Lepas Ketergantungan Impor, DPR Dorong Sinergi BUMN-Swasta Perkuat “Otot” Industri Pertahanan

Komisi I DPR RI menegaskan bahwa kemandirian industri pertahanan dalam negeri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis untuk menjaga kedaulatan negara. Dukungan kebijakan yang konsisten, anggaran berkesinambungan, serta sinergi antara BUMN dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) menjadi kunci utama mewujudkan ketahanan nasional yang mandiri.
Baca juga: Kemandirian Industri Pertahanan: Pilar Kedaulatan yang Tak Boleh Berhenti di Perakitan
Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, menyatakan bahwa pemerintah memegang peran sentral dalam membangun ekosistem ini. Menurutnya, industri pertahanan harus menjadi motor penggerak kemandirian bangsa melalui dukungan kebijakan fiskal dan penguatan riset.
“Sektor ini adalah bagian penting dari strategi besar kemandirian kita. Dibutuhkan kebijakan strategis, mulai dari konsistensi implementasi UU No. 16 Tahun 2012 hingga optimalisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada setiap pengadaan alutsista,” ujar Dave pada Rabu (11/2/2026).
Bukan Sekadar Perakitan, Tapi Penguasaan Teknologi
Dave menekankan pentingnya Roadmap jangka panjang yang terintegrasi antara Kementerian Pertahanan, BUMN, swasta, dan lembaga riset. Ia menggarisbawahi bahwa skema Transfer of Technology (ToT) harus terukur dan mendalam.
“Target kita bukan sekadar perakitan, tetapi penguasaan desain dan rekayasa (engineering). Pemerintah kini mulai mengarahkan anggaran tidak hanya untuk belanja operasional, tetapi juga penguatan pengembangan industri melalui skema pembiayaan campuran antara pemerintah, BUMN, dan mitra swasta,” tambahnya.
Beberapa proyek strategis seperti kapal perang, kendaraan tempur, hingga pesawat angkut kini mulai memperkokoh fondasi industri nasional. Meski tantangan komponen tertentu masih ada, kemampuan PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL dalam memproduksi alutsista dengan kandungan lokal yang tinggi membuktikan arah kemandirian yang semakin nyata.
Peran Krusial Sektor Swasta: NKRI dan Republik Defensindo
Kemandirian ini juga didorong oleh munculnya pemain swasta nasional yang kompeten. Dave menyoroti kontribusi PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) di Bandung. Sebagai perusahaan swasta berlisensi resmi Kemhan, PT NKRI berperan vital memproduksi komponen mekanik presisi untuk pesawat, kapal, hingga selongsong peluru.
Tak Lagi Comot Desain VAB MK3, PT Pindad Luncurkan Prototipe Anoa 3 APC 6×6 dengan Desain Original
“Kehadiran pabrik seperti NKRI mengurangi ketergantungan kita pada pemasok luar negeri, sekaligus memastikan anggaran pertahanan tetap berputar di dalam negeri,” jelas Dave.
Selain itu, PT Republik Defensindo juga muncul sebagai pemain strategis yang memproduksi rantis 4×4 hingga prototipe kendaraan amfibi. Kolaborasi mereka dengan BUMN dalam membangun fasilitas produksi amunisi terpadu menunjukkan bahwa swasta nasional kini mampu masuk ke sektor krusial seperti munisi.
Tantangan Teknologi Tinggi dan Dukungan Finansial
Senada dengan Dave, Anggota Komisi I DPR, Oleh Soleh, menjelaskan bahwa tren anggaran beberapa tahun terakhir memang fokus pada modernisasi alutsista melalui skema kreatif seperti Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
“Namun, kita harus dorong agar pembiayaan ke depan lebih besar untuk kapasitas produksi nasional dan investasi teknologi, bukan sekadar membeli produk jadi,” tegas politisi asal Jawa Barat XI tersebut.
Strategi Pertahanan Era Prabowo: Perkuat Rantai Pasok Alutsista dan Kurangi Ketergantungan Impor
Oleh Soleh mengakui Indonesia sudah mandiri untuk kendaraan taktis dan kapal patroli. Namun, untuk teknologi tinggi seperti radar canggih dan jet tempur generasi terbaru, kolaborasi internasional masih diperlukan. Ia juga menyoroti pentingnya peran perbankan nasional dalam mendukung sektor strategis ini.
“Industri pertahanan butuh pembiayaan jangka panjang dengan risiko terukur. Sinergi rantai pasok antara BUMN dan BUMS harus diperluas agar industri ini tidak hanya bertumpu pada segelintir perusahaan besar saja, tapi menjadi ekosistem yang kuat,” tutupnya. (IM)
Bukti Kemandirian, PT Len Industri Pasok Tactical Data Link untuk TNI AL dan TNI AU



Satu kata, saatnya berubah! 👍
berita yang muncul lebih sering yang model begini deh rasa²nya, ngga yang aksi nyata langsung semisal “pembangunan pabrik semikonduktor” atau “program peningkatan kualitas baja agar sesuai standar militer”, dsb, meski bukan tidak ada samsek sih, semisal proyek FMP