Bila Indonesia Jadi Beli Typhoon Milik Austria, Jangan Berharap Dapatkan Fitur “Joss..”

Superioritas udara dengan predikat battle proven, inilah yang mungkin melekat dibenak kebanyakan netizen pada sosok jet tempur Eurofighter Typhoon. Anggapan tersebut tak keliru, terlebih Typhoon adalah jawara utama andalan dua’dewa’-nya Air Force, yaitu Inggris dan Jerman. Dan saat mencuat kabar rencana Menhan Prabowo Subianto untuk membeli 15 unit Typhoon milik AU Austria, suara netizen menggelora di jagad media sosial, seperti diharapkan kehadiran Typhoon kelak dapat memberi efek deteren yang maksimal, terutama dalam merespon konstelasi konflik di Laut Cina Selatan.
Baca juga: Bila Indonesia Beli Typhoon Bekas Pakai Austria, Bagaimana Nasib ToT?
Dari segi label, Eurofighter Typhoon jelas bukan penempur kaleng-kaleng, pun bagi Cina, mungkin jet tempur ini adalah yang dianggap paling membuat penasaran bagi pilot tempur Cina, pasalnya tidak ada satupun negara di Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur yang mengoperasikan jet tempur hasil kolaborasi dari empat negara ini.
Namun, yang jadi pertanyaan kemudian, dengan kondisi Typhoon AU Austria yang masih berada di Tranche 1 standard atau yang dikenal sebagai Block5, apakah Typhoon yang kelak menjadi andalan TNI AU mampu memperlihatkan taringnya di kawasan. Sebelumnya perlu diketahui, Tranche 1 juga diadopsi pada Typhoon milik Inggris, Jerman, Spanyol dan Italia. Tranche 1 hadir pada fase awal gelombang pengiriman Typhoon. Dengan segala keterbatasan khas block awal produksi jet tempur, pihak pabrikan, yaitu Airbus Defence and Space lantas menawarkan paket upgrade, dimana dari fasilitas di Getafe, Spanyol, Typhoon Tranche 1 diintegrasikan fitur-fiturnya sesuai standar Tranche 2 dan Tranche 3.

Dan terlepas dari kasus gugatan dan perkara dugaan suap yang melibatkan nama Airbus, kesemua Typhoon milik AU Austria telah mendapatkan upgrade akhir ke Tranche 1 pada Oktober 2013. Tetapi karena sejak awal, kedatangan Typhoon tak mendapat respon positif dan terjerat isu kurang sedap akibat korupsi, debut Typhoon di Austria seolah tak diurusi secara serius.
[the_ad id=”12235″]
Dengan dalih tidak efisien bagi negara netral di tengah Eropa, Typhoon tak mendapatkan program upgrade, alih-alih justru Kementerian Pertahanan Austria pada Juni 2017 mengumumkan akan mengganti semua armada Typhoon pada tahun 2020.

Kemudian pada Oktober 2017, tersiar kabar Austria akan melego semua Typhoon ke negara lain yang berminat. Seolah ingin menjaga jarak dengan Airbus, Austria berharap penjualan Typhoon dapat dilakukan lewat perjanjian jual beli antar pemerintah (government to government), hal itu dimaksudkan untuk menghindari proses tender yang panjang dan mahal dengan pihak produsen.
[the_ad id=”12235″]
Tranche 1 pada Typhoon AU Austria sejatinya mengacu pada varian yang digunakan oleh AU Jerman, namun sejumlah fitur terpaksa ditanggalkan karena alasan dana, diantaranya yang absen di Tranche 1 Tyhoon Austria adalah tidak adanya perangkat IRST Pirate (Passive Infra-Red Airborne Track Equipment), tidak ada DASS (Sub-System Defensive Aids Sub-System), radar belum mengadopsi AESA dan belum teintegrasi dengan rudal udara ke udara AIM -120 AMRAAM.

Baca juga: PIRATE – Penjejak Target Berbasis Elektro Optik di Eurofighter Typhoon dan JAS 39 Gripen
Sebagai gantinya, jet tempur Typhoon Austria beroperasi hanya dengan mengandalkan kanon internal Mauser 27 mm dan sepasang rudal udara ke udara jarak pendek IRIS-T. Meski begitu, Tranche 1 untuk Typhoon Austria sudah kompatibel dengan rudal udara ke udara ASRAAM, rudal udara ke udara AIM-9L Sidewinder dan bom pintar berpemandu laser Paveway II dan GBU-16. Bagi Austria, keputusan untuk menjual 15 unit Typhoon sudah bulat, Komisi ahli Kemhan Austria menyebutkan, bila dioperasikan selama 30 tahun, maka negara kecil tanpa musuh potensial ini harus menanggung biaya operasional €4,4 miliar (US$5 miliar) sampai €5,1 miliar (US$5,8 miliar).
[the_ad id=”12235″]
Bila dirunut dari sejarahnya, Austria telah menetapkan proyek akusisi Typhoon pada tahun 2002, dan pada Juli 2003 dilakukan penandatanganan kontrak untuk pembelian 18 unit Typhoon. Namun pada Juni 2007, pesanan disusutkan menjadi 15 unit. Pesawat pertama (7L-WA) tiba pada 12 Juli 2007 di Lanud Zeltweg dan secara resmi memasuki layanan operasi AU Austria.
Baca juga: Radar AESA – Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper
Meski kondisi airframe terjaga baik dan masih punya usia pemakaian panjang, namun toh bila jadi diakuisisi, maka Indonesia harus melibatkan Airbus, dimana pesawat berstatus bekas pakai umumnya harus menjalani fase rekondisi dengan asistensi dari pihak pabrikan. Belum lagi, jika ada tuntutan upgrade ke Tranche 2 atau 3 agar bisa dipasang radar AESA CAPTOR-E, maka kocek jumbo harus dipersiapkan oleh Indonesia. (Gilang Perdana)



Connie mengatakan spesifikasi Eurofighter Typhoon mirip pesawat tempur Sukhoi Su-35 yang dimiliki Indonesia sejak dulu. Keduanya merupakan pesawat dengan tipe multi-peran atau bukan pesawat yang memiliki daya jelajah jarak jauh. Hal ini dianggap mubazir, apalagi pesawat jenis Typhoon memiliki sistem operasional yang mahal dan kebutuhan logistik yang rumit.
