‘Dipermalukan’ di Langit Kashmir, Parlemen Perancis Serukan Pemeriksaan Pada Sistem Jammer SPECTRA di Jet Tempur Rafale

Meski apa yang terjadi masih simpang siur, namun kabar jatuhnya tiga unit jet tempur Rafale kadung memukul banyak pihak di Perancis, selain merontokan saham Dassault Aviation, insiden ditembak jatuhnya Rafale yang diduga oleh rudal udara ke udara jarak jauh (BVR) PL-15 buatan Cina, ikut membuat cemas kalangan pertahanan Perancis, pasalnya nampak adanya kerentanan serius pada jet tempur andalan Perancis.
Baca juga: Tak Terpengaruh Isu Kashmir, Indonesia Justru Minat Tambah 18 Unit Jet Tempur Rafale
Seperti dikutip Thedefensepost.com (10/6/2025), seorang anggota parlemen Perancis telah menyerukan pemeriksaan pada sistem peperangan elektronik (electronic warfare system) SPECTRA (Self-Protection Equipment to Counter Threats for Rafale Aircraft) yang melengkapi jet tempur Rafale menyusul dugaan kegagalannya selama duel udara baru-baru ini antara India dan Pakistan di atas Kashmir.
Marc Chavent, anggota Parlemen Perancis, mengangkat masalah tersebut dalam pertanyaan tertulis kepada Kementerian Eropa dan Luar Negeri. Dalam “American analysts and intelligence data from NATO partners,” Ia mengatakan sistem SPECTRA yang dikembangkan Thales gagal mendeteksi atau mengganggu (jamming) pada rudal udara ke udara PL-15E yang ditembakkan oleh J-10C Pakistan yang dilengkapi radar AESA KLJ-10A.
“Insiiden yang terjadi di Kashmir menimbulkan pertanyaan strategis, yaitu sistem peperangan elektronik SPECTRA tampaknya tidak mendeteksi atau mengganggu serangan yang dipancarkan dalam spektrum yang sekarang menjadi standar untuk radar dengan probabilitas rendah untuk mencegat,” tulis Chavent.
Pejabat pertahanan India telah mengonfirmasi hilangnya sejumlah platform udara yang tidak disebutkan jumlahnya selama konflik 87 jam itu, tetapi belum menyebutkan apakah Rafale termasuk di antaranya.
Kepala Staf Pertahanan India Anil Chauhan telah membantah klaim Islamabad tentang jatuhnya enam jet India, termasuk tiga Rafale. Jika dikonfirmasi, maka akan menandai jatuhnya Rafale pertama yang diketahui dalam pertempuran.
Perancis Resmi Memulai Program Pengembangan Rafale F5 “Super Rafale” dan Loyal Wingman (UCAV)
Khawatir atas dugaan erosi pada teknologi pertahanan Perancis, Chavent bertanya apakah varian Rafale F5 yang akan datang akan menampilkan rangkaian SPECTRA yang ditingkatkan dan mampu melawan pemindaian radar AESA yang memandu rudal udara ke udara canggih.
Rafale F5 dijadwalkan untuk memasuki pengembangan skala penuh antara tahun 2026 dan 2027 dan kemungkinan akan mencakup kemampuan baru seperti kerja sama tim berawak-tanpa awak (crewed-uncrewed teaming) dan adopsip persenjataan generasi terbaru. Rafale F5 diproyeksikan akan tetap relevan hingga tahun 2060, sistem ini juga akan mencakup tangki konformal dan kit pengurangan penampang radar.
Pakistan Klaim Jet Tempur Chengdu J-10C Berhasil ‘Jamming’ Rafale Angkatan Udara India, Mungkinkah?
Sementara itu, Chavent juga menanyakan, apakah Perancis sedang mempertimbangkan untuk mengembangkan varian peperangan elektronik khusus untuk Rafale — mirip dengan EA-18G Growler milik Angkatan Laut AS — untuk misi SEAD/DEAD (suppression/destruction of enemy air defenses),
SPECTRA adalah perangkat peperangan elektronika yang dirancang terintegrasi (built in) pada Rafale, atau bisa disebut integrated self protection system. SPECTRA merupakan hasil rancangan dari dua perusahaan asal Perancis, MBDA Systems dan Thales.

SPECTRA dipersiapkan sebagai elemen bertahan Rafale terhadap ancaman di udara dan permukaan. Terintegrasi penuh di dalam pesawat, SPECTRA memberikan kemampuan peringatan ancaman multi-spektral terhadap deteksi radar, rudal, dan laser lawan.
Tanpa menyebutkan spesifikasi, SPECTRA dapat melakukan deteksi jarak jauh, identifikasi dan lokalisasi ancaman, serta memungkinkan pilot untuk langsung memilih langkah-langkah defensif yang paling efektif berdasarkan kombinasi dari aksi radar jamming, infra merah atau radar decoying dan manuver mengelak.
Sensor SPECTRA ditempatkan di beberapa sudut pesawat, memungkinkan bagi pilot untuk secara akurat menemukan beragam ancaman dan menghindarinya, atau menargetkannya untuk dihancurkan dengan amunisi berpemandu. (Bayu Pamungkas)
Jadi Pusat Kontroversi, Inilah ‘Isi’ Sayap Vertikal Jet Tempur Rafale India yang Ditembak Jatuh


