Chengdu J-10 Bakal ‘Bersanding’ dengan Rafale di Indonesia, Bagaimana Sikap Perancis?

Meski wajar dari sudut pandang strategis pertahanan Indonesia, keputusan akuisisi jet tempur buatan Cina, Chengdu J-10C kontroversial dari sudut pandang geopolitik. Kontroversi bukan karena Indonesia membeli senjata, melainkan karena ‘pencampuran’ teknologi Barat dan Cina, serta pesan bahwa Indonesia serius menjaga keseimbangan kekuatan, yang tidak akan sepenuhnya terikat dalam orbit Barat.
Bila rencana akuisisi Chengdu J-10 benar-benar terealisasi, maka patut diduga keputusan tersebut tidak akan menyenangkan bagi Paris. Perancis, khususnya Dassault Aviation (produsen Rafale), kemungkinan besar tidak akan senang dengan keputusan Indonesia, karena beberapa alasan utama.
Seperti Rafale dan J-10C sama-sama dianggap sebagai jet tempur generasi 4.5. Membeli keduanya menunjukkan bahwa Indonesia melihat J-10 sebagai alternatif yang setara (atau setidaknya mampu memenuhi kebutuhan) bagi Rafale, padahal Rafale dipasarkan sebagai produk superior dari Barat. Belum lagi ada pengalaman buruk yang menimpa Rafale milik Angkatan Udara India, dalam konflik melawan jet tempur J-10CE Pakistan di atas langit Kashmir.
Alasan lain, setiap negara Barat sensitif terhadap risiko bahwa teknologi sensitif mereka (termasuk avionik, tautan data, dan sistem komunikasi) dapat terpapar atau dianalisis oleh negara-negara rival strategis, seperti Ciina, jika kedua pesawat dioperasikan berdampingan.
Laporan intelijen Perancis (yang dibantah oleh Cina) sebelumnya telah menuduh Beijing melakukan kampanye disinformasi di media sosial Indonesia untuk merusak citra Rafale demi mempromosikan J-10. Keputusan Indonesia untuk tetap membeli J-10 akan memperkuat kecurigaan Perancis bahwa upaya Cina tersebut berhasil.
Indonesia adalah pelanggan senjata utama Perancis di Asia Tenggara. Jika Jakarta membagi anggaran pertahanan besarnya dengan Beijing, hal itu akan mengurangi potensi pesanan lanjutan untuk Rafale atau alutsista Prancis lainnya.
Imbas ke Sistem Senjata
Maka sangat wajar jika ada kemungkinan (meski belum pasti) Perancis akan bersikap lebih hati-hati, atau bahkan menahan diri, dalam menjual amunisi dan senjata utama yang paling canggih untuk Rafale kepada Indonesia, jika akuisisi J-10 buatan Cina benar-benar berlanjut.
Perancis memiliki teknologi militer yang sangat canggih dan sensitif, terutama pada senjata utama seperti rudal udara-ke-udara jarak jauh MBDA Meteor, dan rudal jelajah jarak jauh MBDA SCALP (Storm Shadow). Senjata-senjata ini tidak hanya tentang hulu ledak, tetapi juga tentang sistem panduan, perangkat lunak, dan data link yang terintegrasi sepenuhnya dengan sistem avionik Rafale.
Bukan Hanya Faktor ‘Israel’, Ini Alasan Perancis Ogah Jual Rudal Meteor untuk Rafale Mesir
Jika Indonesia mengoperasikan Rafale dan J-10 berdampingan, ada kekhawatiran besar bahwa Cina—yang kini menjadi rival strategis utama Barat—dapat mencoba mengakses atau menganalisis sistem data link, spesifikasi radar, atau bahkan perangkat lunak rudal Perancis melalui personel Indonesia yang bekerja pada kedua platform, sampai upaya intelijen dan siber.
Perancis dalam hal ini akan melindungi rahasia dagang dan keunggulan teknologi militernya. Membatasi penjualan senjata paling sensitif adalah cara paling efektif untuk mengendalikan risiko proliferasi (penyebaran) teknologi canggih tersebut kepada pihak yang berpotensi menjadi rival.
Perancis juga akan memastikan bahwa mitranya, terutama India (pelanggan Rafale besar lainnya yang berkonflik dengan Cina), tidak merasa Perancis mengkompromikan keamanan teknologi mereka.
Dengan menahan diri, Perancis memaksa Indonesia untuk tetap bergantung pada mereka untuk mendapatkan kekuatan tempur penuh dari Rafale. Meski Rafale tanpa rudal canggih Perancis hanyalah platform yang kurang efektif.
