Nama rudal yang satu ini seperti akrab di telinga netizen +62, tapi percayalah bahwa “Cirit” bukan produksi Indonesia. Cirit tak lain adalah rudal udara ke permukaan berpemandu laser prouksi Roketsan, manufaktur persenjataan asal Turki. Yang menarik dari Cirit, rudal ini bak roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket), yaitu mengusung kaliber 70 mm (2,75 inchi). (more…)
Baykar Technologies rupanya tak tanggung-tanggung dalam mempersiapkan kehadiran drone Bayraktar Akinci. Didapuk sebagai drone kelas berat dengan dua mesin turboprop, Akinci yang telah sukses membawa beban tempur penuh dalam penerbangan selama 13,5 jam, dikabarkan juga dipersiapkan untuk dapat menggotong rudal jelajah. Sebagai produk anak bangsa yang mensinergikan setiap potensi di dalam negeri, maka rudal jelajah untuk Akinci juga mengusung produki nasional. (more…)
Terlepas dari kerenggangan hubungan politik dan pertahanan dengan Amerika Serikat, Turki sejak lama telah dikenal serius memajukan indstri pertahanan dalam negerinya. Salah satu yang belum lama ini tersiar kabarnya adalah uji coba penembakan rudal anti kapal Atmaca dari korvet TCG Kinaliada (F-514) di Laut Hitam pada 3 November lalu. Rudal besutan Roketsan ini digadang sebagai pengganti Boeing RGM-84 Harpoon buatan AS. (more…)
Bersamaan dengan dirilisnya CIDA pada ajang IDEF 2019 yang berlangsung di Istanbul, 30 April – 3 Mei lalu. Roketsan juga memperkenalkan sistem senjata perorangan untuk meladeni misi peperangan di perkotaan (urban warfare). Solusi yang masuk kelompok senjata bantu infanteri ini adalah Yatagan. Persisnya Yatagan adalan rudal berpemandu laser yang dapat menghantam sasaran secara presisi di jarak 1.000 meter. (more…)
Pertempuran di wilayah urban jelas punya karakteristik tersendiri, begitu juga pada unsur senjata yang digunakan. Bicara di level senjata bantu infanteri, salah satu tantangan yang dihadapi adalah ketidapastian topografi dalam wilayah pertempuran itu sendiri. (more…)