Inggris Tunda Operasional MBT Challenger 3: Ambisi Lapis Baja yang Terganjal Kendala Teknis

Angkatan Darat Inggris (Royal Army) dipastikan harus menunggu lebih lama untuk mengoperasikan tank tempur utama – Main Battle Tank (MBT) terbaru mereka, Challenger 3. Laporan terbaru menyebutkan bahwa jadwal Initial Operating Capability (IOC) atau kemampuan operasional awal tank ini harus mundur dari target semula.

Baca juga: Angkatan Darat Inggris Luncurkan Prototipe Terakhir MBT Challenger 3

Kabar penundaan ini dikonfirmasi melalui laporan dari Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) dan dipertegas oleh pernyataan di parlemen. Pihak yang bertanggung jawab atas pengadaan alutsista Inggris menyebutkan bahwa jadwal operasional awal yang semula ditargetkan pada 2027, kini kemungkinan besar bergeser ke 2028.

Menurut laporan dari National Audit Office (NAO) dan sumber berita militer seperti UK Defence Journal, penundaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kesulitan teknis dalam mengintegrasikan menara (turret) baru yang canggih ke dalam sasis Challenger 2 yang lama.

Tidak itu saja, ada kendala pada rantai pasokan komponen elektronik dan material baja khusus setelah pandemi dan dinamika geopolitik di Eropa. Adanya tinjauan ulang pertahanan (Strategic Defence and Security Review) yang memaksa penyesuaian arus kas pada proyek-proyek besar.

Inggris Kembangkan MBT Challenger 3 – Berangkat dari Potensi Peperangan Kavaleri di Eropa

Proyek Challenger 3 bukanlah pembuatan tank dari nol, melainkan program konversi, Inggris berencana mengonversi 148 unit Challenger 2 menjadi standar Challenger 3. Pekerjaan konversi ini dilakukan oleh Rheinmetall BAE Systems Land (RBSL), perusahaan patungan antara Jerman dan Inggris yang berbasis di Telford.

Sejarah Challenger 3 berakar dari kebutuhan Inggris untuk memodernisasi Challenger 2 yang sudah bertugas sejak tahun 1998. Selama bertahun-tahun, Challenger 2 dianggap tertinggal, terutama karena masih menggunakan meriam berulir (rifled gun) 120mm L30A1 yang tidak kompatibel dengan amunisi standar NATO.

Inilah “Epsom” – Lapisan Proteksi Standar di Challenger 3 yang Diklaim Sebagai MBT Terbaik di Eropa

Program ini dimulai dengan nama Challenger 2 Life Extension Programme (LEP). Namun, karena perubahan ancaman global (terutama setelah melihat perkembangan tank di Rusia), Inggris memutuskan untuk melakukan perombakan total pada menara dan sistem senjata, sehingga tank ini diberi nama baru: Challenger 3.

Challenger 3 diklaim akan menjadi salah satu tank paling mematikan di Eropa dengan beberapa keunggulan utama, seperti adopsi meriam Smoothbore NATO. Akhirnya Inggris meninggalkan meriam berulir dan beralih ke meriam 120mm L55A1 smoothbore buatan Rheinmetall. Ini memungkinkan Challenger 3 menembakkan amunisi paling modern, termasuk peluru penembus lapis baja terbaru yang digunakan tank Leopard 2 Jerman dan M1 Abrams AS.

MBT Challenger 3 Inggris – “Tinggalkan Depleted Uranium, Beralih Gunakan Amunisi Enhanced Kinetic Energy”

Menara (turret) MBT ini sepenuhnya baru dengan arsitektur digital terbuka, memungkinkan integrasi sistem komunikasi dan peperangan elektronik di masa depan dengan mudah. Challenger 3 akan dilengkapi dengan sistem Trophy APS (Active Protection System) buatan Israel, yang mampu menembak jatuh rudal anti-tank sebelum mengenai lambung tank.

Komandan dan penembak akan memiliki penglihatan termal siang/malam generasi terbaru yang mampu mendeteksi target dari jarak yang sangat jauh sebelum tank musuh menyadari keberadaan mereka.

Meskipun mengalami penundaan, Challenger 3 tetap menjadi tumpuan harapan Angkatan Darat Inggris untuk memiliki armada lapis baja yang tangguh hingga tahun 2040-an. Penundaan satu tahun dianggap sebagai risiko yang harus diambil daripada mengoperasikan tank yang belum siap sepenuhnya di medan tempur yang semakin berbahaya. (Bayu Pamungkas)

Challenger 3 Inggris Pecahkan Rekor Tembakan Terjauh di Kelas MBT Modern, Tembus 5.000 Meter!