Caihong-7 (CH-7) Sukses Terbang Perdana: Drone Stealth Flying Wing HALE Cina

Di penghujung tahun ini sepertinya Cina ingin ‘membungkus’ pencapaian besar, setelah sukses dalam penerbangan perdana Jiu Tan, ‘drone mothership’ yang mampu meluncurkan 100 drone kamikaze pada 11 Desember lalu, maka ada kabar lain yang membetot perhatian global, yakni Cina mengonfirmasi suksenya penerbangan perdana CH-7, atau dikenal juga dengan nama Caihong-7 (Rainbow-7).

Baca juga: Jiu Tan Sukses Terbang Perdana: ‘Drone Mothership’ yang Mampu Luncurkan 100 Drone Kamikaze

CH-7 bukan sembarang drone, pasalnya ini merupakan drone tempur (UCAV) stealth berdesain flying wing dengan kualifikasi HALE (High Altitude Long Endurance).

Penerbangan perdana ini menandai transisi CH-7 dari tahap prototipe dan uji coba darat ke fase pengujian penerbangan penuh. Meskipun lokasi spesifik penerbangan perdana ini tidak diungkap secara detail oleh media pemerintah, biasanya uji coba ini dilakukan di lapangan terbang militer rahasia di provinsi barat laut Cina.

CH-7 dikembangkan dan diproduksi oleh China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), khususnya oleh anak perusahaannya China Academy of Aerospace Aerodynamics (CAAA). CASC adalah raksasa pertahanan milik negara yang juga bertanggung jawab atas seri drone populer “Rainbow” (CH-series) lainnya yang telah diekspor secara luas. Drone ini awalnya diperkenalkan ke publik sebagai model mock-up pada Zhuhai Airshow tahun 2018.

CH-7 adalah drone yang dirancang untuk menjalankan misi Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian Jarak Jauh (ISR) serta potensi serangan presisi di area yang sangat dipertahankan musuh. Keunggulan utamanya terletak pada desain aerodinamisnya. Desain utamanya adalah flying-wing (sayap terbang) atau tailless (tanpa ekor vertikal), mirip dengan B-2 Spirit AS atau X-47B.

Bentuk ini secara inheren memberikan karakteristik stealth yang sangat tinggi dengan mengurangi pantulan radar (Radar Cross-Section/RCS), memungkinkan drone menembus wilayah udara musuh tanpa terdeteksi.

Punya kualifikasi High Altitude Long Endurance (HALE), CH-7 dirancang untuk beroperasi pada ketinggian yang sangat tinggi, jauh di atas lalu lintas udara komersial, dan mampu bertahan di udara untuk jangka waktu yang sangat lama.

Meskipun detail resmi sering kali disamarkan untuk tujuan kerahasiaan militer, data yang dirilis pada pameran dan sumber terbuka memberikan gambaran kemampuan yang mengesankan. CH-7 disebut punya rentang sayap (wingspan) 27,3 meter, menjadikannya pesawat tak berawak yang sangat besar.

Berat Lepas Landas Maksimum (MTOW) CH-7 diperkirakan mencapai 8 hingga 10 ton. Ketinggian operasi (Service Ceiling) mampu terbang hingga 15.000 hingga 16.000 meter (15-16 km). Sementara kecepatan jelajah sekitar 612 km/jam (sekitar Mach 0.5) dengan daya tahan (endurance) terbang hingga 15-16 jam dalam satu misi.

CH-7 dapat membawa muatan misi canggih seperti sensor optik dan inframerah resolusi tinggi. Kemampuannya untuk bertahan lama di ketinggian dan bergerak secara stealth memungkinkannya memberikan data pengawasan dan intelijen real-time dari wilayah yang sangat jauh, termasuk wilayah maritim.

CH-7 dilengkapi dengan internal weapon bay, keberadaan ruang senjata internal adalah ciri mutlak bagi semua pesawat atau drone yang dirancang untuk menjadi stealth (siluman). Menyimpan senjata di dalam badan pesawat juga mengurangi hambatan aerodinamis (drag), yang sangat penting untuk mencapai daya tahan dan jangkauan terbang yang tinggi (HALE).

CH-7 diperkirakan akan diintegrasikan ke dalam strategi peperangan berjejaring Cina, bertindak sebagai mata dan tangan yang dapat dioperasikan bersama dengan pesawat tempur berawak generasi kelima (seperti J-20) dalam konsep unmanned teaming. (Gilang Perdana)

Penampakan Drone Tempur Stealth “Sharp Sword,” Cina Pastikan Sudah Beroperasi