Ini lo yang mw d sampaikan sebenarnya .
orang politik….dia tak tahu apapun tentang spec atau hal hal teknis lainnya…sejak dulu kalau dia ngomong bikin ketawa…karena salah semua…kecuali hal politik
Anggota Komisi Pertahanan dari Fraksi Partai NasDem, Willy Aditya, menambahkan, seharusnya setiap pembelian alutsista disesuaikan dengan rencana sistem pertahanan komprehensif yang menjadi kebijakan pemerintah Indonesia selama ini. “Beli pesawat, tank, senjata serbu, semua itu harus ada dasarnya. Apalagi beli pesawat tempur udara jenis superfighter,” kata Willy, kemarin.
Dia khawatir pembelian pesawat bekas justru akan mengubah strategi pertahanan Indonesia yang semula aktif menjadi ofensif. Apalagi masalah pertahanan sangat berkaitan erat dengan kebijakan politik luar negeri. Willy menganggap rencana Prabowo membeli pesawat bekas tergesa-gesa dan tidak didahului kajian komprehensif yang terintegrasi dengan sistem pertahanan nasional.
Menurut Willy, pesawat tempur jenis Eurofighter Typhoon merupakan pesawat yang sejenis dengan Sukhoi Su-35 yang selama ini dimiliki Indonesia. Pembelian ini dianggap tak efisien karena berkaitan dengan mekanisme perawatan. Sebelumnya, Indonesia menyiapkan peralatan, pelatihan, suku cadang, dan berbagai hal lain yang dipasok untuk kebutuhan Sukhoi Su-35. “Kalau beli model yang berbeda, maka belanja untuk perbaikan, perawatan, suku cadang, dan lainnya juga akan beda.”
Mereka itu tidak tahu apa apa, bisanya koar koar aja…hanya Dephan dan TNI yang tahu
F-16V sangat berbeda dengan F-16 52ID dan F-16A/B
Su-35 juga sangat berbeda dengan Su-27/30
Hampir 100% bedanya, jadi sama saja…..sama-sama suku cadang nighware…kalau mau sama, beli aja Su-27/30 dan F-16 A/B atau F-16 52ID lagi
koar-koar bentak bentak gebrak meja tujuannya cuma satu, cari popularitas masuk TV agar besok bisa kepilih lagi, padahal kemampuan dan kinerja nol besar
Semua tergantung harganya berapa, kalau harganya sesuai dan tidak rugi besar bila dilakukan upgraed ya angkut aja’ asal ada tambahannya untuk beli unit yg baru agar bisa tidak melanggar uu pengadaan alutsista strategis, sehingga yg dibeli dr austria ini lebih pada pembelian mengejar kwantitas jumlah armada aja, beli yg baru 17 unit dan 15 unit second eks austria = 32 unit = 2 skuadron, dr pembelian unit yg baru kan bisa di loby tuk dapat TOT sebagai syarat dr uu pengadaan alutsista strategis.
Gw selalu mencoba positive thinking, … tetapi kali ini kagak ngerti posotive nya apa typhon trance 1 2003 bekas ini ? Apa bagusnya barang ini ???? suruh milih gw milih viper tanpa tanya-tanya (sama-sama produk Nato)
Mau dikaitkan dengan Tot IFX yang banyak pake produk Euro , juga ga pas .. lah wong kita ajah ogah-ogahan bayar ke KAI, lagian rumit kali TOT harus term conditionnya beli bekas mereka.
Mau dikaitkan ke Airbus, lah wong kita ajah lagi di banned (4 negara uero) ini masalah sawit , makanya kita akan balas dengan stop pembelian airbus dan stop nikel.
Kagak ngerti gw jalan pikir kemenhan kali ini?
Mau Thypoon baru tunggu sampai orderan Qatar dan Kuwait selesai, ya 2024 paling cepet dikirim.
Mau Rafale baru, duit kagak cukup nunggu antrian setelah India
Mau SU 35 proses mbulet ndak jelas dari dulu, dari 2014 – 2019 PHP mulu..
Mau Gripen NG nunggu orderan Brasil & Swedia, kalau pengen cepet versi C/D
Mau F-15SE, atau F18 BlockIII memang US mau kasih?
Viper tunggu dulu orderan Bahrain, Slovakia, Bulgaria, Maroko, Taiwan…terus kapan jadi beli pesawatnya.
Jadi ya sabar pakai yg ada saja, terimakasih Palkon bekas Gurun yg masih setia terbang bersama Hawk, Tucano, dan Golden Eagle…
Sukhoi,f16v,rafale skrg typhoon makin lama makin byk gaya aja indonesia alias nato
Semoga cepeta terealisasi sehingga negara yg mau msuk ke ZEE indonesia bisa dicegah..bkn malah lebih galak mereka
Catat yaaa….
Sebelum oktober 4 unit Su 35 akan mendarat. Semoga tidak ada perubahan rencana.
Kalimat yang terakhir itu merupakan kalimat “karet” …
Yang penting punya dulu lah pesawat generasi 4, TNI AU sudah biasa mendapatkan pesawat bekas pakai. minimal utk ngasih efek k negara2 asean, indonesia juga siap utk kondisi panas di LCS. tidak menggantungkan kekuatan AS dan Inggris serta sekutu nya saja di asean. dan.. klo memang bener dibeli dan datang, ga usah lama2 utk di upgrade.
ujung2nya cm kata2 dlm proses, menunggu, dikordinasikan, akan datang lagi lagi dan lagi…, dr 2015 su-35 gak nyangkut alesanya caastalah 2016 sm 2017 kmn aja
Abis nonton dari chanelnya Al biru*i nyebut2 indomiliter, ane udah penasaran pasti bakla rame ini yg komen maslah enih. Dan bener aja belum 2 hari dipos udh nyaris 100 komen.
Menhan lebih tau kebutuhan TNI dan negara, kita lihat aja kedepannya gimana pengadaan ini barang, dipake apa adanya ato bakal ada banyak apgret biar lbh greget.
Saya menduga sih, ini untuk ngejar target MEF. MEF III ini kan yang terakhir, dan untuk menutup bolong MEF II yang menurut saya nggak jalan. MenHan yang kemaren malah sibuk ngurusin bela negara (yang biayanya mahal tapi hasil sulit diukur), alih2 melaksanakan MEF II.
