Angkatan Laut Australia (RAN) menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kesiapan tempur armada permukaan di tengah dinamika regional yang kian memanas. Meski telah memulai proses pensiun bertahap untuk kapal-kapal tertua di kelasnya, Australia justru memberikan kontrak desain teknik baru senilai $163 juta (sekitar Rp1,72 triliun) kepada BAE Systems Australia – Maritime untuk melakukan peningkatan besar-besaran pada sisa unit fregat ANZAC class yang masih beroperasi. (more…)
Setelah bertahun-tahun berada di bawah bayang-bayang keunggulan rudal hipersonik Cina dan Rusia, Amerika Serikat kini berada di ambang pintu sejarah baru. Militer AS melaporkan bahwa baterai pertama Long-Range Hypersonic Weapon (LRHW), yang dikenal dengan nama Dark Eagle, akan segera mencapai status operasional penuh dalam hitungan minggu. Langkah ini menandai kebangkitan kembali kekuatan artileri strategis AS di panggung dunia. (more…)
Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) baru saja mencatatkan tonggak sejarah baru dalam upaya modernisasi kekuatan udaranya. Pesawat peperangan elektronik (Electronic Warfare/EW) terbaru mereka, Kawasaki EC-2, sukses melaksanakan penerbangan perdana (maiden flight) pada 16 Maret 2026. (more…)
Sebuah potongan gambar (screen capture) dari siaran televisi nasional Cina, CCTV, baru-baru ini memicu kegemparan di kalangan pengamat militer global. Video tersebut memperlihatkan jet tempur bermesin tunggal Chengdu J-10C lepas landas dengan membawa rudal berukuran besar yang diduga kuat sebagai YJ-21, rudal anti-kapal hipersonik yang selama ini dikenal sebagai “pembunuh kapal induk” (Carrier Killer). (more…)
Citra satelit North Field di Pulau Tinian dari Planet Labs.
Pangkalan udara (lanud) di Pulau Tinian, yang dulu merupakan salah satu pangkalan udara terbesar dan tersibuk di dunia selama Perang Dunia II, tidak lagi digunakan untuk operasi militer sejak tahun 1947, padahal sejarah lanud ini sangat besar, pasalnya North Field di Tinian digunakan sebagai pangkalan utama bagi pesaawat pembom B-29 Superfortress untuk melakukan pengeboman strategis ke Jepang, termasuk serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki. (more…)
Dengan pengaruh dan aliansinya di Indo Pasifik, Amerika Serikat memiliki banyak basis (pangkalan) militer di kawasan Indo Pasifik. Meski begitu, sebuah laporan menyebut bila pangkalan udara (lanud) AS di Indo Pasifik terlalu mudah untuk dilumpuhkan dalam serangan awal dari Cina. (more…)
Setelah pada artikel sebelumnya kami kupas tentang aerial torpedo (torpedo udara) Type 91 yang menjadi senjata utama Jepang dalam serangan udara ke Pearl Harbor 7 Desember 1941, maka menarik untuk dicermati tentang pesawat pembawanya, Mitsubishi B5N “Kate”, yang juga digunakan Jepang saat melakukan invasi ke wilayah Hindia Belanda. (more…)
Bila Beijing bernyali, mungkin ini waktu yang tepat untuk melakukan invasi militer ke Taiwan, pasalnya saat ini tidak ada satu pun kapal induk Amerika Serikat yang berada di kawasan Indo Pasifik. Akibat eskalasi di Timur Tengah, armada kapal induk AS kini tengah dikerahkan untuk melindungi Israel dari potensi serangan balasan Iran. (more…)
Ada kabar dari negeri tetangga di ujung timur Indonesia, yakni Papua Nugini (Papua New Guinea), yang mana Amerika Serikat akan memperluas pangkalan militernya terkait dengan upaya Washington guna menekan pengaruh Cina di kawasan Oseania. Seperti dikutip US Naval Institute (USNI) news, Amerika Serikat kini sedang merenovasi Pangkalan Angkatan Laut Lombrum di Pulau Los Negros di Papua Nugini. (more…)
Setelah sukses melakukan pelayaran jarak jauh ke Indo Pasifik pada tahun 2021, maka Angkatan Laut Jerman kembali berencana menggelar pelayaran jarak jauhnya ke Indo Pasifik. Bila pada tahun 2021 yang dikerahkan adalah frigat F217 Bayern (Brandenburg Class), maka pada pelayaran tahun depan (2024), Angkatan Laut Jerman akan mengirim salah satu frigat terbarunya yang didukung sebuah kapal tanker logistik. (more…)