Kurangi Ketergantungan Impor, BUMN dan BUMS Sinergi Wujudkan Kemandirian Industri Pertahanan Nasional

Industri pertahanan Indonesia terus didorong menuju kemandirian agar tidak lagi bergantung pada pihak asing. Untuk itu pemerintah menargetkan agar pengadaan alat pertahanan tertentu dapat sepenuhnya dipenuhi oleh industri dalam negeri. Hal ini meliputi produksi senjata ringan, seperti pistol dan senapan serbu secara lokal, pemeliharaan serta produksi suku cadang di dalam negeri, hingga dukungan pendanaan yang kuat melalui anggaran pertahanan besar dan peran lembaga keuangan pemerintah.

Baca juga: Masih Gunakan Mesin Produksi Tahun Enam Puluhan, Pindad Jual Munisi 5,56mm Rp4.200 Per Butir

Kemandirian produksi senjata ringan seperti senapan serbu dan pistol telah dicapai, sehingga pengadaan kategori ini tidak lagi memerlukan impor dari luar negeri.

Salah satu tonggak kemandirian industri pertahanan Indonesia adalah kemampuan memproduksi senjata ringan (small arms). PT Pindad (Persero), sebagai BUMN industri pertahanan utama, telah mengembangkan dan memproduksi berbagai pistol dan senapan serbu yang memenuhi kebutuhan TNI/Polri. Contohnya, pistol G2 dan senapan serbu SS1/SS2 buatan Pindad sudah digunakan luas oleh satuan dalam negeri, sehingga kebutuhan impor untuk jenis senjata ini dapat dikurangi bahkan dihentikan.

Eks Wakil Menteri Pertahanan M. Herindra secara tegas mengusulkan agar impor peluru kaliber kecil, pistol, dan senapan buatan luar negeri dihentikan, karena industri pertahanan dalam negeri telah mampu menyuplai kebutuhan tersebut. Ia mengatakan industri pertahanan dalam negeri, misalnya PT Pindad, saat ini mampu memproduksi peluru-peluru kaliber kecil misalnya yang berukuran 5,56 mm dan 7,62 mm.

Amankan Ruang Udara IKN, PT Pindad Perkenalkan Sistem Hanud Anti Drone SPS-1 dan Maung MV3 Mobile Jammer

“Stop kalau perlu, saya sampaikan end user (pengguna akhir/pembeli) saya lihat izin impor lagi, kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, masa sih kita tidak bisa (membeli dari dalam negeri)? Kalau untuk pasukan khusus boleh lah,” kata Wamenhan M. Herindra di hadapan beberapa pejabat TNI, Polri, Bakamla, dan instansi lainnya saat Rapat Pleno KKIP November lalu.

Herindra menjelaskan pembelian produk-produk pertahanan, misalnya peluru dan pistol buatan dalam negeri, itu penting, karena mendukung upaya membangun kemandirian industri pertahanan di tanah air.

Herindra lanjut mencontohkan produk pistol G2 buatan Pindad. “Kita berharap pistol G2 mau dipakai Filipina, (itu dapat terwujud) kalau kita pakai, nanti (mereka) baru pakai SS1 dan SS2, anggota kita sudah banyak yang pakai dan beberapa kali memenangkan turnamen, sehingga mendapatkan kredit poin,” kata Herindra mencontohkan pentingnya menggunakan senjata-senjata buatan dalam negeri, misalnya senapan serbu SS1 dan SS2.

Pindad AM1 – Senapan Serbu Terbaru dari Desain AR15/M4, Punya Bobot Lebih Ringan dari SS2

Upaya kemandirian di bidang pemeliharaan juga ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas fasilitas perawatan TNI dan BUMN industri pertahanan. PT Dirgantara Indonesia (PT DI) misalnya, memperkuat layanan MRO (maintenance, repair, overhaul) untuk pesawat angkut dan helikopter TNI, sehingga perawatan berkala dapat dilakukan domestik.

Demikian pula, PT PAL Indonesia telah mendapatkan transfer teknologi untuk perawatan kapal perang (termasuk kapal selam hasil kerja sama) agar docking dan overhaul bisa ditangani di galangan dalam negeri. Semua inisiatif ini menurunkan kebutuhan keterlibatan teknisi asing dalam menjaga kesiapan alutsista TNI.

