Ilmuwan Cina Kembangkan Sistem Jammer Berbasis 6G Untuk ‘Butakan’ Radar AN/APG-85 di F-35 Lightning II

Ilmuwan Cina kerap menelurkan inovasi yang membuat kejutan dalam teknologi militer. Terkait dengan usaha ‘membutakan’ jet tempur stealth F-35 Lightning II, disebut teknologi ultra mobile broadband 6G dapat dialihgunakan untuk melakukan jamming pada radar F-35 yang terkenal canggih.
Dikutip dari South China Morning Post – scmp.com, kelompok ilmuwan di Cina telah mengembangkan senjata perang elektronik (electronic warfare weapon) baru yang inovatif yang memanfaatkan teknologi 6G yang secara teori punya kecepatan 1 Tbps. Ilmuwan di balik proyek tersebut mengklaim bahwa senjata elektronik tersebut memanfaatkan mekanisme pemrosesan sinyal generasi berikutnya (next-generation signal processing) yang jauh lebih kuat daripada radar militer modern.
Proyek senjata elektronik berbasis 6G ini dipimpin oleh Profesor Deng Lei di Huazhong University of Science and Technology (HUST), diklaim telah membuka kemampuan pengacauan dan komunikasi yang belum pernah ada sebelumnya.
Fokus dari jamming ini menargetkan pada radar baru untuk F-35 Lot 17 dan Block 4 Lightning II, yaitu Northrop Grumman AN/APG-85, yang mana radar Active electronically scanned array (AESA) berbasis Gallium Nitride itu beroperasi dalam pita-X pada frekuensi 8 Ghz hingga 12 Ghz.
Ditambahkan bahwa sistem anti jamming tradisional akan kesulitan untuk menghadapi sistem berbasis 6G ini, pasalnya senjata 6G ini dapat menghasilkan lebih dari 3.600 target palsu untuk membingungkan pilot. Sistem ini juga berfungsi sebagai pengacau berbasis darat dan hub komunikasi berkecepatan tinggi, yang mentransmisikan sejumlah besar data medan perang ke lebih dari 300 platform melalui serat optik.
Menurut para peneliti, ini menandai sistem pertama yang dikonfirmasi secara publik di dunia yang mencapai “komunikasi dupleks penuh frekuensi yang sama secara simultan dan kemampuan pengacauan.” Hasil penelitian tersebut kemudian dituangkan ke dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Acta Optica Sinica dengan judul “The evolution of 6G technology is driving the convergence of communications, radar and electronic warfare applications.”
Sistem tim tersebut memanfaatkan sistem fotonik gelombang mikro, memadukan foton dan elektron untuk melampaui batasan elektronik. Tidak seperti sistem tradisional yang berfokus pada fungsi tunggal, perangkat 6G ini mengintegrasikan penginderaan, analisis, dan transmisi dengan daya minimal. Desainnya yang ringkas menggabungkan fungsionalitas yang kompleks, yang sebelumnya memerlukan perangkat keras yang ekstensif, menjadi arsitektur yang ramping.
Profesor Deng dan timnya mengembangkan inti yang digerakkan foton dengan struktur tiga dimensi. Ini menampilkan “modulator IQ” polarisasi ganda untuk pemrosesan dan pengacauan sinyal, loop serat aktif untuk target palsu yang tertunda secara presisi, dan metode rekonstruksi pembawa pintar untuk mengelabui radar.
[the_ad id=”77299″]
Solusi mereka menunjukkan penyimpanan sinyal, pengacauan, dan kinerja transmisi yang unggul dalam arsitektur multifungsi yang ringkas, yang menghadirkan pendekatan inovatif untuk peperangan elektronik generasi mendatang.”
Menurut laporan SCMP, tim tersebut telah mendapatkan dukungan sekitar $10 juta dari pemerintah, militer, dan perusahaan teknologi Cina. Tim tersebut bertujuan untuk membantu mengonsolidasikan kepemimpinan 6G Cina dan mengawali era baru teknologi peperangan. (Gilang Perdana)
Ilmuwan Cina Ungkap ‘Rahasia’ Material Stealth pada Jet Tempur Generasi Keenam Chengdu J-36


