Lebih Pas Disebut Sebagai LPD atau LHD, Ini Sebab JS Osumi (4001) Justru Diberi Label ‘Landing Ship Tank (LST)’

Setelah mengunjungi Indonesia di tahun 2018, kini JS Osumi (4001) kembali ke Indonesia, yakni terkait misi Jepang dengan gelaran latihan militer multilateral Super Garuda Shield 2025. Meski profil JS Osumi pernah kami kupas di artikel terdahulu, namun masih ada sisi menarik dari kapal pendarat ini, salah satunya adalah label yang disematkan sebagai LST (Landing Ship Tank).
Baca juga: JS Osumi – ‘Pesaing’ Mistral Class dalam Multilateral Naval Exercise Komodo 2018
JS Osumi, beserta dua sister ship lainnya, JS Shimokita (4002) dan JS Kunisaki (4003), diberi label sebagai LST oleh Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF). Namun, sebagai LST, JS Osumi terasa tak lazim. Pasalnya pakem LST umumnya dilengkapi dengan pintu rampa (ramp door) di bagian depan haluan, yang biasa digunakan untuk peluncuran (debarkasi) ranpur amfibi dari lautan atau pesisir.
Sementara, JS Osumi tidak dirancang dengan ramp door di bagian haluan depan. Faktanya, JS Osumi desainnya justru lebih mirip Landing Platform Dock (LPD) atau Landing Helicopter Dock (LHD), yang jalur akses keluar masuk rannpur amfibinya mengandalkan well dock dengan stern ramp di bagian buritan.

Dibangun oleh Mitsui Engineering and Shipbuilding di Tamano, JS Osumi ternyata desain fundamentalnya berbeda dengan LST pada umumnya. Perbedaan utama ini dikarenakan JS Osumi sebenarnya memiliki desain yang lebih mirip dengan LPD dan LHD.
Berbeda dengan filosofi LST tradisional, yang dirancang untuk bisa mendarat langsung di pantai (beaching) dengan menggunakan pintu rampa di bagian depan untuk menurunkan kendaraan dan pasukan. Namun, desain JS Osumi mengadopsi pendekatan yang berbeda. Kapal ini tidak dirancang untuk mendarat langsung di pantai. Sebaliknya, kapal ini beroperasi dari jarak aman di lepas pantai dan menggunakan metode pendaratan yang lebih modern.

Alih-alih pintu rampa haluan, JS Osumi dilengkapi dengan well deck (dok basah) yang besar di bagian belakang (buritan). Well deck ini adalah ruang yang dapat diisi dengan air, memungkinkan kapal pendarat, seperti LCAC (Landing Craft Air Cushion/hovercraft), untuk masuk dan keluar dari kapal.
Lain hal dengan LST tradisional (seperti Teluk Bintuni class), JS Osumi memiliki karakteristik yang membuatnya tampak seperti kapal induk helikopter atau LHD. JS Osumi memiliki dek penerbangan (flight deck) yang sangat besar dan rata, membentang hampir di sepanjang kapal. Dek ini mampu menampung dan mengoperasikan beberapa helikopter, termasuk helikopter angkut berat seperti CH-47 Chinook.
Keberadaan dek yang besar ini menyiratkan bahwa kapal ini dirancang untuk mendukung operasi pendaratan vertikal, di mana pasukan dan kendaraan diangkut langsung dari kapal ke daratan menggunakan helikopter, yang merupakan salah satu fungsi utama LHD modern.

Mengapa Tetap Disebut Sebagai LST?
Klasifikasi resmi sebagai LST (Landing Ship Tank) lebih merupakan keputusan politik daripada teknis. Berdasarkan konstitusi pasca-Perang Dunia II, Angkatan Laut Bela Diri Jepang (JMSDF) hanya diperbolehkan memiliki kemampuan militer untuk pertahanan diri.
Kapal yang secara eksplisit dikategorikan sebagai “kapal induk” atau “LHD” dapat dianggap sebagai kapal proyeksi kekuatan ofensif, yang bertentangan dengan prinsip konstitusi Jepang. Dengan menyebut JS Osumi sebagai LST, pemerintah Jepang menghindari kontroversi tersebut meskipun kapal ini memiliki kemampuan yang jauh lebih maju daripada LST tradisional.

