Oto Melara 76mm Gunnery Firing Range di Paiton, Jadi Satu-satunya di Asia Tenggara

Oto Melara 76 mm bisa diibaratkan sebagai meriam ‘sejuta umat,’ lantaran populasinya begitu banyak digunakan pada beragam jenis kapal perang manca negara. Namun, dari sekian banyak Oto Melara 76 mm yang beredar, tak banyak yang dijadikan sebagai simulator sistem senjata. Rupanya di Asia Tenggara, baru Indonesia yang sukses mengintegrasikan Oto Melara dengan GFR (Gunnery Firing Range).

Baca juga: Oto Melara 76mm Eks KRI Slamet Riyadi 352 Uji Tembak Perdana di Paiton

Seperti yang ditempatkan di Paiton, Jawa Timur, memang bukan Oto Melara keluaran anyar, lantaran asalnya merupakan hasil lungsuran dari meriam pada haluan frigat Van Speijk Class – KRI Slamet Riyadi 352 yang telah purna tugas. Setelah uji penembakan perdana pada 21 November 2019, maka pada 11 Februari 2021, kembali dilakukan uji tembak amunisi yang berhasi melesat dengan sempurna.

Amunisi yang melesat sempurna ditembakkan melalui remote dengan menggunakan CMS (Combat Management System) GFR (Gunnery Firing Range) buatan BUMN PT Len Industri, tepat mengenai sasaran yang telah ditentukan. Dikutip dari situs len.co.id, GFR dikatakan terdiri dari sensor, persenjataan, dan command center layaknya kapal perang yang dapat digunakan untuk latihan operasional pertempuran di kapal. Khususnya prosedur penembakan menggunakan meriam tanpa harus mengoperasikan kapal perang di laut.

“Combat system itu terdiri dari sensor-sensor dan efektor atau persenjataan. CMS-nya full kita kerjakan sendiri. Len juga merefurbis senjata meriam OTO Melara KRI Slamet Riyadi (352) untuk diintegrasikan pada GFR ini,” ujar Direktur Bisnis dan Kerjasama PT Len Industri (Persero) Wahyu Sofiadi.

GFR yang dibangun di Paiton merupakan yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Fasilitas ini mirip seperti yang sudah ada di Italia dan di Australia.

GFR merupakan fasilitas pelatihan guna mengasah manajemen tempur prajurit artileri yang sedang menempuh pendidikan di Pusdikpel Kodikopsla Kodiklatal. Bahkan GFR juga bisa dikembangkan agar dapat menembak target di udara atau anti air warfare. Dengan syarat GFR harus dilengkapi dengan radar tracking, karena yang sekarang baru dilengkapi dengan radar navigasi.

Oto Melara 76 mm adalah meriam dengan kaliber 76 mm × 900 mm (complete round). Meriam ini dapat melepaskan tembakan 85 proyektil per menitnya. Kecepatan luncur proyektil mencapai 900 meter per detik, dengan jarak tembak efektif mulai dari 5 km sampai 20 km.

Baca juga: Otomatic SPAAG – Kanon Hanud Self Propelled dari Platform Oto Melara 76mm

Kabarnya dengan upgrade CMS, GFR akan dikembangkan dengan penambahan meriam kaliber 57 mm dan 40 mm. TNI AL diketahui telah memiliki ‘stok’ meriam yang dimaksud, seperti Bofors 57 mm MK1 eks korvet KI Hajar Dewantara 364, dan meriam Bofors 40 mm eks beberapa Landing Ship Tank. (Bayu Pamungkas)

7 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *