Guncang Indo Pasifik: Jet Tempur J-10C Tertangkap Kamera Gendong Rudal Anti Kapal Hipersonik YJ-21

Sebuah potongan gambar (screen capture) dari siaran televisi nasional Cina, CCTV, baru-baru ini memicu kegemparan di kalangan pengamat militer global. Video tersebut memperlihatkan jet tempur bermesin tunggal Chengdu J-10C lepas landas dengan membawa rudal berukuran besar yang diduga kuat sebagai YJ-21, rudal anti-kapal hipersonik yang selama ini dikenal sebagai “pembunuh kapal induk” (Carrier Killer).

Baca juga: Falcon Shield 2025: Manuver Udara J-10C Cina di UEA dan Strategi ‘Kuda Troya’ Melalui L-15

Jika dugaan ini benar, maka J-10C menjadi jet tempur taktis terkecil di dunia yang mampu meluncurkan senjata hipersonik, sebuah kemampuan yang selama ini hanya terbatas pada platform besar seperti kapal perang dan pembom strategis.

YJ-21 pertama kali diperkenalkan secara resmi ke publik pada ajang Zhuhai Airshow 2022. Rudal ini merupakan turunan dari teknologi rudal balistik yang dioptimalkan untuk menghancurkan target bergerak di laut dengan kecepatan ekstrem. YJ-21 dilaporkan mampu melesat hingga Mach 6 pada fase jelajah dan mencapai kecepatan terminal hingga Mach 10 saat menukik ke sasaran.

Rudal hipersonik YJ-21 (Yingji-21) merupakan produk dari raksasa kedirgantaraan milik negara Cina, yaitu CASIC (China Aerospace Science and Industry Corporation). Secara spesifik, pengembangan YJ-21 diyakini dilakukan oleh Third Academy dari CASIC.

YJ-21 diperkirakan memiliki daya jangkau antara 1.000 hingga 1.500 km. Berbeda dengan rudal balistik biasa, YJ-21 memiliki kemampuan manuver di fase akhir, membuatnya hampir mustahil untuk dicegat oleh sistem pertahanan udara seperti Aegis atau Patriot.

Cina telah memperkenalkan versi ekspor rudal ini dengan nama YJ-21E, yang menunjukkan kepercayaan diri Beijing terhadap stabilitas teknologi tersebut.

Mengingat dimensi YJ-21 yang cukup besar (panjang sekitar 8-9 meter), satu unit J-10C diperkirakan hanya mampu membawa 1 unit rudal YJ-21 yang dipasang pada centerline pylon (bawah perut pesawat).

Meskipun hanya satu, keberadaan rudal ini pada platform yang lincah seperti J-10C memberikan ancaman yang jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan jika dibawa oleh pembom strategis Xian H-6K.

Integrasi YJ-21 pada J-10C bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan pesan politik dan efek penggetar militer yang sangat kuat bagi Amerika Serikat dan sekutunya. J-10C memiliki kemampuan air refueling (pengisian bahan bakar di udara). Dengan dukungan pesawat tanker Y-20U, radius tempur J-10C bisa meluas hingga menjangkau gugusan pulau kedua di Pasifik. Hal ini memaksa kapal induk AS menjauh dari daratan Cina jika tidak ingin masuk dalam zona bahaya hipersonik.

Melesat Mach 10, Cina Punya Rudal Anti Kapal Hipersonik YJ-21, Bikin Armada AS Ketar-ketir

Karena J-10C diproduksi secara masif (ratusan unit), Angkatan Udara Cina (PLAAF) kini memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan “saturasi” hipersonik. Bayangkan puluhan J-10C meluncurkan YJ-21 secara bersamaan dari berbagai arah; sistem pertahanan kapal perang secanggih apa pun akan mengalami kewalahan (overwhelmed).

Menggunakan jet tempur seharga $40-50 juta untuk membawa rudal yang bisa menenggelamkan kapal induk seharga $13 miliar adalah asimetri perang yang sangat menguntungkan Cina, mencitrakan serangan dengan “biaya murah dengan dampak besar.”

Kemunculan J-10C dengan YJ-21 di CCTV menandakan bahwa teknologi hipersonik Cina sudah mencapai tahap miniaturisasi dan kesiapan operasional yang matang. Bagi AS dan sekutu di Indo-Pasifik, ini adalah sinyal bahwa dominasi laut mereka kini berada di bawah bayang-bayang rudal yang tidak bisa dihentikan. (Gilang Perdana)

P-282 SMASH: Rudal Balistik Anti Kapal Hipersonik, Buatan Pakistan dengan Sentuhan Teknologi Cina

6 Comments