Secara singkat, JS Osumi adalah kapal dengan desain hibrida. Meskipun secara formal diklasifikasikan sebagai LST, kemampuannya, terutama dengan adanya well deck dan dek helikopter yang luas, menempatkannya secara operasional setara dengan LPD atau LHD yang lebih ringan, menjadikannya aset multi-peran yang sangat serbaguna. Delapan helikopter ukuran medium dapat disiapkan di atas flight deck.
JS Osumi memiliki hanggar yang cukup besar yang terletak di bawah dek penerbangan. Ruang hanggar ini memungkinkan helikopter untuk disimpan dan dirawat dengan aman. Kapal ini juga dilengkapi dengan elevator berukuran besar yang berfungsi untuk mengangkut helikopter dari hanggar ke dek penerbangan dan sebaliknya, memudahkan operasional yang cepat.
Dari spesifikasi, JS Osumi punya panjang 178 meter, lebar 25,8 meter, dan berat penuh 14.000 ton. Jumlah awak inti kapal JS Osumi adalah sekitar 135 personel. Angka ini tidak termasuk pasukan tambahan yang mungkin diangkut selama operasi, yang bisa mencapai 330 orang, serta personel untuk mengoperasikan helikopter dan kendaraan amfibi LCAC.

JS Osumi tidak dilengkapi dengan persenjataan berat untuk serangan. Persenjataannya hanya ditujukan untuk pertahanan diri (self-defense), berupa dua unit kanon laras putar Phalanx CIWS (Close-in Weapon System) kaliber 20 mm dan dua unit kanon 25 mm untuk pertahanan terhadap kapal permukaan kecil dan ancaman lainnya di dekat kapal. (Gilang Perdana)
.



ya ini LST karena paling atas dikasih kosong tanpa atap. lbh banyak lagi menampung kendaraan non heli.. jadi lbh ringan tapi kuantitas lebih banyak. LST konvensional biasanya bnyk kendaraan di dalam perut kapal. jadi tampungan terbatas. padahal di atas permukaan kapal bisa dikikis untuk daratan buat tampungan banyak kendaraan..
OSUMI CLASS tidak mungkin disebut LPD Apalg LHD.
sebab tdak memiliki HANGAR layaknya LPD & LHD…. CUMA BISA BAWA HELIKOPTER DI DEVI SAJA, SEDANGKAN ELEVATOR CUMA BISA mengangkut TRUCK, atau RANTIS tdak bisa membawa HELIKOPTER
JADI itu sebabnya JEPANG nyebutnya LST, walaupun dia punya sumur basah n ramp door
Boleh tuh ide akal-akalannya kita tiru.
Misalnya saya punya ide ada kapal dinamai jenisnya sebagai Patrol Transport Ship tapi bentuknya LHD atau Kapal Induk gitu. Yang patroli siapa? Ya pesawat atau drone atau helikopter atau usv yang diangkut oleh kapal tersebut. Kalo orang sebut itu sebagai LHD atau Aircraft Carrier maka kita tolak dengan menyebutnya sebagai Kapal Angkut Patroli (Patrol Transport Ship).
Asyik kan ?
Hihihihi.
Jepang dari dulu suka mengakali kondisi yg tidak menguntungkan bagi postur militer dengan mengembangkan strategi dan skema tertentu untuk membuatnya lebih kuat. Dulu sudah ada yg namanya traktat Washington dan London untuk membatasi tonase kapal penjelajah hingga 35.000 ton dan membatasi jumlah total tonase kapal perang USA-UK, Jepang, Itali dan Prancis yaitu 5:3,5:1
Perjanjian tersebut diakali oleh Jepang dengan membuat hull kapal penjelajah untuk dibuat kapal induk yg ternyata kemudian menentukan jalannya perang.
Jepang sekarang juga membuat kapal induk yg disebut Destroyer Helikopter untuk Izumo Class dan kapal penjelajah yg disebut destroyer rudal pemandu pada kelas Atago dan Maya. Kedepan mereka akan membuat Kapal perang dengan bobot 20.000 ton dan memiliki 128 VLS, jauh lebih banyak dan lebih berat dari Type 055 Renhai Class milik China yg hanya berbobot 13.000 ton dan 112 VLS. Mungkin kapal perang terbaru Jepang akan dinamai JS Musashi dan JS Yamato