Hari Ini Dalam Sejarah, Pembom B-26 Invader Terbang Perdana, Berjasa Dalam Operasi Seroja, Debutnya Digantikan OV-10 Bronco

Mengenal sepak terjang alutsista di Indonesia menjadi poin menarik yang layak dicermati. Dan bicara sejarah alutsista, Douglas B-26B Invader mendapat julukan khas sebagai “The Last Indonesian Bomber”, karena masih digunakan sampai dekade 70-an, termasuk terlibat dalam Operasi Seroja di Timur Timur. Debut B-26B baru benar-benar redup tatkala TNI AU kedatangan pesawat serang turboprop COIN (Counter Insurgency) Rockwell OV-10F Bronco.

Baca juga: OV-10F Bronco TNI AU – “Kuda Liar” Pelibas GPK

Dan tepat hari ini, 83 tahun lalu, yang bertepatan dengan 10 Juli 1942, dikenang sebagai momen penerbangan perdana B-26 Invader. Dirancang oleh Ed Heinemann dari Douglas Aircraft, penerbangan dilakukan di Mines Field (sekarang Bandara Internasional Los Angeles/LAX), California, dengan pilot uji Benny Howard, test pilot terkenal dari Douglas Aircraft. Dalam literasi, disebut uji terbang perdana berlangsung sukses selama kurang lebih 58 menit.

Sebagai catatan, ada konversi nama terkait label pada pembom ini, saat diluncurkan dan pemerbangan perdananya, B-26B menyandang kode nama A-26 Invader. Baru setelah tahun 1948, karena penghapusan penamaan pesawat dengan awalan “A” (Attack), A-26 resmi dinamai ulang menjadi B-26,  ini sempat menimbulkan kebingungan karena nomor “B-26” sebelumnya dipakai oleh Martin B-26 Marauder – pembom yang lebih tua, yang terbang perdana pada 25 November 1940.

B-26 Invader dikenal sebagai satu-satunya pesawat pembom (light/medium bomber) buatan AS yang digunakan dalam tiga perang besar, yakni Perang Dunia Kedua, Perang Korea, dan Perang Vietnam.

Baca juga: Douglas B-26B Invader – History of The Indonesian Last Bomber

Merujuk dari sejarahnya, armada B-26B TNI AU yang dioperasikan Skadron Udara 1 yang bermarkas di lanud Abdulrahman Saleh, Malang, berasal dari hibah AU Belanda pasca KMB (Konferensi Meja Bundar) di tahun 1949. Dalam paket hibah, Indonesia mendapatkan pembom B-25 Mitchell, B-26B Invader, dan pesawat pemburu legendaries P-51D Mustang. Sementara di matra laut, Indonesia mendapatkan kapal perusak pertamanya, yaitu KRI Gadjah Mada.

Dalam Operasi Seroja, standar persenjataan B-26 Invader adalah 14 senapan mesin berat (SMB) Browning AN-M3 kaliber 12,7mm, delapan roket dan delapan bom 500lbs (227kg). Mengingat pesawat B-26B TNI AU merupakan alutsista tua, maka pada pesawat dengan nomer M-264 dan M-265 hanya dipasang 12 SMB Browning kaliber 12,7mm, delapan roket, dan hanya membawa dua bom buatan Uni Soviet masing-masing seberat 250kg, hal ini dilakukan agar tidak terlalu berat.

Dengan banyaknya SMB yang dibawa, wajar bila B-26B dipercaya untuk misi COIN alias tugas anti gerilya. Untuk di kemudian hari tugasnya beralih ke OV-10F Bronco yang lebih lincah dan modern.

Namun Indonesia bukan operator terakhir B-26 Invader, Kolombia adalah operator terakhir pesawat Douglas B-26 Invader di dunia, dan mengoperasikannya hingga sekitar tahun 1980. Di tangan Fuerza Aérea Colombiana (FAC), 15 unit B-26 digunakan untuk misi penyerbuan darat, serangan anti-gerilya, patroli dan intersepsi di daerah terpencil (terutama selama konflik internal melawan kelompok bersenjata). Banyak unit dimodifikasi secara lokal, termasuk penambahan avionik dan perkuatan struktur.

Kolombia mampu mengoperasikan begitu lama B-26 Invader karena FAC memelihara armada B-26 dengan sangat baik dan sering kali mengkanibal komponen dari pesawat lain. Kemudian tidak banyak alternatif pesawat serang ringan dengan daya angkut dan daya tahan seperti B-26 pada saat itu. Dengan kata lain, misi kontra-insurgensi di Kolombia sangat cocok dengan kemampuan B-26: membawa banyak bom, tahan banting, dan bisa terbang rendah.

Seperti halnya di Indonesia, debut B-26 Invader kemudian digantikan oleh OV-10 Bronco, plus A-37 Dragonfly serta pesawat COIN (Counter Insurgency) lain. (Gilang Perdana)

Hari ini dalam Sejarah, Pembom B-25 Mitchell Menabrak Empire State Building di New York

 

3 Comments