Saab GlobalEye di Dubai AirShow 2019 (Foto: David Donald)
Setelah melalui proses evaluasi yang panjang dan ketat, Pemerintah Perancis secara resmi mengumumkan keputusan untuk memesan dua unit pesawat Airborne Early Warning & Control (AEW&C) GlobalEye buatan perusahaan pertahanan Swedia, Saab. Kesepakatan ini juga mencakup opsi tambahan untuk dua unit lagi di masa depan, yang bertujuan untuk menggantikan armada legendaris namun menua, Boeing E-3F Sentry (AWACS). (more…)
Meski bukan platform terbaru di lini AEW&C (Active Early Warning and Control), rupanya sistem radar intai dan peringatan dini Erieye masih punya pasar. Setelah dioperasikan Swedia, Thailand, Brasil, Yunani, Meksiko, Pakistan dan Uni Emirat Arab, ada kabar terbaru bahwa Saab telah mendapatkan pesanan untuk Erieye yang akan dipasang pada pesawat turbopop Saab 2000. Yang menarik, Erieye merupakan solusi AEW&C yang selama ini gencar ditawarkan Saab ke Indonesia. (more…)
Cepat atau lambat, pada akhirnya Indonesia akan memiliki pesawat intai dengan kemampuan Airborne Early Warning and Control (AEW&C), paling tidak hal tersebut didasarkan atas cetak biru yang dituangkan dalam Minimum Essential Force II (2015 – 2019). Meski belum jelas jenis pesawat atau platform teknologi apa yang nantinya akan diakuisisi, namun menarik dibahas tentang pengadaan alutsista yang bernilai strategis ini. (more…)
Kemandirian alutsista sudah barang tentu menjadi hak setiap negara, meski terkadang lompatan teknologi yang dihasilkan membuat sebagian dari kita menjadi tercengang. Seperti Cina yang merilis pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C) terbaru, KJ-200. Dibangun dari platform Shaanxi Y-8 yang ditenagai empat mesin turbo propeller, KJ-200 membetot perhatian lantaran mengadopsi radar airborne model tegak dengan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA). (more…)
Jelang berakhirnya periode MEF (Minimum Essential Force) II di tahun 2019, hingga kini Kementerian Pertahanan (Kemhan) belum juga diputuskan jenis pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) yang bakal diakuisisi, padahal waktu yang dibutuhkan untuk membangun platform pesawat baru AEW&C tidak bisa singkat. Dan belum lama berselang, muncul kabar bahwa Indonesia menyatakan minat pada salah satu pesawat AEW&C. Di luar prediksi, ternyata yang diminati Indonesia justru pesawat AEW&C DRDO Netra buatan India.
Kecepatan respon pada tiap potensi ancaman udara menjadi poin penting dalam sistem pertahanan udara nasional. Semakin cepat lawan bisa diidentifikasi, maka semakin cepat pula ancaman yang datang bisa dinetralisir oleh hanud titik dan hanud terminal. Hal inilah yang menjadi dasar, betapa penting hadirnya pesawat berkemampuan AEW&C (Airborne Early Warning and Control) dalam struktur alutsista. (more…)
Pasar pesawat intai maritim di Indonesia masih terbuka lebar, khususnya sebagai calon pengganti Boeing 737 Surveillance Patmar (Patroli Maritim) Skadron Udara 5 TNI AU yang kondang dengan radar SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar). Mengingat tiga unit Boeing 737 Patmar TNI AU sudah digunakan sejak tahun 1982, maka dirasa perlu untuk mengganti sistem radar airborne yang mumpuni berbekal teknologi AEW&C (Airborne Early Warning & Control) terbaru. (more…)