Bola Golf Raksasa di Samudra Pasifik: SBX-1, Mata Super Pertahanan Rudal AS yang Mengarah ke Cina dan Korea

Berita mengenai pemasangan kubah (radome) radar baru berbentuk bola golf raksasa yang dilakukan Angkatan Laut AS (US Navy) di Pearl Harbor, Hawaii, baru-baru ini menyoroti keberadaan salah satu aset militer paling unik dan penting di dunia, Sea-Based X-Band Radar (SBX-1), yang pamornya terangkat sebagai latar cerita dalam film “Interceptor” (2022) yang dibintangi Elsa Pataky.
Meskipun terlihat seperti instalasi pengeboran minyak lepas pantai, SBX-1 adalah sensor bergerak seberat 50.000 ton yang menjadi tulang punggung dalam upaya AS mempertahankan diri dari ancaman rudal balistik, terutama dari kawasan Pasifik.
Pengembangan SBX-1 merupakan bagian integral dari Ground-Based Midcourse Defense (GMD), sistem yang dirancang untuk mencegat Rudal Balistik Antarbenua (ICBM) musuh di ruang angkasa.
Dari sejarahnya, SBX-1 dibangun berdasarkan modifikasi dari platform minyak semi-submersible generasi kelima. Tujuannya menempatkan radar pertahanan rudal di lautan adalah untuk memberikan fleksibilitas taktis, jika ancaman bergerak, mata pengawas juga harus bisa bergerak.

Di atas platform setinggi 86 meter ini, terdapat radar X-Band Phased-Array yang diklaim sebagai yang terbesar dan paling canggih di dunia. Antena radar ini dilapisi oleh radome berwarna putih yang disokong oleh tekanan udara, yang membuatnya terlihat seperti “bola golf raksasa yang mengambang.”
Dengan puluhan ribu modul transmit/receive, radar ini memiliki presisi luar biasa, radar ini mampu mendeteksi objek seukuran bola baseball dari jarak hingga 4.000 km.
🚨 Rare sight in Hawaii!
The massive Sea-Based X-Band Radar (SBX-1), America’s floating missile-defense giant, just dropped its protective dome in Pearl Harbor, exposing the powerful radar array for maintenance. 😳⚓Captured Nov 20, 2025 by Kaleb Laurent#SBX1 #PearlHarbor pic.twitter.com/vFWj8vqKl3
— Global Defense Analysis (@GlobalDefenseAn) November 23, 2025
Diproduksi Raytheon Technologies, SBX-1 dirancang sebagai sensor midcourse (fase tengah penerbangan), artinya mampu melacak rudal balistik saat rudal tersebut berada di ruang angkasa, pada ketinggian puluhan hingga ratusan kilometer. Radar dapat melacak objek dari dekat cakrawala (near the horizon) hingga ke zenith (titik tertinggi tepat di atas kapal). Radar X-Band itu sendiri, termasuk lebih dari 45.000 modul transmit/receive yang membentuk pancaran radar, dirancang dan dioperasikan oleh Raytheon.
Debut Operasional: Setelah dibangun dan diuji coba, SBX-1 pertama kali ditempatkan di Pasifik pada tahun 2006, menjadikannya aset veteran dalam pertahanan rudal AS.
Sebagai elemen peringatan dini, SBX-1 adalah salah satu sensor pertama yang mendeteksi rudal yang baru diluncurkan, memberikan waktu berharga bagi para pengambil keputusan. Ketika rudal ICBM melepaskan hulu ledak, rudal tersebut sering kali juga melepaskan umpan (decoys) dan puing-puing. Tugas utama SBX-1 adalah membedakan hulu ledak asli dari kekacauan di ruang angkasa tersebut.
Sea-Based X-Band Radar (SBX-1) early-warning radar station in Pearl Harbor, Hawaii with radar array exposed for maintenance – November 25, 2025 SRC: TW-@RobertHapp pic.twitter.com/F7FyfPKTOu
— WarshipCam (@WarshipCam) November 26, 2025
Data diskriminasi yang sangat presisi kemudian dikirimkan secara real-time ke rudal pencegat berbasis darat (Ground-Based Interceptors – GBI) yang ditempatkan di Fort Greely, Alaska, dan Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg, California. GBI ini kemudian menembak jatuh ancaman tersebut di ruang angkasa, jauh sebelum mencapai target.
SBX-1 adalah aset bergerak, sehingga lokasi penempatannya berubah-ubah sesuai kebutuhan. Meski begitu, area operasi utamanya adalah Samudra Pasifik Utara, terutama di perairan internasional yang menghadap ke Semenanjung Korea dan Cina. Alasan pengerahan tak lain memberikan cakupan radar yang fleksibel untuk memantau aktivitas rudal dari negara-negara yang berpotensi menjadi ancaman.
This unique system is designed to detect and track incoming missile threats to mainland USA. The SBX’s radar is so powerful that if placed in the Chesapeake Bay, its radar would be able to see a baseball-sized object in orbit over San Francisco, some 2,900 miles away!!! 2/2 pic.twitter.com/pphVK9CDOi
— Air Power (@RealAirPower1) April 8, 2024
Saat ini kontrak pemeliharaan jangka panjang telah diperpanjang hingga Maret 2031, menunjukkan bahwa AS masih menganggap SBX-1 sebagai komponen sensor yang tak tergantikan dalam waktu dekat.
Komposisi awak SBX-1 berkisar antara 85-87 orang, umumnya terdiri dari Merchant Mariners AS (yang mengoperasikan platform kapal), teknisi sipil dari kontraktor seperti Raytheon (yang mengoperasikan radar), dan personel Missile Defense Agency (MDA).
Mitos di Film Interceptor
Bertentangan dengan penggambaran dalam fiksi seperti film Interceptor, SBX-1 tidak membawa rudal pertahanan udara (hanud) sendiri. SBX-1 adalah platform yang hanya berfokus pada sensor yang tidak memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal pencegat atau menembakkan senjata pertahanan untuk melindungi dirinya sendiri. (Gilang Perdana)
As sixteen nuclear missiles are launched towards the United States, an Army lieutenant uses her years of tactical training to save humanity. Meanwhile, a well-coordinated and brutal onslaught is threatening her remote missile interceptor station.#NigerianIdol #movie_hiv. pic.twitter.com/JUUklyGqNT
— Movie Hive (@movie_hiv) May 20, 2024



“Saat ini kontrak pemeliharaan jangka panjang telah diperpanjang hingga Maret 2031, menunjukkan bahwa AS masih menganggap SBX-1 sebagai komponen sensor yang tak tergantikan dalam waktu dekat.”
Setelah 2031, akankah SBX-2 akan dirancang untuk gantikan sensor canggih tersebut? Mengingat dinamika rudal balistik hipersonik akan menjadi tren menggantikan rudal balistik konvensional di masa depan yang mengharuskan sistem pertahanan rudal AS, Ground-Based Midcourse Defense (GMD) juga untuk di ‘upgrade’ ? 🤔