Boeing Pertimbangkan Buka Kembali Jalur Produksi C-17 Globemaster, Potensial Meski Tak Mudah

Meski tak lagi diproduksi, namun pesawat angkut berat ini tak jarang hadir dalam demo statis pada pameran dirgantara besar, seperti pada Paris Airshow 2025 di Le Bourget (16-22 Juni 2025), Boeing C-17A Globemaster III ditampilkan oleh Angkatan Udara AS (USAF). Dan belum lama ada kabar yang menyebut adanya pembicaraan untuk membuka kembali jalur produksi C-17 Globemaster.
Baca juga: Hari ini 33 Tahun Lalu, Boeing C-17 Globemaster III Sukses Terbang Perdana di California
Satu dekade setelah unit terakhir C-17 keluar dari jalur produksi, Boeing mengatakan sedang bernegosiasi dengan setidaknya satu pelanggan untuk membangun lebih banyak C-17A Globemaster III. Pengembangan ini dilakukan saat negara-negara di seluruh dunia berupaya meningkatkan kemampuan angkatan bersenjata mereka, dan belum ada penerus langsung C-17 yang siap diproduksi.
Turbo Sjogren, VP and General Manager of Boeing Global Services Government Services, mengonfirmasi kepada Shephard Defense di Paris Air Show 2025, bahwa memang ada pembicaraan awal untuk membuka kembali jalur produksi C-17 Globemaster III.
“Ini adalah upaya yang sangat luar biasa untuk dilakukan,” kata Sjogren, seraya mencatat bahwa hal itu mencerminkan keunggulan atas reputasi pesawat angkut tersebut. Meski tak menyebutkan nama atau identitas negara, Sjogren menambahkan bahwa minat terhadap C-17 rakitan baru diungkapkan oleh beberapa negara.

Boeing sebelumnya pernah mengkonfirmasi menerima banyak permintaan dari calon pembeli, khususnya dari operator lama yang ‘menyesal’ tidak membeli saat jalur produksi masih aktif. Diskusi mencakup potensi biaya, lokasi pabrik, dan investasi untuk mengembalikan tooling dan lini produksi. Biaya dan waktu yang dibuituhkan akan sangat besar, karena jalur produksi telah ditutup sejak 2015 dan banyak tooling sudah dihancurkan atau dialihkan.
Meski tidak diungkap secara resmi, sejumlah negara pernah diketahui berminat untuk menambah aset C-17-nya, seperti India, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA), dan calon pengguna baru, yaitu Arab Saudi.
Kabul Has Fallen, C-17 Globemaster Cetak Rekor Angkut 800 Penumpang dalam Sekali Terbang
Sejauh ini belum ada keputusan resmi untuk melanjutkan produksi, bahkan pemerintah AS, Boeing, dan calon pembeli harus sepakat karena kendala pendanaan besar, dan butuh pesanan minimal puluhan unit agar ekonomis. Lain dari itu perlu membangun kembali rantai pasok global.
Sebelum Paris Airshow 2025, yaitu di World Defense Show di Riyadh (5 Februari 2024), Boeing secara resmi menyatakan adanya minat yang signifikan dari pelanggan lama untuk menghidupkan kembali jalur produksi C‑17. Torbjörn Sjögren saat itu menyebut, “ada sejumlah pelanggan yang seandainya jalur produksi masih berjalan, mereka akan langsung membeli”.
Berkat REVOLVER Systems, Boeing C-17 Globemaster III Mampu Luncurkan Rudal Jelajah Hipersonik
Jalur produksi Boeing C‑17 Globemaster III secara resmi ditutup pada tahun 2015, dengan unit terakhir dikirim pada 11 September 2015 ke Royal Australian Air Force (RAAF). Unit terakhir yang diproduksi adalah C‑17 ke‑279, dikirim ke Australia sebagai pesawat tambahan untuk armada RAAF.
Sementara jalur produksi ditutup karena tdak ada pesanan signifikan dari pemerintah AS atau pelanggan internasional setelah pertengahan 2010-an. Angkatan Udara AS sudah menerima 223 unit, melebihi kebutuhan operasional mereka. Kemudian terkait biaya produksi tinggi, yang mana produksi pesawat angkut berat seperti C‑17 sangat mahal. Tanpa pesanan berkelanjutan, biaya mempertahankan jalur produksi tidak ekonomis bagi Boeing.
Selain itu, beberapa negara memilih alternatif yang lebih murah atau lebih kecil seperti C-130J Super Hercules atau Airbus A400M. (Bayu Pamungkas)




Ada ” WAITING LIST” nyaaaa, taro DP buat 1sqd.
Indonesia akan membeli juga untuk digunakan mengangkut jemaah haji dan umroh dari Indonesia … dengan kapasitas angkut penumpoang yang besar … diharapkan biaya untuk penerbangan akan lebih murah dari sekarang