Jeda Sejak 2017, Pengiriman 30 Unit Rafale Mesir Tahap Kedua Resmi Dilanjutkan!

Dassault Aviation dikabarkan mengirimkan batch pertama yang terdiri dari tiga jet tempur Rafale F3-R (tambahan) ke Mesir. Dibawah kontrak pembelian tahun 2021, pengiman Rafale ke Negeri Piramid menjadi penanda ‘kelanjutan’ setelah Mesir menerima unit terakhir Rafale terakhir di tahun 2017. Yang artinya delapan tahun berselang setelah kontrak pertama (tahun 2015) atas 24 unit dituntaskan Dassault ke Mesir.

Baca juga: Bukan Hanya Faktor ‘Israel’, Ini Alasan Perancis Ogah Jual Rudal Meteor untuk Rafale Mesir

Kabar selang delapan tahun ‘pengiriman’ Rafale, dan kemudian dilanjutkan, merujuk pada beberapa dinamika kompleks dalam hubungan diplomatik, masalah teknis, dan isu geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Sebagai catatan, Mesir adalah pelanggan ekspor pertama (launch customer) untuk jet tempur Rafale. Kontrak Awal (2015). saat itu Mesir memesan 24 unit Rafale sebagai bagian dari paket senjata besar, memecahkan dominasi AS dalam penjualan senjata ke Kairo. Kemudian kontrak tambahan (2021), Mesir memesan tambahan 30 unit Rafale lagi.

Pengiriman 24 unit kontrak awal berlangsung secara bertahap dan dilaporkan sudah selesai pada sekitar akhir 2017. Untuk kontrak kedua senilai sekitar $4,5 miliar digadang akan meningkatkan armada Rafale Mesir menjadi total 54 unit.

Senasib dengan Mesir, Rafale Pesanan Serbia Bakal Dibatasi Kemampuan Peperangan Udara ke Udaranya

Unit yang dikirimkan sejak 2015-2018 awalnya berstandar F3, namun ada kemungkinan besar telah atau akan ditingkatkan ke F3-R, yang merupakan standar dominan Prancis sebelum F4. 30 unit tambahan yang dipesan pada tahun 2021 dikonfirmasi akan dikirimkan dalam standar F3-R. Bahkan, dilaporkan bahwa unit F3-R pertama untuk Mesir sudah siap pengiriman pada akhir tahun 2024.

Meskipun laporan media baru-baru ini tidak secara spesifik menyebutkan penundaan selama delapan tahun untuk semua pengiriman, ada sejumlah hambatan dan isu yang menunda pengiriman komponen atau paket senjata tertentu, serta negosiasi kontrak.

1. Isu Hak Asasi Manusia dan Politik (Awal 2015-an)
Pada saat Mesir pertama kali membeli Rafale, hubungan diplomatik Mesir dengan AS sedang tegang setelah militer menggulingkan Presiden Mohamed Morsi (2013). Mesir beralih ke Prancis untuk mencari sumber senjata baru, tetapi kelompok hak asasi manusia dan beberapa negara Barat menentang keras penjualan senjata ke Mesir karena dugaan pelanggaran HAM oleh pemerintahan Presiden Abdel Fattah al-Sisi. Ini menciptakan dilema politik bagi Perancis.

2. Isu Persenjataan dan Pengaruh AS (Hambatan Utama)
Dikabarkan bahwa AS (dan sekutu lainnya) berulang kali berupaya memblokir penjualan rudal jelajah canggih seperti SCALP-EG (Storm Shadow) dan Meteor ke Mesir. Mesir dilaporkan ingin mengakuisisi rudal-rudal ini sebagai bagian dari paket Rafale.

Alasan AS dan Barat atas embargo senjata dikarenakan rudal-rudal ini mengandung komponen atau teknologi sensitif yang melibatkan negara-negara NATO atau sekutu dekat AS (seperti Israel). Penjualan rudal canggih dapat mengganggu keseimbangan militer di Timur Tengah, dan Perancis mungkin menahan penjualan ini untuk menjaga hubungan diplomatik dan aliansi, terutama dengan Israel dan AS.

Rafale Mesir Raih 10.000 Jam Terbang, Pencapaian Pertama di Luar AU Perancis

3. Masalah Jadwal Produksi (Saat Ini)
Saat ini, pabrikan Dassault Aviation sedang menghadapi tantangan besar dalam memenuhi ratusan pesanan Rafale dari berbagai negara (termasuk India, Qatar, Yunani, UEA, dan Indonesia). Sementara tingkat produksi Rafale per tahun terbatas (sekitar 20-24 unit per tahun). Penundaan dalam pengiriman dapat terjadi hanya karena adanya antrean panjang pelanggan, termasuk Mesir yang memesan 30 unit tambahan pada tahun 2021.

Namun, dengan kabar kelanjutan pengiriman atas kontrak kedua, menyiratkan kemungkinan negosiasi mengenai paket pendanaan atau persenjataan (yang sebelumnya tersendat) telah mencapai titik temu, sehingga pengiriman dapat dilanjutkan. Ditambah, penjualan senjata adalah komponen penting dari industri dan diplomasi Perancis. Mesir adalah mitra kunci di Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Perancis ingin mempertahankan pengaruh serta keuntungannya di sana. (Gilang Perdana)

Militer Perancis Deklarasikan Operasional Penuh Standar Rafale F3-R

2 Comments