Kinerja Senjata Laser Anti Drone Memble di Iklim Panas Arab Saudi, Ini Sebabnya!

Selain Iran, Arab Saudi rupanya menjadi negara di Timur Tengah yang ikut mengadopsi sistem hanud (pertahanan udara) berbasis laser – Laser Bsed Air Defense Systems buatan Cina, Bila Iran diketahui telah menggelar Shen Nung (Shennong) 3000, yakni jenis senjata laser anti drone – laser directed energy weapon, maka Arab Saudi disebut telah menggunakan SkyShield Integrated Counter Drone System.
Sistem SkyShield menggunakan pendekatan berlapis yang menggabungkan radar anti drone dengan opsi “hard kill” dan “soft kill”. Setiap baterai (kompi) terdiri dari lima kendaraan – yaitu kendaraan dengan radar TWA 3D, kendaraan dengan radar anti-drone AESA (Active Electronically Scanned Array) dengan tiga panel samping yang menyediakan cakupan 360 derajat tanpa rotasi, dan dua kendaraan pengacau (jammer) anti-drone JN1101, yang dilengkapi kemampuan intersepsi dan pengacauan elektronik, dan kendaraan eksekutor Silent Hunter Laser Directed-Energy Weapon, yang ditujukan untuk penghancuran langsung drone.
Kombinasi dari radar TWA 3D dan radar AESA, menyediakan data penargetan untuk elemen pengacau (jammer) dan laser, mengintegrasikan sistem ke dalam satu paket sistem pertahanan yang terintegrasi.

Dikutip dari Defence Blog, Arab Saudi mengakuisisi SkyShield Integrated Counter Drone System sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk melawan ancaman serangan udara dari wahana tak berawak terhadap infrastruktur penting. Sistem ini dikerahkan dengan bantuan dari spesialis dari Cina, dan demonstrasi awalnya menunjukkan hasil yang memuaskan.
Namun, seorang mantan perwira militer Saudi yang mengoordinasikan proyek tersebut mengatakan kinerjanya belum memenuhi harapan dalam kondisi operasional.

“Meskipun kinerja yang kuat ditunjukkan selama uji coba, dalam kondisi nyata, komponen SkyShield memiliki efektivitas yang lebih rendah daripada yang dijanjikan,” ujarnya.
Laser Silent Hunter, yang dikembangkan oleh China Electronics Technology Group Corporation (CETC), kinerjanya sangat dibatasi oleh faktor lingkungan.
“Dalam beberapa kasus, dibutuhkan waktu antara 15 dan 30 menit penargetan dan penyinaran laser yang terus-menerus untuk menjamin keberhasilan untuk menjatuhkan drone,” jelas perwira tersebut. Debu dan pasir ternyata mengganggu kemampuan pelacakan optik dan melemahkan sinar laser. Paparan laser berkelanjutan juga menyebabkan abrasi pada sistem optik, sementara panas gurun yang tinggi memaksa sebagian besar daya sistem digunakan untuk pendinginan, alih-alih menembak.
Jepang Pamerkan Senjata Anti Drone High Power Laser Weapon dengan Daya 10 kW
Menerapkan modul laser dari kontainer yang terpasang di truk juga membutuhkan waktu, memperlambat transisi dari mode siaga ke mode tempur. Selain itu, penggelaran senjata laser membutuhkan medan yang panjang dan datar untuk mendapatkan garis pandang yang jelas, kondisi yang sulit dijamin di sebagian besar wilayah Arab Saudi.
Bila kinerja senjata laser kurang memuaskan, sebaliknya, elemen pengacau (jammer) SkyShield terbukti lebih andal. Keterangan dari perwira Arab Saudi menyebut bahwa “sebagian besar drone yang terlibat di zona pertahanan dinetralkan bukan oleh Silent Hunter, melainkan oleh sistem anti drone JN1101.”
Atas temuan yang ada, para pejabat Saudi telah meminta Beijing untuk menyempurnakan SkyShield agar dapat digunakan di iklim panas dan berdebu. Hingga penyempurnaan tersebut dilakukan, laser Silent Hunter masih terbatas untuk penggunaan berkelanjutan.
Pengalaman ini menunjukkan potensi sekaligus keterbatasan senjata laser. Meskipun laser menjanjikan tembakan presisi dan berbiaya rendah, laser rentan terhadap kondisi lingkungan. Di Arab Saudi, sistem peperangan elektronik tradisional seperti jammer tetap menjadi tulang punggung sistem pertahanan anti drone. (Gilang Perdana)



Pantes AS maju mundur dalam penggunaan senjata laser modular.
Ditunggu juga alasan AS mundur dari sistem senjata elektromagnetik.
Kalo dipake di kondisi hujan gimana tuh?