Perancis Canangkan Pengembangan Rudal Balistik Darat Jarak Menengah dengan Jangkauan Lebih dari 2.000 Km

Menimbang eskalasi yang terjadi dalam perang di Ukraina, Perancis kini tengah menjajaki kemungkinan untuk menciptakan rudal balistik darat jarak menengah baru (medium-range ground-based ballistic missile/MRBM) yang mampu menyerang target pada jarak lebih dari 2.000 km.

Baca juga: Rusia Produksi Rudal Balistik Iskander-1000, Separuh Wilayah Eropa dalam Jangkauan Serangan

Hal ini dilaporkan oleh publikasi Hartpunkt, mengutip laporan yang diterbitkan oleh Majelis Nasional Perancis Sementara tentang spesifikasi teknis untuk rudal balistik baru dengan hulu ledak konvensional (non-nuklir) saat ini sedang dikembangkan. Tujuan dari penciptaan rudal balistik darat jarak menengah adalah sebagai sarana pencegahan non-nuklir dan penghancuran target musuh dari jarak jauh.

Bersamaan dengan pemaparan konsep tersebut di parlemen, kemungkinan untuk menyebarkan rudal ini di luar wilayah Perancis juga dibahas.

Perlu dicatat bahwa pada awalnya, rudal balistik dan rudal jelajah dipertimbangkan. Namun, mengingat pengalaman tempur dalam perang di Ukraina, keputusan dibuat untuk mendukung rudal balistik sebagai sarana yang jauh lebih sulit dicegat.

Rudal Balistik M51 di Kapal Selam Triomphant Class – Rahasia Kekuatan Nuklir Perancis dari Bawah Lautan

Menurut juru bicara parlemen Perancis, mereka berharap adanya integrasi erat antara program European Long-Range Strike Approach (ELSA) dan program serangan darat jarak jauh PEM FLP-T Perancis yang ada. Yang terakhir melibatkan pengembangan rudal serang jarak jauh dan rudal jelajah jarak jauh.

Saat ini, Perancis tetap menjadi satu-satunya negara Eropa dengan kemampuan memproduksi rudal balistik. Negara Eiffel ini memproduksi rudal balistik antarbenua M51 yang diluncurkan dari kapal selam dan berpartisipasi dalam pengembangan kendaraan peluncur antariksa Ariane.

Rudal balistik S3.

Perlu dicatat bahwa gagasan untuk membuat rudal balistik darat yang diluncurkan dari truk telah dibahas sejak tahun 2024, ketika persyaratan awal untuk menyerang target pada jarak lebih dari 1.000 km diajukan.

Selama Perang Dingin, Perancis juga merupakan satu-satunya negara yang memiliki rudal balistik taktis produksi dalam negeri, yang dikenal sebagai Pluton.

Rudal balistik Hadès.

Pesaing potensial untuk kontrak pengembangan sistem rudal baru tersebut termasuk raksasa pertahanan Eropa MBDA dan konsorsium kedirgantaraan Perancis Ariane Group, yang dimiliki oleh Airbus dan Safran dan bertanggung jawab untuk mengembangkan rudal M51 dan rangkaian kendaraan peluncur orbital Ariane.

Kondisi saat ini, Perancis saat ini hanya memiliki kemampuan rudal balistik melalui rudal M51 yang diluncurkan dari kapal selam, berfungsi sebagai bagian dari penangkal nuklir strategis. Sejak penonaktifan rudal balistik berbasis darat seperti S3 (diluncurkan dari silo) dan Hadès (diluncurkan dari platform truk) pada akhir 1990-an, maka Perancis tidak memiliki sistem rudal balistik darat.

[the_ad id=”77299″]

Tidak adanya sistem rudal balistik darat menciptakan celah dalam kemampuan serangan jarak jauh konvensional. Pengembangan MRBM baru bertujuan untuk mengisi celah tersebut dan memperkuat kemampuan pertahanan nasional serta otonomi strategis Eropa.

Proyek MRBM Perancis masih dalam tahap awal diskusi antara Kementerian Angkatan Bersenjata, Staf Umum Angkatan Bersenjata, dan Direktorat Jenderal Persenjataan (DGA). Belum ada jadwal resmi untuk demonstrasi atau produksi, namun proyek ini menunjukkan arah baru dalam kebijakan pertahanan Perancis. (Gilang Perdana)

Korea Utara Luncurkan Hwasong-16B – Rudal Balistik Jarak Menengah Hipersonik Berbahan Bakar Padat

2 Comments