Lengkapi Fasilitas Pembangunan Kapal Selam, PT PAL Indonesia Gandeng Dua Mitra Strategis

Pemerintah pun mendorong kolaborasi antara BUMN dan BUMS pertahanan. Sebagai contoh, Pindad pada Indo Defense 2022 menjajaki kerja sama dengan Republic Armamen Industry bagian dari grup Republik (yang juga menaungi PT RDI) dalam pengembangan senapan serbu bullpup kaliber 5,56 mm IFAR 22 dan komponen suku cadangnya.

Dengan kata lain, Indonesia berusaha keras memastikan siklus hidup alutsista dari pengadaan, operasional, hingga perawatan bisa ditangani sendiri oleh industri dan SDM nasional. Dengan kemampuan ini, perbaikan dan produksi suku cadang dapat dilakukan di dalam negeri tanpa perlu mendatangkan teknisi atau komponen dari luar.

IFAR 22 – Senapan Serbu Bullpup Produksi Batam, Resmi Diluncurkan di Indo Defence 2022

Selain BUMN, keterlibatan industri pertahanan swasta (Badan Usaha Milik Swasta, BUMS) kian menonjol dalam upaya mewujudkan kemandirian alutsista. Sebagai contoh, PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad, menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.

“Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur,” jelas Direktur Operasi PT NKRI, Agus Prihanto.

PT NKRI berperan sebagai produsen komponen dan sub-assembly pertahanan dalam negeri dan fokus memproduksi komponen senjata dan amunisi serta bagian-bagian presisi untuk berbagai platform (darat, laut, udara). “Kami juga membantu memenuhi kebutuhan suku cadang lokal untuk Pindad, PT DI, PT PAL, dan perusahaan pertahanan lain tanpa harus mengimpor. Dengan modal dan tenaga ahli dalam negeri,” katanya.

Sementara itu, PT Republik Defensindo (sering disingkat PT RDI) menonjol dalam kapasitas sebagai mitra lokal untuk pengembangan alutsista berteknologi tinggi melalui kerja sama internasional. Perusahaan ini bergerak di industri pertahanan dan juga berperan sebagai mitra perusahaan luar yang ingin memproduksi alat pertahanan di Indonesia. Salah satu pencapaian penting PT RDI adalah produksi bersama (joint production) sistem roket multiple launcher RM-70 Vampire kaliber 122mm asal Ceko.

Mulai Tahun ini, MLRS RM70 Vampire Akan Diproduksi di Batam

Pada pameran IDEX 2021 di Abu Dhabi, PT Republik Defensindo menandatangani kesepakatan dengan Excalibur Army (Ceko) untuk memproduksi lokal peluncur roket RM-70 Vampire di Indonesia (Batam) disertai transfer teknologi.  Produksi dimulai tahun 2021 dan mencakup berbagai varian platform (4×4, 6×6, 8×8) dengan sasis truk Tatra, ditujukan bagi kebutuhan TNI serta potensi ekspor. Kerja sama ini menunjukkan bagaimana perusahaan swasta Indonesia dapat mengambil alih peran yang dulunya dilakukan pihak asing, yakni dengan menjadi manufaktur lokal alutsista canggih.

PT RDI juga terlibat sebagai perantara lokal dalam pengadaan persenjataan berteknologi tinggi untuk TNI. Pada Januari 2024, misalnya, Kementerian Pertahanan menunjuk PT RDI sebagai penerima kontrak untuk pengadaan 45 rudal anti-kapal Atmaca dari Turki, menjadikan Indonesia pengguna ekspor pertama rudal tersebut. PT RDI berperan memastikan alih teknologi peluncur dan integrasi sistem senjata tersebut ke platform TNI AL berjalan mulus, sekaligus membangun kapasitas kemandirian di bidang rudal.

Kolaborasi seperti di atas disebut mampu mempercepat inovasi alutsista lokal dan memperluas kapasitas industri secara menyeluruh.  Dengan semakin aktifnya BUMS Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada produsen asing, baik dalam penyediaan komponen, platform senjata, maupun teknologi kritikal. (IM)

PT Pindad Tuntaskan Pengembangan Roket MLRS R-Han 122B

3 Comments