Buntut Operasi “Jaring Laba-laba”, AS Kini Khawatir Atas Keamanan Pembom Strategis B-52H Stratofortress

Serangan swarm drone Ukraina dalam Operasi “Jaring Laba-laba” rupanya mendapat perhatian serius dari Amerika Serikat, pasalnya apa yang menimpa pada puluhan pembom strategis Rusia, sangat mungkin dapat menimpa aset pembom strategis milik Angkatan Udara AS (USAF).
Dengan dimensi yang besar, umumnya jenis pembom strategis dan pesawat peringatan dini (AEW&C) diparkir dalam tempat terbuka, menjadikan aset bernilai strategis ini tidak terlalu terlindungi, dan melihat apa yang terjadi di pangkalan udara Rusia, dimensi besar dari pembom menjadikan target mudah bagi drone FPV (First Person View) untuk melakukan serangan secara presisi.
Dalam hal di atas, ada kesamaan konteks antara AS dan Rusia, dan apa yang menimpa armada pembom strategis Rusia.
Seperti dilaporkan The New York Times, buntut dari Operasi Jaring Laba-laba pada 1 Juni 2025, memicu diskusi di kalangan pejabat pertahanan AS dan NATO, yang menilai kerentanan keamanan pada pangkalan udara mereka, khususnya pangkalan udara yang menjadi basis penempatan pembom strategis seperti B-52H Stratofortress Long-Range Strategic Bombers, yang ditempatkan di tempat terbuka tanpa perlindungan yang memadai atau dalam banyak kasus tanpa perlindungan sama sekali.

Dan melihat dari apa yang bisa dilakukan Ukraina dalam Operasi Jaring Laba-laba, maka hal yang sama tentu bisa dilakukan oleh lawan-lawan AS yang menguasai teknologi drone. Dengan operasi klandestin, maka serangan drone dengan model penyamaran seperti yang terjadi di Rusia, berpotensi terjadi pada pangkalan-pangkalan udara AS yang ada di dalam dan luar negeri.
Samuel Bendett, seorang pengamat drone Rusia dan senjata lainnya di Center for Naval Analysis mengatakan, “Kita perlahan-lahan mulai menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh drone terhadap pangkalan udara di seluruh Amerika Serikat.
[the_ad id=”77299”]
Ia menambahkan, “Jika berbicara tentang pangkalan militer besar yang memiliki banyak pesawat yang diparkir di landasan, pelajaran dari serangan Ukraina adalah bahwa serangan semacam itu berpotensi terjadi kapan saja. Dan kecil kemungkinan pangkalan di AS memiliki perlindungan menyeluruh terhadap ancaman jarak pendek.”
Kekhawatiran AS pada keamanan aset pembom strategis wajar adanya, khsusunya setelah peneliti dari Angkatan Bersenjata Cina menilai peninggalan pembom dari era perang dingin B-52 dianggap sebagai ancaman nuklir yang lebih besar daripada F-35, F-22 atau pembom stealth B-2 Spirit.
Soal Ancaman Nuklir, Ternyata Cina Lebih Khawatir Pada Kemampuan Pembom Lawas B-52 Stratofortress
Penilaian ancaman tersebut diungkapkan oleh tim peneliti Cina terhadap kemampuan militer AS dalam meluncurkan serangan udara nuklir taktis terhadap Cina, yang ternyata menghasilkan beberapa temuan yang tidak terduga.
Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Wang Bingqie dari PLA Air Force Early Warning Academy di Wuhan, pesawat pengebom B-52H Stratofortress berusia 70 tahun, peninggalan Perang Dingin, muncul sebagai ancaman utama di semua fase pertempuran, yang mencakup tahapan pengerahan, penetrasi, dan serangan akhir.
“Menolak Pensiun”, Pembom Strategis B-52 Dipasangi Mesin Baru dan Radar AESA, Strong Sampai 2050
Di antara aset pembom strategis USAF, dimensi alias ukuran B-52 adalah yang paling besar. Rata-rata pembom B-52 ditempatkan di tempat terbuka (apron terbuka), bukan dalam hanggar besar. Ini karena ukuran pesawat sangat besar: wingspan 56 meter, dan panjang 49 meter. Kemudian penggunaan cepat (Quick Reaction Alert) selama Perang Dingin mendorong penggunaan “Christmas tree” dispersal pad agar dapat take off serentak.
Hanggar untuk B-52 sangat mahal dan jarang dibuat. Namun, hanggar perawatan khusus (maintenance shelters) tersedia di pangkalan utama di AS seperti di Lanud Barksdale atau Minot. (Bayu Pamungkas)



Sekelas USA aja ketar ketir, masak Indonesia gak punya gebrakan sama sekali? Singapore aja bikin hanggar dari beton dan diselimuti tanaman serta rumput diatasnya buat menghalau surveilance udara dan satelit loh. Masak Indonesia cuman pake Atap baja ringan aja?
Dalam pertempuran seranglah lapangan udara karena disanalah pesawat tempur nongkrong yg mudah dihancurkan shg angkatan udara lumpuh