Namun, dalam transaksi senjata, seringkali ada negosiasi khusus. Indonesia mungkin perlu memberikan jaminan keamanan dan operasional yang sangat ketat kepada Prancis bahwa kedua sistem (Rafale dan J-10) akan beroperasi di lingkungan yang benar-benar terpisah dan tidak ada personel yang akan bekerja pada kedua platform untuk meredakan kekhawatiran Paris. (Gilang Perdana)



dari dulu pengambil kebijakan dinegara ini nggak berubah,paling kena batunya lagi nanti.
padahal presiden dan menteri pertahanan orang militer,tapi konsep pertahanannya nggak jelas.
paling ya cuma beli pesawat nya. amunisi nya paling cuma dumb bomb bikinan sari bahari. ga mungkin kuat beli strom sadow
Lah India aja kagak masalah Sukhoi dan Rafale. Jangan suka ada2in gosip
Kalou yg nongol Jitenbi bekas PLA, gudbay deh PL15, gimana mau tanding di Asia, ambyaar sama Banglades & Pakistan😁
ngeri2 sedap kl Rafale bs gotong PL-15
Sumber Janes yang baru dikutip portal sebelah, dana pinjaman luar negeri (PLN) yang dibutuhkan untuk pembelian 3 macam alutsista dari Tiongkok sebesar 3.1 miliar USD yaitu 1.6 miliar USD untuk 42 unit J-10B dan sisa 1.5 miliar USD untuk kapal cepat rudal katamaran Type 22 dan rudal anti-kapal YJ-12 (CM-302)
https://www.janes.com/osint-insights/defence-news/sea/indonesia-seeks-foreign-loans-for-j-10-fighters-naval-systems, min, coba bahas juga kabar pembelian KCR type 22 😊😊
*makin lama makin greget juga liat berita ginian wkwkw
Kok beli pesawat tempur dari China? Ingat LCS
Airripiew hanya menduga base on kondisi lapangan.. Pernyataan menhan kan ngambang ‘sebentar lg terbang di jkt, kata sebentar ini diartikan bahwa dalam waktu dekat ini unitnya sudah datang dan paling masuk akal adalah unit bekas dan unit bekas adanya J10b.. Tp indomili menyampaikan base on kebutuhan TNI yaitu pespur 4,5 dan wajib Aesa ya sudah pasti J10c.. Gitu sih
@terranmcv: Jika benar yang akan diakuisisi adalah J-10B bukan C/CE maka anggaran 1.6 miliar USD memang bisa dapat 42 unit J-10B tetapi hanya dapat 26 unit saja untuk J-10C/CE, total anggaran 9 miliar USD yang ditetapkan memang kudu dibagi-bagi untuk melengkapi alutsista matra lainnya, makanya belinya yang ‘downgrade’ cuma bisa dipasangi PL-12 saja apalagi radarnya PESA pula keren kan 👍😂
Soal C atau B.
PSP nya bilang pesawat tempur air superiority generasi 4,5 dengan dana PLN 1,6 miliar usd.
J-10B itu belum generasi 4,5 setahu saya. Yang generasi 4,5 itu adalah J-10C.
Populasi J-10C lebih banyak dari seri B. Sebenarnya kita bisa ambil dari inventory PLAAF untuk yang seri C. Tapi mungkin kalo harga mungkin seri B bisa dapat langsung 40an unit dengan dana usd 1,6 miliar.
Dibeli sudah pasti C, Sebelumnya gak dilirik nih barang, cuma karena prestasi PL15 ori lah dia jadi ngetrend, maka jadi pertanyaan, yg dikasih PL15 ori atou kw, kalou kw berarti sama aja dengan Rafale mesir tanpa meteor😁
Bisa sparing Su 27/30 v F 16, next bisa sparing Rafale v J 10B, next juga bisa sparing KAAN v KF 21, kalau F 15EX jadi juga bisa beneran sparing sama Su 30MK2 🫢
Bienvenue Rafale dan Huān yíng J-10C 👍👍
@Periskop
Sudah macam game Ace Kombat, bisa pilih-pilih pesawat, tapi sayang ga ada pilihan jadi depohar di dalam gamenya
Asli Indonesia jadi game Ace Combat, semangat para kawan Depohar💪
Entah apa urgensinya beli Pesawat J-10, apakah ToTnya mantap? Apakah dijual dengan paket murah?
*level maksimal
yang jadi pertanyaan sih
-seurgen apa sampe pake sistem mejikuhibiniu level ma
-Kelola dananya bakal gimana, negara yang anggaran militernya besar saja kayaknya ngga bakal serandom ini milih pesawat
-proyek apa saja yang bakal mangkrak kira²
-untuk masalah amunisi+suku cadang bakal gimana buat ngelolalnya, pengadaan, penyimpanan, dsb
-jika ini dana pinjaman gimana mau lunasin, utang luar negeri indo sudah fantastis, belum lagi jika APBN defisit
Yang dibeli versi B atau C sih?
Air*pa*e R*vi*w bilangnya versi B.
Indomiliter bilang C.
Bingung…