa Depan – FCAS/SCAF

Proyek FCAS adalah koalisi pertahanan multi-nasional (Perancis–Jerman–Spanyol) dengan model 1/3–1/3–1/3 dalam pengambilan keputusan. Menurut CEO Dassault Éric Trappier, ini menyebabkan masalah operasional, yakni Perancis yang merasa sebagai negara penggerak utama hanya memiliki 1/3 suara saja, sehingga bisa terkendala oleh suara Jerman dan Spanyol.

Ia menekankan bahwa Dassault harus berperan sebagai prime kontraktor, bukan hanya penyedia bagi ADS.Éric Trappier mendesak adanya perubahan tata kelola agar Perancis dan Dassault memiliki leverage lebih besar, utamanya di pengembangan NGF (next generation fighter)

Sebaliknya, CEO Airbus Defence and Space, punya pendapat berbeda. Ia menilai struktur FCAS perlu dipertahankan karena merefleksikan kesetaraan negara mitra. Lebih lanjut Ia menyatakan bahwa polemik ini bukan sekadar industrial, tapi memerlukan intervensi politik untuk menyelamatkan proyek.

Sengkarut pendapat antara Dassault dan ADS telah membawa dampak buruk,, sebut saja Phase 1B (rancang dan desain) telah diundur berkali-kali — awalnya dirancang selesai akhir 2025, tapi sempat mundur ke 2026–2027 . Risiko real delay pada Phase 2 (prototipe uji terbang), yang rencana first flight pertama diundurkan dari 2028 ke 2029 atau lebih. Kabarnya isu ini bakalan dituntaskan sebelum akhir tahun agar lelang Phase 2 bisa dimulai, kalau tidak, resiko besar untuk keberlangsungan FCAS akan mengancam.

Meski Airbus Defence and Space (ADS) punya akar di Perancis, Jerman, dan Spanyol. Namun, dalam konteks proyek FCAS, konflik internal lebih terkait posisi “nasional” dan peran industri strategis, bukan sekadar asal negara perusahaan. Dalam proyek FCAS, Airbus Defence and Space yang berbasis di Jerman (dan sebagian Spanyol) menjadi lead contractor dari pihak mereka.

Sementara Dassault Aviation adalah perusahaan kedirgantaraan milik keluarga, dengan saham 24,6% dimiliki negara pemerintah Perancis, dan selama ini selalu menjadi lead developer jet tempur Perancis, dari Mirage sampai Rafale. Maka tak heran dalam proyekl FCAS, Perancis ingin mempertahankan dominasi teknis, terutama pada NGF (Next Generation Fighter), cockpit design, flight control system dan stealth shaping.

Pada tahun 2017, inisiatif FCAS dimulai oleh Perancis (Dassault) dan Jerman (Airbus Defence and Space) sebagai respons terhadap kebutuhan pesawat tempur generasi ke-6 untuk menggantikan Rafale dan Eurofighter Typhoon. Perancis menunjuk Dassault Aviation sebagai lead untuk NGF (Next Generation Fighter), inti dari sistem FCAS.

Kemudian di tahun 2019, Spanyol resmi bergabung dalam FCAS, dan berlaku model pembagian kerja jadi 1/3 – 1/3 – 1/3 antar negara, berlaku pula untuk industri masing-masing, Dassault (Perancis), Airbus Defence and Space (Jerman + Spanyol), Indra (Spanyol).

[the_ad id=”77299″]

Namun, mulai tahun 2021, Dassault menyuarakan frustrasi terhadap pembagian kerja yang terlalu setara, menganggap pengalaman mereka dalam jet tempur (Rafale, Mirage) lebih kuat. Sementara Airbus mendorong agar pengembangan teknologi utama dibagi rata, khususnya dalam desain flight control, manajemen misi, dan stealth. Dan terjadilah kebuntuan mengenai fase demonstrator (Phase 1B), membuat program hampir terhenti. (Bayu Pamungkas)

Jadi ‘Launcher’ Remote Carriers, Inilah Peran Airbus A400M di FCAS

5 Comments