MEF sudah meleset sejak era SBY
Wacana MEF 1 skuadron air superiority tiap 1 Koopsau
Skadron Udara 16 direncanakan di Sumatera antara Lampung, Sumatera Selatan atau Sumatera Barat dengan kombinasi seperti Skadron Udara 14 yaitu Su35 & Su30 SM
Tapi yang terjadi malah diisi F16 52id sebagai skadron workhorse pindah ke Riau
Dengan kondisi seperti ini apa yang terjadi pada Skadron Udara 15 bisa saja terjadi pada Skadron Udara 14 apalagi mengingat role Typhoon sama dengan Su35 buat air superiority fighter
Su35 belum tentu batal
Memang Typhoon masih wacana buat plan B jika Su35 gagal
Tapi masih ada Skadud 12 jadi Su35 buat Skadud 14 tetap jalan
Wacana 3 ska air superiority fighter di MEF lama bisa saja terealisasi
Skadud 12 di Pontianak lokasi terdekat dengan Natuna. Cocok banget Typhoon ditempatkan di situ
Yang ini kayaknya pakai barter deh, untung sama untung. Mungkin produk sawit. Austria untung karena beban maintenance ef typhoonnya terlepas, kita untung karena produk sawitnya laku.
maksudnya barter dg sawit itu bgmn bang? lha CPO kita kan masih di-banned ama UE, yg mana Austria itu masuk di dalamnya
Pokoknya ane lebih greget ma jet tempur incaran p menhan yg pertama yaitu Rafale titik gitu aja kok repot..
Yg tahu paham menhan bukan kalian..ini kebutuhan mendesak poll kita perlu pespur sekarang jg jaga natuna.
Masak iya mau tunggu su35 dan IFx yg lama.
Toh ini pesawat masih baru msih gress msih bisa diajak terbang tempur.
Aapalagi PTDI sudah dekat dgn Airbuss.
Saran saya Ambil pak wowo.!!
Nnti klo jdi beli dah masa pakai 10 tahun kita hibahkan ke timor leste hehhe
Menhan punya cara menutup stop gap kekosongan fighter lapis 2, karena kalau membeli barang baru tentu hrs menunggu 2-3 thn lagi , proyeksi “kekacauan” LCS dan upaya menjaga ALKI akan terhambat,sama persis dengan pengadaan F-16 bekas/refurbished,karea tidak melibatkan banyak persh dalam negosiasi dipastikan terjadi G to G ,dan ada juga perjanjian yg tidak ditebar untuk umum, Program Ri selalu “fitted but not with”akan selalu dipakai dalam pengadaan alutsista, tanpa menutup pergerakan industri Dalam negeri dalam memacu penjualan, Lha dananya dari mana ??? ada clue , ketika Menhan prabowo dalam hearing dengan DPR , selalu mati-matian anggaran “nyata” dan dibelikan apa .. tidak mau diungkap untuk umum ,
mengenai perjalanan dan bagaimana alutsista ini befungsi dengan baik tentu hanya TNI AU beserta pemangku kepentingan yang tahu
tak lepas dari Bapak Besar sebelm lengser mengamankan dana alutista agar tidak terganggu dalam pos yang lain
CMIIW
Assalamu’alaikum wr. wb.
Kontrak su35 dengan 1.4 milliar dollar dapat 11-12 pesawat.
La austria beli typhoon trance 1 seharga 2.4 milliar dollar dapat 15 pesawat.
Kalau kontraknya untung sama untung maksudnya bagaimana ni?
Tolong yang paham di jelaskan.
Austria menawarkan Typhoon ke negara manapun yang berminat USD 40-45 juta
Anggap saja ada deal antara Indonesia dan Austria cukup bayar USD 600-675 juta saja
Ini G to G tidak lewat jalur broker pasti sangat transparan
Terima kasih pak distanata.
Kalau harga 40-60 ya mantab.
Tapi kalau disuruh menebus kerugian austria ya amsyong.
Tinggal dipantau saja nanti berapa deal nilai kontraknya.
https://euro-sd.com/2019/06/articles/13666/a-long-life-for-the-spanish-eurofighter/
Thypoon trache-1 punya spain juga bisa upgrade biar bisa gotong Meteor. jdi seperti produk barat lainnya, rata-rata produk sudah disiapkan untuk peningkatan kedepannya. Airbus + PTDI tentu sudah dilibatkan jika akan ambil ini pesawat.
Mungkin maksudnya begini
Setau saya austria berselisih dengan pabrikan pesawat yang mana austria menuduh ada pengelembungan dana dan austria juga pengen singkirkan pesawat ini
Dari segi kita mungkin ada kondisi mendesak .bisa jadi lcs pemicunya . Beli pesawat baru itu pasti lama prosesnya
lah bukanya jokowi bilang sudah tdk ada lagi pembelian alusista bekas lah ini ……
lebih tepatnya, tidak ada lagi belanja barang luar negri
Pengalaman akuisisi A-4 Skyhawk.. Biasanya TNI klo dana dan segi politis memungkinkan, akan di lakukan peningkatan. Seperti halnya saat pembelian hawk all varian. Radar aesa captor-e sdh jd menu wajib.
Gw ga ngeliat ini masalah serius, this is “Surat”.. hanyalah surat..
1. Alangkah bodoh sekali prabowo and team TNI menyurati Austria menyatakan tertarik pada pesawat mereka tanpa Airbush tahu hal ini ??
Jika misal Airbush tahu dan atas persetujuan air bush, lalu barter apa yg airbush tawarkan ke indonesia ?? *Masih mistery.
2. Apakah biaya pembelian pesawat + Upgrade ke seperti pesawat terbaru thypoon akan sama biaya nya dgn membeli full baru, lha gw saja yg bodoh berpikir sampai sini, tentu Team pembelian di TNI sangat jauh lebih pintar dr gw ?? *Itu keyakinan gw, terus ngapain gw mesti pusing??.
3. Di negara ini, pembelian alutsista ada birokrasinya, tidak hanya ; “ohh TNI pengen nya ini,, beli.. selesai”..
emang itu duit bapak moyang mu..?? Selesai perencanaan di internal TNI, lalu pengajuan ke negara, tunggu presiden tanda tangan, presiden tentu panggil mentri keuangan tanya duitnya ada gak, tanya menhan seberapa urgent kah barang yg mau dibeli untung ruginya apa dll.. setelah setuju. Barulah nego lanjutan dgn negara tujuan pembelian.
