TNI AL Intip Kemampuan “Marlin” – USV Kombatan Modular yang Telah Dioperasikan Angkatan Laut Turki

Pada tanggal 13-14 Mei 2025, KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali melakukan kunjungan kerja ke Turki untuk melihat proses pembangunan dua unit Kapal Cepat Rudal (FACM)-70 pesanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) di Sefine Shipyard, Altinova, Yalova, Turki. Dalam kunjungan tersebut, KSAL juga juga berkesempatan menyaksikan demonstrasi Unmanned Surface Vehicle (USV) Marlin, yang mampu dikendalikan secara otonom maupun remote.
Terkait USV Marlin, debutnya telah kami kupas pada bulan April 2023, yakni saat Marlin sukses melakukan uji coba peluncuran rudal Kuzgun untuk pertama kalinya, yang membawa Marlin pada proses akuisisi resmi untuk Angkatan Laut Turki pada Januari 2024. Dengan visi TNI AL di masa mendatang untuk mampu mengoperasikan USV, bukan tidak mungkin Marlin kelak akan ikut diakuisisi TNI AL.
Marlin SİDA (Silahlı İnsansız Deniz Aracı) – dalam bahasa Indonesia berarti Kapal Permukaan Tak Berawak Bersenjata, dikembangkan oleh Aselsan, perusahaan pertahanan milik pemerintah, bekerja sama dengan Sefine Shipyard, di bawah koordinasi Presidensi Industri Pertahanan (SSB) Turki. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan maritim Turki melalui platform otonom yang dapat menjalankan berbagai misi tempur.
Dengan desain modular, Aselsan merancang Marlin untuk menjalankan berbagai misi, seperti Perang Permukaan (Anti-Surface Warfare – ASuW), Perang Anti-Kapal Selam (Anti-Submarine Warfare – ASW), Operasi Amfibi, Perang Elektronika (Electronic Warfare – EW), Serangan terhadap target permukaan dan pantai. Menghadapi ancaman asimetris dan koordinasi dengan drone udara untuk penargetan.
Drone Laut Marlin USV (Turki) Luncurkan Rudal Kuzgun untuk Pertama Kalinya
Desain modular berarti bahwa bagian-bagian penting dari sistem Marlin, seperti sensor, sistem senjata, sistem komunikasi, dan peralatan misi lainnya — dapat dilepas, diganti, atau dikonfigurasi ulang sesuai kebutuhan operasi. Ini memungkinkan satu platform digunakan untuk berbagai misi, cukup dengan mengganti modulnya.
Sebagai USV kombatan, Marlin dapat dilepangkapi Remote Control Weapon System (RCWS) dengan senapan mesin 12,7 mm, rudal Kuzgun KY – rudal berpemandu dengan jangkauan sekitar 20 km, Peluncur 8-tabung yang memungkinkan peluncuran simultan hingga 8 rudal, meningkatkan kapasitas serangan secara signifikan, selain itu Marlin juga mampui meluncurkan torpedo ringan kaliber 324 mm.

![]()
Dari spesifikasi, USV Marlin punya panjang 15 meter, bobot 21 ton serta kapasitas mualatan (payload) hingga 4 ton. Ditenagai dua mesin diesel, Marlin punya kecepatan maksimum 35 knot, jangkauan operasi 1.000 mil laut dan daya tahan (endurance) operasi hingga 72 jam terus menerus.
USV ini mengaopsi sistem navigasi inersia ANS510-D, sistem GNSS anti-jamming, dan sonar penghindar rintangan. Sensor yang terpasang di antaranya kamera EO/IR Kirlangic dan sistem posisi dinamis Karetta.
Marlin pertama kali diperkenalkan secara internasional dalam latihan NATO Repmus 2022 dan Dynamic Messenger 2022 di Portugal pada tahun 2022, menunjukkan kemampuan perang elektronika dan interoperabilitas dengan platform NATO lainnya. Pada Januari 2024, unit perdana USV Marlin resmi dioperasikan oleh Angkatan Laut Turki dengan nomor lambung TCB-1101. (Bayu Pamungkas)



Beli paling juga DUA BIJI Dan itupun KOSONGAN…..buat acara ceremonial doang dipake nya
Usv ini kecepatannya lumayan ngebut yaitu 35 knot = 35 nm per jam = 35 x 1,852 = 64,82 km per jam.
Kalo memang mau akuisisi ini sebagai bagian dari sistem pertahanan pantai maka hendaknya diakuisisi dalam jumlah besar antara 28 – 56 unit sehingga memungkinkan untuk join production dengan kita.
Usv ini adalah sejenis drone.
Sehubungan dengan drone. Saya kemarin nonton ada video yang mengisahkan ratusan drone terbang bersama-sama sebagai swarm drone untuk menyerang. Nah saya punya ide gimana kalau pasukan infantri kita dilengkapi masing-masing 1 unit fpv drone agar kita juga punya kemampuan untuk melakukan serangan berupa swarm drone. Ya gunakan drone kecil yang murah saja seperti drone dji bikinan China. Bayangkan kalau misalnya kita punya 300 ribu infantri berarti kita punya 300 ribu drone dji. Lumayan untuk pertahanan pantai untuk melawan serbuan amfibi.
Waduh kok China lagi ya. Lha gimana lagi. Yang murah kan bikinan China. Ukraina juga pakai drone bikinan China.
Saya dapat berapa China point ya?
Hihihihi.
wih mau beli kah?