‘Zero-zero Ejection’, Masih di Jalur Taxii, Penumpang Tandem Seat Jet Tempur F-15D Eagle Terlontar

Kokpit yang sempit ditambah bayang-bayang manuver ekstrim, bisa membuat seorang penumpang yang berada di kursi belakang pesawat tempur panik. Dalam kondisi panik, sesuatu yang fatal bisa terjadi, salah satunya pernah menimpa pria berusia 64 tahun yang ketika panik tak senjaja menekan tombol kursi lontar (ejection seat) di Rafale B (varian tandem seat) milik Angkatan Udara Perancis.

Baca juga: Abaikan Prosedur Keselamatan, Pria 64 Tahun ‘Terlontar’ dari Rafale B

Insiden di atas terjadi pada 20 Maret 2019, yaitu sesaat setelah pesawat lepas dari Pangkalan Udara (Lanud) Saint-Dizier 113 di Bagian Timur Perancis.

Rafale B kala itu tengah dalam misi joy flight, dimana yang dibawa di kursi belakang adalah seorang warga sipil berusia lanjut (64 tahun) dengan status pensiunan. Pria yang sebelumnya bekerja di salah satu kontraktor pertahanan tersebut, memang melakukan penerbangan sebagai  ‘hadiah’ perpisahan dari kantornya.

Nah, serupa tidak sama, belum lama ini ada insiden yang mirip, namun melibatkan jet tempur F-15D Eagle (tandem seat) dari 104th Fighter Wing Angkatan Udara AS (USAF) di Massachusetts. Bedanya, penumpang pada F-15D melontarkan diri saat pesawat masih berada di darat (jalur taxii).

Seperti dikutip airforcetimes.com, penerbangan F-15D Eagle sepertinya dimaksudkan sebagai hadiah atas kerja keras atas petugas perekrutan (recruiting officer). Namun, penerbangan gagal lepas landas, ketika sang penumpang terlepar saat pesawat masih berada di jalur penerbangan. Mengenai penyebab insiden ini, masih dalam investigasi.

Video yang diunggah pada hari Rabu di halaman Facebook tidak resmi Angkatan Udara, menunjukkan dampak langsung dari ejeksi yang tidak biasa di darat, ketika sebuah F-15 dari 104th Fighter Wing di Pangkalan Garda Nasional Udara Barnes di Massachusetts perlahan meluncur di jalur penerbangan, menjauh dari kepulan asap yang tertinggal akibat ejeksi.

Penumpang malang yang beberapa detik sebelumnya menjadi penumpang pesawat, terlihat di samping jalur penerbangan, tampak kesulitan berdiri. Asap sisa ejeksi juga mengepul dari kursi belakang F-15.

Menurut laporan The War Zone, kecelakaan tersebut telah memicu penghentian sementara semua operasi penerbangan selama 36 jam, yang kini telah berakhir.

Tampaknya tidak ada cedera yang disebabkan oleh ejeksi tak terduga tersebut, meskipun seorang anggota angkatan udara telah dikirim ke rumah sakit untuk dievaluasi.

Penerbangan insentif seperti yang terjadi seperti di atas merupakan kejadian rutin, biasanya ditawarkan sebagai penghargaan bagi anggota angkatan udara yang berprestasi dalam tugasnya.

Kursi lontar (ejection seat) yang bisa dilontarkan dari pesawat yang berada di darat atau di landasan pacu disebut sebagai kursi lontar zero-zero. Istilah “zero-zero” mengacu pada kemampuan kursi untuk menyelamatkan pilot dari kondisi zero altitude (ketinggian nol) – pesawat berada di permukaan tanah, dan zero airspeed (kecepatan nol) – pesawat tidak bergerak atau sedang meluncur di kecepatan sangat rendah.

Kemampuan ini merupakan kemajuan teknologi yang sangat penting karena kursi lontar model lama memerlukan ketinggian dan kecepatan minimum agar dapat berfungsi dengan aman. Dengan teknologi zero-zero, pilot memiliki peluang lebih besar untuk selamat dari kecelakaan yang terjadi saat pesawat berada di darat.

F-15D Eagle menggunakan kursi lontar ACES II (Advanced Concept Ejection Seat II) yang diproduksi oleh Collins Aerospace. Kursi ini dikenal sangat andal dan telah digunakan pada berbagai jenis pesawat tempur Angkatan Udara AS lainnya, termasuk varian F-15 lain, F-16, A-10, dan F-22 Raptor. (Bayu Pamungkas)

Boeing Pesan 144 Unit Kursi Lontar ACES II untuk Jet Tempur F-15EX Eagle II