Sampe situ doang daya khayal gw.. maklumlah keseharian gw cuma nyakul di sawah.
pesawat tempur paling jelek….bahkan di banding kan dg tejas( dari jenis radarnya ) wkwkwwkwk
Bau baunya Su35 bakal batal nih
Produk Russia buat melawan china ya di ketawain china bung.. kata si china, jiaahh su35, pilot gw dh apal luar kepala kekurangan dan kelebihannya..
Neh gw kasih lawan anti dot nya..
Kelenger deh kita.
*Sehebat apapun skill pilot, jika pesawat itu sdh di pahami musuh karena pemakaian dia juga sehari hari, maka skill itu tdk lagi memastikan kemenangan. Apa lg jika Su35 china sdh di Upgrade sana sini dgn bantuan negara yg selalu mengambil keuntungan dr setiap konflik di dunia.
Xixixixi..
Apapun yang kita minta yang menjadi kebutuhan pesawat tempur yang akan kt beli dr Austria, situasi politiklsh yang akan menjadi penentu nya dan saat ketegangan di Laut China Selatan, terlebih itu melibatkan As dan negara negara di asia Tenggara. Kita minta di upgrade, so pasti di berikan. Masalahnya ini adalah kebutuhan mendesak.
Apapun yang kita minta yang menjadi kebutuhan peseat tempur yang dr Austria, situasi politik yang akan menjadi memulai memungkinkan nya, yaitu ketegangan di Laut China Selatan, terlebih itu melibatkan As dan negara negara di asia Tenggara. Kita minta di upgrade, so pasti di berikan. Masalahnya ini adalah kebutuhan mendesak.
Kita punya 2 skadron tanpa pesawat tempur
Skadron Udara 14 sudah 6 tahun tak ada pesawat tempur sejak pensiunnya F5 Tiger
Skadron Udara 12 sejak 2015 sejak Hawk 100 ditransfer ke Skadron Udara 15 & Hawk 200 dipindah ke Skadron Udara 1
Karena MenHan periode sebelumnya “invis” sampe ada yang bilang kemaren kita nggak punya MenHan. MEF II itu nyaris nggak jalan, terutama TNI-AU. Akhirnya MenHan yang sekarang pusing dan terpaksa melakukan crash program buat menuhin MEF III + menutup bolong MEF II.
Gimana mau jadi macan, kalau belinya second mlulu
Lama-lama makin membingungkan pemerataan kekuatan kita! Berangkat dari titik pengadaan 8 unit Osprey USD 2 miliar, jujur saja lah, ini sangat aneh jika ditarik ke pengadaan 2 unit Iver standart yg hanya USS 750 juta. Kok lebih mahal dana dialirkan ke jenis pesawat angkut daripada kapal sergap garis depan? Apakah pertahanan kita skrg sedang mengejar prestise kosong yg harus dibayar mahal sehingga mengorbankan ruang fungsi utama? Strategi pertahanan apa itu! Nah kemudian muncul lagi membeli typoon bekas, apalagi yg dibeli generasi pertama. Austria aja merasa bodoh dan menyesal membeli typoon nya, emang kita lebih pintar sehingga membeli apa yg disesali oleh mereka? Ada apa ini dengan program Kemenhan kita? Tolong lah fokus pada program MEF, disamping memenuhi kekuatan ideal juga pemenuhannya bertujuan semaksimal mungkin memajukan inhan dalam negeri!
Ini sepertinya penyakit “persaingan” ke-tokoh-an dan ke-aku-an! Bukan pepesan kosong, sudah dibawa-bawa ke ranah politik dimana Prabowo katanya menyelamatkan uang negera dari proyek alutsista sebelumnya. I’m the best, you aren’t! Ini persoalan serius, penyakit dalam bg pertahanan negara.
apakah prabowo seperti trump???
Iver dengan kombinasi 16 cells VLS Sylver w/t MICA dan 8 Exocet masih lebih murah daripada Gowind Malaysia yang paket kosongan USD 445 juta
Begini lho dek Boliev, cara memahaminya. Utk masalah pesawat Osprey. Itu semua bermuara dr teriak2nya AS soal surplus perdagangan RI dng AS senilai USD 8 Miliar. AS minta surplus itu digunakan beli produk AS, hal yg wajar donk, mengingat RI menikmati fasilitas bea perdagangan yg diberikan AS kpd negara berkembang. Nah yg dibutuhkan Ri saat ini penguatan Alutsista sehubungan konflik LCS yg jg merembet ke Natuna. Makanya duit surplusnya buat beli alutsista dr AS donk.
Kalo urusan alutsista bekas yg mau dibeli, itu merupakan salah satu cara potong kompas utk mempersingkat waktu pembelian alutsista disaat benar2 dibutuhkan.
Biasanya alutsista bekas + upgrade jauh lebih murah dan cepat datangnya. Contohnya aja F-16 block 52id dan tank leopard, dpt banyak dan sdh adopsi fitur terbaru setelah proses upgrade. Jd gak ada salahnya beli bekas, asal bukan bekas nyungsep alias rongsokan.
” Austria aja merasa bodoh dan menyesal membeli typoon nya, emang kita lebih pintar sehingga membeli apa yg disesali oleh mereka?”
———————————————————
Jawabnya yg pasti tentulah beliau2 di kemenhan jauh lebih pintar dr kita yg hanya fans boy dan bukan user dek. Krn beli bekas pastinya harga jauh merosot dr pd beli baru, begitu cara berpikirnya dek.
Kalo masalah duit 50 T dikembalikan itu proyeknya apa saja. Sebenarnya sdh bisa ditelusuri jejaknya. Alutsista apa yg setahun terakhir ini beritanya nongol yg pembeliannya jumlah besar padahal blom pernah ada rencana pembelian sebelumnya namun tiba2 sdh kontrak di awal tahun 2020 ini.
Nah klo yg kecil2 yg dimark up, dek Boliev tanyakan aja sama sales kancrutnya, si ayam jago. Jualannya dia dan kawan2nya yg katanya lobby cafe sturbuck itulah tukang mark upnya. Kalo dia membantah itu artinya dia sedang beralibi. Sarang mark up ya dr situ dek.
Tumben genah.
Mainan ane Telco lho. Link 16 gitu lho!
Program-program kecil mana yang di mark up. Jangan asal tuduh. Kecewa ni yee kita tidak minta RFI ke Rusia dalam beberapa program TNI gitchu!
