Angkatan Laut AS Ingin Desain Jet Termpur Generasi Keenam ‘Sendiri’, Northrop Grumman Rilis Render F/A-XX

Render F/A-XX dari Northrop Grumman.

Ego antar matra mengemuka dalam pengembangan jet tempur generasi keenam di Amerika Serikat, yang mana Angkatan Laut AS (US Navy) menginginkan jalur yang berbeda untuk penempur generasi penempur masa depan, yang bukan varian naval dari Boeing F-47 NGAD (Next Generation Air Dominance) untuk Angkatan Udara AS (USAF), yang sepintas mengingatkan pada penciptaan rancangan antara F-16 Fighting Falcon dan F/A-18 Hornet.

Baca juga: Boeing Raih Kontrak Pengembangan Jet Tempur Generasi Keenam F-47 NGAD, Ada Dugaan Dilengkapi Canard

Dan render pesawat tempur generasi keenam F/A-XX milik Angkatan Laut AS yang dirahasiakan kini mulai dibuka secara perlahan oleh Northrop Grumman, dengan meluncurkan render (reka citra) baru pesawat tempur berbasis kapal induk versinya, yang memberi beberapa petunjuk desain.

Seperti Angkatan Udara AS, Angkatan Laut AS sangat ingin memiliki jet tempur generasi keenam. Namun, karena kebutuhan akan pesawat tempur dengan kemampuan khusus, dan persaingan industri yang ada sejak lama, maka Angkatan Laut AS lebih memilih memiliki desain jet tempur sendiri daripada varian kapal induk dari F-47 NGAD yang direncanakan.

Perselisihan ini sering dibicarakan di media arus utama, dan F/A-XX sering dianggap sebagai kambing hitam dalam pembicaraan anggaran pertahanan, karena Kongres mempertanyakan apakah AS benar-benar membutuhkan dua pesawat tempur canggih di era pemotongan anggaran, sementara dominasi peperangan saat ini banyak dilakukan oleh drone.

‘Bocoran’ Spesifikasi Boeing F-47 Jet Tempur Generasi Keenam AS, Kecepatan Mach 2 dan Radius Tempur 1.850 Km

Meskipun demikian, Northrop Grumman bertekad untuk menunjukkan bahwa mereka masih mampu bersaing dengan rivalnya, Boeing, untuk mengamankan kontrak F/A-XX, jika akhirnya disetujui.

Alasan Angkatan Laut AS memilih F/A-XX adalah karena persyaratan misinya sangat berbeda dari Angkatan Udara. Selain operasi kapal induk, alih-alih berfokus pada superioritas udara, Angkatan Laut AS lebih memilih untuk terlibat dalam peperangan permukaan, menyerang kapal dan target darat. Selain itu, meningkatnya ambisi Cina membuat pesawat tempur jarak jauh lebih cocok untuk beroperasi di Samudra Pasifik.

Meskipun dari gambar render yang diterbitkan tidak terlihat sayap atau bagian belakang pesawat, namun masih diambil beberapa kesimpulan dari rendering tersebut.

Sejarah Northrop YF-23 – Salah Satu Tolak Ukur Mode Stealth Pesawat Tempur

Pertama, garis-garis konsep tersebut sangat mirip dengan Northrop Grumman YF-23 yang sedang dikembangkan perusahaan tersebut untuk bersaing dengan program Advanced Tactical Fighter (ATF) Angkatan Udara. Hidungnya yang tajam dengan dagu menonjol yang menyatu dengan sayap ke badan pesawat, dioptimalkan untuk fitur siluman. Kemampuan stealth diperkuat oleh air intake yang dipasang di atas, yang merupakan indikasi lain dari pengurangan profil sensor pesawat.

Selain itu, profil pesawat menunjukkan volume yang besar untuk membawa lebih banyak bahan bakar, senjata, dan muatan lainnya. Selain itu, terdapat heavy-duty undercarriage dengan roda ganda, yang menunjukkan bahwa pesawat ini dirancang untuk operasi kapal induk di mana pesawat tempur cenderung mendarat di dek dengan hentakan yang cukup keras.

Program F/A-XX direncanakan untuk menggantikan F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler sekitar tahun 2030-an, yaity sebagai pesawat tempur multiperan yang dapat beroperasi di wilayah musuh.

Meskipun spesifikasinya masih dirahasiakan, kompetisi ini memperkirakan desain pemenang akan memiliki jangkauan 25% lebih jauh daripada F-35C, atau sekitar 837 mil laut (964 mil, 1.551 km) dan dapat mengisi bahan bakar di udara menggunakan drone tanker MQ-25 Stingray.

Gantikan Peran “Buddy to Buddy” Air Refueling Super Hornet, Drone Tanker MQ-25 Stingray Beroperasi dari Kapal Induk di Tahun 2026

Kecepatannya juga agak samar, tetapi seharusnya lebih cepat daripada pesawat tempur AS saat ini. Fitur lainnya termasuk sensor baru, AI dengan jaringan canggih, dan kemampuan untuk terlibat dalam kerja sama berawak-nirawak – manned-unmanned teaming (MUM-T) dengan Collaborative Combat Aircraft (CCA) – yang lebih dikenal sebagai Loyal Wingmen.

Jika program ini terus didanai, maka keputusan akan nasib F/A-XX diperkirakan akan diambil pada tahun 2028. (Bayu Pamungkas)

Jet Tempur Generasi Keenam Cina, Chengdu J-36 Tuntaskan Uji Penerbangan Uji Kedua