Lupakan Stinger! Rusia Uji Coba Hermes, MANPADS Spesialis Pembantai Drone

Industri pertahanan Rusia tengah melakukan manuver teknologi besar-besaran dengan mengembangkan sistem pertahanan udara portabel (Man Portable Air Defence System/MANPADS) generasi terbaru yang diberi nama Hermes (Germes). Pertama kali diperkenalkan ke publik oleh pengembangnya, NPO Kaysant, pada awal September lalu, sistem ini diklasifikasikan sebagai MANPADS khusus anti drone.
Meski fokus utamanya adalah membasmi ancaman drone yang kian dominan, pihak pengembang menegaskan bahwa Hermes juga memiliki potensi mematikan untuk melumpuhkan helikopter yang terbang rendah.
Secara teknis, MANPADS Hermes membawa spesifikasi yang sangat unik dan berbeda dari rudal panggul konvensional. Berdasarkan data teknis yang tersedia, sistem ini dirancang sangat ringan dengan berat hanya sekitar 1,2 kilogram, sehingga memberikan mobilitas luar biasa bagi personel infanteri di garis depan.
Untuk urusan daya hancur, Hermes menggunakan basis amunisi dari pelontar granat VOG-25 sebagai hulu ledak sekaligus muatan peluncurnya. Dengan kemampuan akuisisi target hingga jarak 500 meter, Hermes menjadi solusi taktis yang efisien untuk menghancurkan drone pengintai maupun kamikaze dalam jarak dekat.

Keunggulan Hermes terletak pada sistem pencari optik yang jauh lebih sensitif dibandingkan sensor infra-merah pada MANPADS standar seperti Igla atau Verba. Sensor ini mampu mengunci tanda panas kecil dari mesin drone yang suhunya relatif rendah, yang sering kali gagal dideteksi oleh rudal besar.
Penggunaan amunisi tipe VOG-25 juga mengindikasikan bahwa Rusia berupaya menekan biaya operasional seminimal mungkin, memungkinkan setiap prajurit membawa sistem pertahanan udara sendiri tanpa harus mengandalkan rudal mahal untuk target yang murah.
Pauk-30B: Senjata Jaring Anti Drone Terbaru Rusia Mulai Unjuk Gigi di Ukraina
Langkah Rusia dengan memperkenalkan Hermes menandai pergeseran besar dalam peperangan modern, di mana rudal konvensional mulai digantikan oleh sistem yang lebih spesifik, murah, dan massal. Jika Hermes berhasil melewati uji coba tempur yang dijadwalkan pada akhir tahun ini, maka sistem ini akan segera masuk ke jalur produksi massal.
Kemampuan Hermes untuk melumpuhkan drone tanpa harus mengandalkan sistem peperangan elektronik (EW) menjadikannya aset yang sangat dinantikan untuk mengamankan wilayah udara garis depan secara instan dan mandiri. (Bayu Pamungkas)
Calon Pengganti MANPADS Stinger: Lockheed Martin Sukses Tuntaskan Uji Luncur Perdana Rudal NGSRI



Manpads biasanya dipegang oleh prajurit yang ada di darat.
Nah soal prajurit yang ada di darat personil terbanyak ya angkatan darat. Mereka diorganisir di antaranya jadi regu, peleton, kompi, batalyon, brigade dan divisi. Nah tentang ini saya akan bahas rumor yang dilempar oleh admin FB pedang keraton meliuk-liuk.
Nah baru-baru ini banyak dibentuk batalyon teritorial pembangunan (BTP) di tiap kota. Padahal di tiap provinsi rencananya akan dibentuk kodam. Biasanya kodam itu adalah terdiri dari 1 divisi yang membawahi beberapa brigade dan terdiri dari 8 sampai belasan batalyon. Targetnya 1 BTP berjumlah 1000 prajurit. Jadi 1 divisi bisa terdiri dari belasan ribu prajurit.
Nah faktanya ada beberapa provinsi yang bisa saja terdiri dari 19 sampai 30an kota dan kabupaten, alias ada kodam yang bisa saja terdiri dari 19-30an BTP dengan jumlah personil bisa jadi 19-30ribuan orang. Ini terlalu besar untuk 1 kodam.
Oleh sebab itu perlu dibentuk beberapa divisi TP di beberapa kodam yang punya puluhan BTP. Contoh Jawa tengah ada 35 kota dan kabupaten jadi akan ada 35 BTP di situ dengan jumlah personil 35 ribu orang. Ini terlalu besar. Jadi kodam di Jawa Tengah mungkin akan membawahi 2 atau 3 divisi teritorial pembangunan. Begitu juga Jawa timur ada 38 kota dan kabupaten berarti ada 38 BTP sehingga bisa jadi akan dibentuk 3-4 divisi teritorial pembangunan di bawah kodam di Jawa timur.
Nah dari situ jelas kan alasan akan dibentuk divisi TP di kodam.