Semua sudah lewat kajian
Makanya ada beberapa tender akhirnya cuma sekedar formalitas doang!
hohohoho
lempar batu sembunyi tangan,mark up dan pembatalan kontrak itu jelas dari rusia,sedang kan sekarang baru mau mulai kontrak baru.
apa saja barang yang kontrak nya dibatalkan????.
semua sudah jelas karna semua tau yang alot didatangkan dibatalkan dan itu rusia punya barang semua.
kohkoh kohkoh
weits ini bang ruskey yang nulis ? mantap djiwa. gini dong bang, berikan pendidikan buat junior2 ini. muehehe
” Kecewa ni yee kita tidak minta RFI ke Rusia ”
————————————————
Knp harus kecewa? Kan bukan ane sales kancrutnya.
” Program-program kecil mana yang di mark up. Jangan asal tuduh.”
———————————————-
Kalo mau saksinya, tanya aja meja sama kursi di Starbuck tempat para sales kanceut doyan mark up gerombolan ente nongkrong…(kan kata kibulan ente begitu).
Msh ingat kibulan ente tentang F-15
bakall diakuisisi dan kibulan F-35.?
Kalo lupa, i will remind you brother.
Ente kan 11 12. dng bung Narayana yg lagi buron, cuma bedanya kalo Narayana from Russian with Ngibul nah klo ente from AS with ngibul….hmmmm
Hohoho
Ente ternyata salah memahami komentar ane. Mengkhayal tingkat dewa nich. Pura2 lupa atau beneran lupa. Lobi Starbucks ente anggap lobi buat mark up. Jaman transparansi coy. Semua program dijatah dan semua BUMNIS dan partner TNI dapat bagian tapi ingat tak ada mark up
https://tni-au.mil.id/tingkatkan-interoperabilitas-alutsista-tni-au-gelar-kursus-tactical-data-link/
Ini link lho yang menunjukkan keberadaan konsultan dari US. SEjak Marsekal Hadi Tjahjanto dari TNI AU hingga jadi Panglima TNI beliau sudah menempatkan konsultan dari US dan tongkrongan mereka akhir pekan memang di Starbucks coy. Tak ada salahnya melakukan pendekatan toh salesman Rosoboronexport juga tak sungkan sungkan melakukan pendekatan ke mereka
Dunia dinamis bro. Perubahan selalu terjadi tapi yang abadi adalah kepentingan. Kita yang harus mengikuti perubahan
F15 adalah masa lalu tapi F35 adalah keniscayaan
Yang Mulia Bang Ruskye,
Justru karena surplus USD 8 miliar, supaya peluang ini digunakan sebaik mungkin, misalnya kehadiran Viper yang sangat dibutuhkan oleh TNI AU. Kita jangan beranggapan:”Kan ada surplus USD 6 miliar lg, walaupun USD 2 miliar utk Osprey dan paketannya!”. Emangnya slot surplus perdagangan hanya utk alutsista doang? Yang lain juga pasti nuntut tuh, misalnya: Kementerian Pertanian mungkin mau beli traktor made in USA, Kementerian Pemberdayaan Perempuan mau membeli skincare made is USA, Kementerian Kelautan mau membeli sangkar bibit lobster dsb.
Tapi yasuda lah, kita percaya sama Pak Menhan saja.
Kita dukung apapun yg jadi keputusan pemerintah. Ingat tidak ada Visi Menteri, yang ada adalah Visi Presiden. Jika jadi ambil ini pesawat itu juga harus persetujuan Presiden.
Dan pastinya dari TNI AU juga ikut memberikan penilaian sebagai calon user, kalau AU menolak sepertinya juga akan dibatalkan
kita sudah lama menggunakan produk eropa (Hawk100/200) dari salah satu anggota konsorsium Eurofighter. tentu dukungan dari mereka sudah cukup besar, dengan harapan kedepan akan ada penambahan lagi untuk trache-3 /3+/4 dll
Bekas NO Baru YES. Buat kedaulatan bangsa kok pake main main. Harus yang joss gandos bila sekalian beli, jangan yang sudah mbah mbah macam akyyuuu😂
Ujung2 nya Enak jaman ku tow kata sby..
Entah itu hibah entah itu bekas entah baru..
Tapi untuk urusan beli alutsista gak ribet kaya sekarang..
Tau tau udah deal dan pada berdatangan..
https://www.google.com/amp/s/amp.beritasatu.com/politik/657297-tb-hasanuddin-minta-menhan-prabowo-hentikan-rencana-beli-jet-tempur-bekas-dari-austria
Tetep mau SU35 strooongg bingiiitts..!!!😀
Wkwkwkwkwkwk
Duitnya dah dikembaliin di kementrian keuangan, diangap mark up 1250%.
Masih mimpi ya dek?.
Hohohoho
Bekas lg deh
Menurut saya sebaiknya menghindari pembelian pesawat bekas karena kita sdh punya F16 bekas banyak. Selain biaya perawatannya sangat besar maklum sudah tua dan berumur pendek juga membutuhkan biaya upgrade agar bisa bersaing dgn pesawat saat ini. Belum penyediaan sparepart dan servicenya krn pesawat ini belum pernah dimiliki oleh indonesia. Selain biaya operasi operasionalnya cukup besar. Pembelian bekas juga tdk memberikan TOT spt yg disyaratkan dlm UU. Daripada beli pesawat bekas lebih baik beli SU35 dan F15. Utk mengisi kekosongan gap lebih baik memaksimalkan F16 bekas kita yg sdh ada sebelumnya. Program strategis yg seharusnya diutamakan saat ini adalah rudal baik rudal balistik maupun SAM jarak menengah dan jauh.
Jam terbang masih super rendah bro! Artinya masih kinyis-kinyis
jam terbang emang masih rendah…tetapi radar masih jadul….cuma bisa rudal a to a jarak pendek…..tanpa irst….apalagi ya yg bisa di andalkan dr pesawat jadoel ini😂😂😂…. setelah sekian lama menjelek2an radar pesa su 35 akhirnya dapatnya yg jauh lebih jelek dr yg di jelek2an🤣🤣🤣🤣
PIYE PAK BOWOOO…..katanya mau merampingkan jenis pespur malah nambah jenisnya….. REMPONG !!
Kata Jokowi gak akan ada perang dalam 20 THN kedepan jadi santuy aja bro,kan Jokowi lebih tau dari kita.kan ada yg bilang juga kalau perang gak segampang itu bro,meluncurkan rudal balistik.jadi ngapain juga beli alutsista,kan gak ada perang,kalau perang gak gampang meluncurkan rudal balistik mending uangnya beli beras.
