AC-130 Gunship Makin Lethal, Sukses Luncurkan “Black Arrow” – Rudal Jelajah Kecil yang Hemat Budget

Pesawat serang darat berat bersenjata berat AC-130 Gunship dikabarkan bakal diperkuat jenis senjata baru yang menjadikannya dapat melakukan serangan presisi jarak jauh layaknya pesawat tempur atau bomber. Persisnya AC-130 digadang untuk mampu meluncurkan rudal jelajah kecil (small cruise missile) Black Arrow.
Dirancang oleh Leidos Holdings, Inc, Black Arrow dikenal sebagai small cruise missile untuk memberikan kemampuan serangan presisi jarak jauh dari berbagai platform udara, rudal ini menonjol karena ukurannya yang ringkas, biaya produksi yang rendah, dan fleksibilitas dalam misi. Harga Black Arrow per unit sekitar US$150.000, sangat rendah dibanding rudal jelajah berat seperti JASSM atau Storm Shadow.
Dalam arti lain, Black Arrow dirancang untuk memberikan kemampuan serangan presisi dari jarak jauh, terutama bagi platform udara yang sebelumnya tidak memiliki kemampuan tersebut. Dengan ukurannya yang kecil dan biaya produksi yang rendah, rudal ini memungkinkan peluncuran dalam jumlah besar, memberikan keunggulan dalam skenario konflik modern yang membutuhkan respons cepat dan efisien.
Seperti dikutip The War Zone, disebut jangkauan Black Arrow dengan sayap lipat dapat mencapai jarak 400 nautical mile (sekitar 740 kilometer) yang menempatkannya jauh di atas perkiraan sebelumnya.

Dan pada bulan Maret 2025, Leidos mengumumkan telah menuntaskan uji coba peluncuran Black Arrow dari AC-130J Ghostrider. Dengan berat sekitar 90,7 kg, Black Arrow dirancang untuk menampung berbagai muatan yang berbeda dan bukan hanya hulu ledak kinetik.
Rudal tersebut diuji dari AC-130J melalui sepasang Ramp Launch Tubes (RLT) yang dipasang di ramp belakang pesawat, tetapi opsi peluncuran lainnya sedang ditawarkan. Untuk peluncuran udara dari platform lain, Black Arrow kompatibel dengan tiang penyimpanan tradisional yang ditemukan pada pesawat sayap tetap.

Saat ini, Black Arrow kompatibel dengan jarak lug 14 inci pada pesawat sayap tetap. Ini termasuk rak pembawa ganda BRU-78 yang digunakan pada drone tempur (UCAV) MQ-9 Reaper serta pesawat serang ringan OA-1K, yang baru-baru ini secara resmi diberi nama Skyraider II dan telah diserahkan kepada US Air Force Special Operations Command (AFSOC). Selain pesawat, perusahaan juga sedang mempertimbangkan opsi untuk meluncurkan Black Arrow dari platform darat dan maritim.
Sebagai rudal jelajah ringan (lightweight cruise missile) yang dirancang untuk memberikan kemampuan serangan presisi jarak jauh, sumber tak resmi menyebut Black Arrow kemungkinan menggunakan micro turbojet atau miniature turbofan, seperti mesin dari kelas TJ-150 (Orbital ATK) atau sejenis, untuk memberikan efisiensi jelajah jarak jauh. Sementara untuk kecepatannya, Black Arrow ditaksir dapat melesat Subsonik (diperkirakan di kisaran Mach 0.6–0.8).
Black Arrow kemungkinan menggunakan pemandu GPS/INS dan potensi integrasi sistem pemandu akhir berbasis EO/IR atau laser designation tergantung pada konfigurasi misi. Fungsi lain dari Black Arrow dapat digunakan dalam versi konvensional (kinetik) maupun non-kinetik seperti muatan peperangan elektronik atau decoy. (Bayu Pamungkas)
Makin Garang, C-130 Hercules Kini Mampu Meluncurkan Rudal Jelajah AGM-158 JASSM