Ha..,………
Ngebet beli alutsista tapi gak ada perang
Kalau perang gak segampang itu meluncurkan rudal,jadi yg mana yg betul.
Woi……….
Cina itu komunis,keputusan mutlak ditangan xi Jinping,jadi kalau xijinping mabok dan merintahkan prajuritnya buat salvo ratusan dongfeng konvesional gimana,dan dicina gak ada yg berani sama xijinping.keputusan xijinping akan dipatuhi kalau tidak mati.
Beda sama demokrasi keputusan ada di eksekutif dan legislatif,jadi gak gampang.
Kan katanya gak ada perang,berani jamin.!
Dan katanya lagi cina gak gampang mensalvo rudal dongfeng kenegara lain,berani jamin.!ingat ya komunis………
Pepatah komunis ngeri Woi lebih baik hancur daripada dilecehkan.
Kalau xijinping kumat gilanya ya wasalam lah dek,siap2 hancur.
1 skuadron F-16 Viper
1 skuadron F/A-18 Block III
1 Skuadron E/A-18 Growler
1 skuadron F-15X
udh balik Ke akarnya US sj jgn ke Negara NATO krn CPO Indonesia di tolak
Masalahnya diksh ga sama mamarika 😂😂 klo betulan diksh tar si kecil singapore ngambek lagi merengek ke mamarika
Pasti fiksh kn sdh ttd CISMOA mslhnya ada duit gk sini nya? wkwkwkw
NATO? Eropa kali bro, US kan boss nya NATO
Siap kita dukung pak. Fix
Langkah tepat krbn Airbus punya kedekatan kerjasama dgn PTDI.
Gak usah mendang mending lgi
F22 f15 apa tuh..pespur andalan amerika gak bakal dijual semudah itu. Apalagi f35.
Sikat pak..ifx kfx msih lama,sekalian ambil 2 skuad gripen plus TOT
nggak nendang, liat Mesir jalan terus Su-35
Lbh baik indonesia fokus beli pespur baru & produksi kfx/ifx drpd repot2 mikirin typhoon bekas austria yg kabarnya nanti akan diganti pemerintah austria dgn F16 atau gripen.selain itu cina jg tdk akan punya nyali dilcs mengingat sekarang lcs dijaga ketat oleh mesin perang amerika & sekutunya.
Pak menhan ga cuma mikirin LCS masbro. Dia juga mikirin tetangga selatan kita punya peluang nusuk dari belakang lewat kasus Papua Barat. Media resmi ausie udah mulai sering beritakan kasus diskriminasi papua barat, lagi bangun opini pemerintah ga peduli sama papua barat. Kita ga mau kejadian Timor Timur keulang lagi sama Ausie tukang kompor
Media resmi ausie bukan dibawah kendali pemerintahan yg terpilih dan berkuasa sama halnya seperti dosini tidak seperti negara2 otoriter seperti komunis china yg medianya dibawah kendali partai lihat klaim ga rasional meteka tentang laut natuna.
Tidak ada yg bisa dopercaya ketika sebuah pemerintahan mampu
dan punya otoritas memutar balikkan fakta dan kebohongan lewat monopoli arus informasi sama halnya dgn orba
Ini beritanya menanyakan gorengan. Mama yg 48 F16 Viper, katanya SU35 katanya Rafale, ini ada lagi Thypoon..tpi PHP semua.
Yg mana saja lah terserah president Kita. Jadi apa kagak. Akhirnya andalan Kita hanya F16 Block 30ID gurun Dan MLU. Terimakasih pak SBY pilots gak jadi nganggur.
yang pasti sudah dipikirkan matang2, kita tunggu aja ada kejutan apa lagi.. terlepas dr pesawat sebenernya ini momentum untuk prototype2 alutsista yg selama ini bnyak dibuat tp madek. krn jokowi sudah perintahkan beli dr dalam negeri dan prabowo sprtinya mendukung industri dalam negeri.
Nah kan.. klo kita beli yg Austria ibarat beli F16 A/B tpi twin engine.. gk ada keuntungannya sama sekali! biaya upgrade mahal mending beli Typhoon baru Tranche 3 langsung
mending viper ajalah diseriusin,…itu yg paling cocok utk TNI AU sekarang ini,.kalo alasannya beli typhoon austria, bisa lebih cepat datangnya,..ya proyek viper buruan lah ditandatangani,..ampe skrg msh ngambang..smentara beli typhoon ex austria, bnyk kekurangannya,..kehadiranny di asteng jg, paling ngga ‘dianggap’,..kecuali itu peswt diupgrade,…tapi upgrade jg butuh waktu lama, selain biaya luar biasa mahal, belom kedepanny soal cost maintenance. Buat negara sprti indonesia yg anggaranny pas2an,..paling real ya viper itu,…viper yg lengkap feature2nya jg gak kalah lah ama rafale atau typhoon,..beda2 tipis.
Pengadaan Viper dan Su-35 itu project yang berbeda. Dua2nya (rencananya) bakal dibeli. Viper dan Su-35/F-15/Rafale/Typhoon itu sifatnya saling melengkapi, bukan saling menggantikan, nggak bisa dibandingkan, tidak apple to apple. Untuk workhorse sudah dipilih Viper (dari rumor2 yg beredar), jd Viper bisa dikatakan sudah goal, tinggal tanda tangan kontrak.
Sekarang pemerintah lagi bingung menentukan Heavy Fighter dual engine. Tadinya milih Su-35, tp rencana berantakan karena CAATSA. Maka muncul nama Rafale sebagai pengganti. Sekarang muncul lagi nama Typhoon second.
Dulu ditawarin Typhoon gress, dengan embel2 dirakit lokal, nggak mau (lebih pilih Su-35). Sekarang Su-35 mandeg, trus panik, kepepet, Typhoon dilirik lagi tapi second, generasi pertama pula. Kalau trance 2 atau 3 sih masih mending.
Tipikal negara +62…
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan TB Hasanuddin merespons surat Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner tertanggal 10 Juli yang beredar ke publik, terkait keinginan membeli pesawat jenis 15 Eurofighter bekas Austria.
“Kalau benar informasi ini, maka Kemenhan harus menghentikan rencana pembelian pesawat bekas ini,” katanya, Minggu (19/7/2020).
Lanjutnya, ia mengacu pada UU 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Menurutnya, dengan berbagai alasan DPR dan pemerintah sudah berkomitmen untuk tidak membeli lagi pesawat bekas.
Pak TB jelas semua juga mau yg baru, tpi duitnya ada apa kagak. Skrg lebih penting bantuan Covid19. Byk org nganggur butuh sembako.
Klu duit cuman cukup buat beli 4 unit yg baru, tapi butuhnya 12 unit. Terus piye…
Plan B jika negosiasi Su35 gagal
Acquitision+ upgrade cost Typhoon ex Austria masih lebih murah daripada Gripen NG & Su 35 yang kini sekitaran USD 105-115 juta
Darimana tau upgrade murah? Inggris yg sama2 punya Tranche 1 lbh milih ngejual pespurnya terus beli Tranche 3 dibanding upgrade krn biayanya lbh mahal..
Kalau mau pakai asumsi upgrade bisa dilirik paket F16V Taiwan & Singapura dengan harga USD 40-45 juta dengan list AESA radar, IRST, HMD, INS, Link16, CMS, IFF. Eropa menerapkan insurance as part of guarantee dengan nominal 20% alhasil upgrade bakal naik kurang lebih jadi USD 48-54 juta.
Padanan yang sama yaitu Su35 basic package dalam kontrak 11 unit buat TNI AU saja USD 115 juta belum lagi tawaran buat Link16 ready paket mumer USD 15 juta yang S4 ditawarkan pas momen pergantian Kasau total acquitision cast Su35 bisa USD 130 juta
Austria kasih tawaran USD 45 juta dengan asumsi biaya upgrade USD 55 juta total keluar duit USD 100 juta
Selisih 30 juta bisa dipakai buat membeli arsenal macam IRIS T & Meteor
Ingat lho pembelian alutsista kita cenderung FBNW termasuk juga dari Rusia. BMP3F buat amunisi kontrak terpisah beli dari Ukraina
Gak usah ngibul
“kontrak 11 unit buat TNI AU saja USD 115 juta ”
Ente jd sales modal ngibulin orang aslinya….hmmmm
Sepatutnya ente lebih banyak berdoa jangan sampai Su35 senasib dengan Strrguschy. 2010 & 2012 dapat kunjungan, sudah dibikin MoU dan preamble agreement tapi bubar karena barang bekas tapi kinyis-kinyis ex Brunei
Sdh jelas permasalahan Strrguschy adalah kaitan dng kesepakatan TOT kok diplesetkan dng kapal dr Brunai. Ente boleh jualan kecap ngibul dng yg lain tp klo dng ane, gak laku kibulan ente bro.
Makanya kalo ngasi informasi itu jng menyesatkan dng bumbu ngibul asal barang ente laku tp mark up.
Su35 basic package USD 115 juta,.? ketauan banget sales kacang goreng.
Panjang lebar om tpi percuma dijelasin juga soalnya ntar bayarnya pke euro bkn dollar wkwk.. Euro > dollar = Typun mahal
hohohoho.
keliatan sekali galau nya fanboy rusiah hampir mendekati prustasi.
prabowo”no rusian party”
Bknya 3billion dolar utk 15 pesawat incld mro,weapon dll y?
Kita tidak bakalan beli semahal itu lho. MRO & weapon tak bakalan ada.
Basic package USD 40-45 juta masih bisa ditawar lagi
Ingat lho lobi-lobi ala emak emak di pasar dalam Leo 2 & Nakhoda Ragam serta Falcon Gurun terbukti kita andal dalam negosiasi tersebut lho dan buktinya beli Leopard dapat bonus Marder. Nakhoda ragam bisa ditawar 1/3 harga dari yang diminta Brunei dan bikin Malaysia menangis berat
Good deals banget koo dpt harga $40-50 m each meski fbnw,iver jg dpt harga bagus cm 313 each jempol buat para peloby ,tp ya apa harus ada flash sale kyk gini baru beli wkwkwk moga maintenance,cpfh & logistic suport nya gk mahal
Cocok banget dong buat indonesia,
Kan yg penting barang dateng dulu,
Bisa dipake pilot buat latihan,
Begitu udh jago, tinggal diupgrade versi paling mutakhir + embel2 tot,
Mirip kya sukhoi deh.
Bungkus pak menhan.
Beli bekas agar pilot TNI-AU dapat beradaptasi dengan jenis baru pesawat tempur.
Setalah itu barulah beli Typhoon baru dengan spesifikasi lebih tinggi
Selama harganya sesuai hal itu tidak masalah, misal dinego jatuhnya US$25 juta per pesawat
Mau fafale,typon,f35 percuma……
Bilanglah salah satu pesawat itu dibeli dan ditaruh dinatuna,dan kalau duel dengan pesawat cina menang telak alias pesawat cina kalah kalau terjadi caos.
Lalu cina ngamuk mensalvo NKRI dengan ratusan dongfeng balistik konvensional dengan hululedak 3 ton,sasarannya,……
Istana negara,mabes TNI,mabes aku,mabes Al,mabes ad,gedung DPR/mpr,pangkalan Al,dan pembangkit listrik,bendungan,dan Monas,dll….
Apa yg bisa dilakukan NKRI Woi……
Bengong aja
Protes
Atau mengadang rudal dongfeng? Dengan apa..? Membalas dengan apa? Pake pesawat tempur? Ya dirudal sama cina pake s400 atau rudal yg lain,cina itu negri 1001 rudal.
Pake kapal perang ? Kapal perang cina lebih monster,seharusnya yg diutamakan itu rudal sam,jadi ada penangkalnya,setidaknya bisa lah ada perlawanan.
Ini pasti jalannya perang kalau NKRI caos sama cina,emang pesawat tempur bisa menghadang rudal balistik,mikir………
tak segampang itu meluncurkan rudal balistik, cina akan berfikir 1.000.000 x
karena dunia dan PBB akan merespon tindakan itu, ujungnya PD-III
sama seperti kalau mau, amerika dengan mudah melenyapkan IRAN dengan Nuklir balistiknya, tapi tak pernah dilakukan, karena alasan tadi
Sans bos, dekat Jakarta udah ada NASAMS
Lho bukannya perang kemerdekaan RI… perang Vietnam … perang Afghanistan sudah membuktikan woooiiii. apa memang kalau superpower pada akhirnya menang???
Mang spaa yg mau perang sama cina bro !! Musuh kita bukan cina melainkan tetangga
Walupun begitu kita hanya stand by di Natuna anambas dan pontianak
Masbro ga sembarangan buat nyerang negara lain pake rudal nuklir. Sudah ada perjanjian buat negara yg punya rudal nuklir yg serang duluan tanpa kesepakatan akan dianggap musuh bersama oleh seluruh negara. Klo ga ada kesepakatan ini udah dari kapan taun dunia ini udah hancur oleh perang nuklir masbro.
Si Rudal lemot & Jago Mogok
Maybe, point utama yang dikejar menhan soal waktu pengiriman pespur. Dengan membeli bekas, jelas lebih cepat daripada harus ttd kontrak pespur baru yang pasti butuh itungan tahun buat unit perdana dateng dan operasional di TNI.
Dan sesuai kebiasaan indonesia, mungkin prinsipnya barang yang penting dateng dulu lah, soal upgrade dan armament belakangan. Yang penting dapet tambahan alutsista dan pilot nggak nganggur di hanggar madiun dsb.
Klo LCS ga se”panas” sekarang, mungkin pengadaan pespur baru akan terus molor GJ kyak sebelumnya. Su-35 ribet soal imbal dagang, rafale kemahalan bingits, pespur RRC jelas sangat kecil diakuisisi, gripen kurang sreg, seri F US yang ditawari cuma F-16V tok itupun harus nunggu antrean klo jadi order. Ya jelas yg paling memungkinkan eurofighter, walaupun varian dasar.
Upgradenya super mahal bro soalnya pasang radar baru, upgrade avionik, pasang IRST, upgrade mounting biar bisa gotong rudal baru, dll mending beli pesawat baru
Bisa jadi opsinya yg di upgrade sebagian atau 1/3nya saja. Jadi lebih hemat.
Ane jualan JF17 target bukan TNI AU tapi secara objektif Timor Leste
Ada program 6-10 unit light fighter di sono
F 15 & F 16 juga ditawari lho kita ngototnya F 35
Saya saya dukung ini dah sesuai engak pake mark up dan harganya juga pantas. Ketimbang su35 sama s400 engak sesuai harganya kemahalan masak sampai 12 kali dari harga sebenarnya.
Rusia memang culas Kalou sama uang sama kayak china, banyak tipu tipu nya.
Jadi tak dukung Prabowo sebagai menhan untuk membatalkan pengadaan alutsista dari dua negara tersebut, Kalou perlu putus hubungan militer nya sekalian karna Komunis musuh dunia.
Saya fikir apa pun ideologi negara tsb ga banyak pengaruhnya bwt kita saat ini. Karna masing2 negara tsb pst lbh mementingkan kepentingan negara tsb. Contohnya trump skrg arah kebijakan nya klu merugikan atw tdk terlalu menguntungkan negaranya walau eropa sekalipun ya di babatnya. Pakistan di satu sisi jalin kerjasama militer dgn US terkait bantuan militer dlm hal memberantas terorisme tp skaligus negaranya adalah surganya militan plus jalin kerjasama militer dgn cina dan msh bnyk contoh lainnya. Jd menurut saya klu kita mau survive ya pake cara yg sama mana yg menguntung bwt kepentingan negara kita ya tampung. Tp alangkah lbh baik klu dlm hal kerjasama pengembangan teknologi demi kemandirin bangsa, sehingga bila arah kepentingan negara kita berubah dgn partner kita trs di embargo yah minimal ga terpuruk2 banget krn ada teknologinya yg sdh bs kita kuasai.
aku sih NO
Beli aja typhoon jangan beli osprey, lebih efektif.. 😂
Dalam kondisi mendesak dan max 1 thn harus sdh di operasikan TNI AU, pilihan hanya pesawat bekas yg masih aktif. Thypoon Ex Austria dan F15 ex Jepang dan F15 + F18 US yg mulai di ganti F35 adalah pilihan logis. LCS adlh momentum yg bagus utk mengakuisisi nya
Gak usah tergiur jet tempur Eurofighter Typhoon punya Austria. Mending nunggu F-22 pensiun 3 tahun lg. Bisa utk menghadapi pespur siluman China jika dlm kondisi perang. Klo kondisi damai bisa buat ngangkut sembako. Tepung terigu, minyak goreng, gula pasir, telur fan mie instan bisa dimuat di weaponbay nya.
Bukan begitu mbah gatol.?
Dsaya dukung..nanti bida diupgrade spt halnya F16 emlu dan ada PTDI yg deket dgn airbus.klo beli baru gress akan butuh wktu lama sembari tunggu su35 ambil aja krn kebutuhan mendesak pespur yg bisa di operasikan lngsung mengingat byk pilot jet tempur RI nganggur dan situasi LCS yg tidak menentu.
.jdi ambil lah cepat pak wowo.
Su 35 dan IFx trus lanjutkan
F22? Ngimpi di siang bolong. Jepang sampai memohon bisa beli F22 aja kaga dikasih
Jepang mau beli baru, ya wajar ga di ksh mas. Wong US aja ga mau bwt baru lg. Klu yg di maksud om ruskey kan yg bekas bs aja di ksh. Cm saya ga tau yg di kasih itu bwt dibeli klasifikasinya yg bekas apa ? Wkwkkkk
Kalau biaya upgradenya mahal banget, mending ambil Rafale sekalian, atau F-15 dari “gurun”, hehe…
Bahkan masih lebih bagus Su-35 dibanding Typhoon Trance 1.
Jadi pikir2 lg deh…..
Mending balik k selera asal nih…..
Pak menhan harusnya udah pikirkan matang2 sih. Dia sudah pertimbangkan kedekatan Airbus dengan PTDI dan hal urgen menghadapi potensi musuh dari utara dan selatan. Nunggu yang baru, kemungkinan 4 tahun lagi baru jadi padahal sudah mendesak. Semoga beliau sudah ada perhitungan matang yang dapat dijelaskan
Betul bung, Pak Menhan memang d hadapkan kondisi yg dilematis.
Bujet pas2an, ancaman jangka pendek, coverage are luas dsb.
Pespur yg d pilih blm tentu yg ideal tp pstinya yg plg realistis.
Udah di pikir bung, udah fix mau dibeli
Anggota DPR komisi 1 TB Hasanuddin menolak keinginan menhan Prabowo kalo berita ini benar soaly bertentangan dengan undang-undang tahun 2012 soal TOT dan konsisten tidak membeli barang bekas
Yang nolak cuma dia doang. Buktinya tank leopard bekas jerman dan herki bekas ausie bisa kebeli