Presiden Prabowo Akhirnya Berangkat Ke Cina, ‘Rumor’ Pengadaan Jet Tempur Chengdu J-10 Kembali Mengemuka

Lantaran situasi dalam negeri dianggap telah kondusif dan ingin memberi sinyal positif pada dunia internasional, Presiden RI Prabowo Subianto, yang awalnya membatalkan lawatan ke Cina, akhirnya telah bertolak ke Beijing untuk memenuhi undangan Presiden Xi Jinping terkait perayaan dan defile militer peringatan Hari Kemenangan Perang melawan Jepang ke-80.
Bersamaan dengan itu, kembali mengemuka desas-desus rencana pengadaan jet tempur Chengdu J-10.
Meski belum dapat dikonfirmasi, kabar pengaktifan kontrak pembelian 42 jet tempur Chengdu J-10 kembali mengemuka, dengan pengiriman pertama dijadwalkan pada tahun 2026. Media Perancis, Intelligenceonline.fr mengatakan, bahwa kontrak J-10 sempat tertunda karena masalah pendanaan, dan kini akan dilanjutkan melalui skema pembiayaan dari Cina.
Terkait dengan desas-desus yang menjadi pembicaraan hangat di kalangan netizen, berikut perspektif atas keunggulan dan kelemahan akuisisi J-10, jika memang itu benar terjadi.

Keunggulan Teknis
Varian terbaru versi ekspor, Chengdu J-10CE adalah jet tempur generasi 4.5 yang dilengkapi dengan teknologi canggih seperti radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sistem kontrol penerbangan fly-by-wire, dan integrasi persenjataan modern. Secara teknis, ini merupakan peningkatan signifikan dari armada Sukhoi Su-27/Su-30 dan Hawk 209 yang sudah tua.
Varian-varian J-10 sebelumnya, seperti J-10A dan J-10B, menggunakan radar jenis PESA (Passive Electronically Scanned Array) yang merupakan teknologi yang lebih tua. Penggunaan radar AESA pada J-10C merupakan peningkatan signifikan yang memberikannya kemampuan deteksi dan pelacakan target yang jauh lebih baik, serta ketahanan yang lebih tinggi terhadap jamming (gangguan elektronik).
J-10 dirancang sebagai pesawat serbaguna (multirole), mampu melakukan misi superioritas udara, serangan darat, dan pencegatan. Ini dapat memenuhi berbagai kebutuhan operasional TNI AU.
Cina juga dapat menyediakan berbagai amunisi dan rudal yang kompatibel dengan J-10, termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh PL-15, tanpa terikat pada pembatasan politik yang sering diterapkan oleh negara-negara Barat.
Kelemahan Teknis
TNI AU sudah memiliki armada F-16 buatan AS. Mengakuisisi jet tempur Cina akan menciptakan masalah interoperabilitas yang rumit, seperti sistem komunikasi, datalink, dan logistik yang berbeda, membuat kerja sama antara pesawat sulit.
Meskipun Cina telah meningkatkan kemampuan pertahanannya, masih ada kekhawatiran tentang kualitas jangka panjang dan rekam jejak tempur J-10. Pembelian J-10 akan membuat Indonesia sangat bergantung pada Cina untuk suku cadang, pemeliharaan, dan upgrade. Hal ini dapat menimbulkan risiko jika hubungan politik memburuk di masa depan.
Zhuhai Airshow 2024 – Cina Tampilkan Chengdu J-10CE ‘Pakistan’ dengan Konfigurasi Pylon Rudal Baru
Sementara dari aspek politik, pengadaan J-10 juga punya dimensi keunggulan dan kelemahan. Keuntungan seperti pembelian dari Cina dapat mendiversifikasi sumber pasokan alutsista Indonesia, mengurangi ketergantungan pada negara-negara Barat dan menghindari risiko embargo senjata di masa depan, seperti yang pernah dialami Indonesia. Akuisisi ini dapat menjadi sinyal politik yang kuat untuk mempererat hubungan strategis dan ekonomi dengan Tiongkok, yang merupakan kekuatan global yang sedang bangkit.
J-10 umumnya lebih murah daripada jet tempur Barat sejenis seperti Dassault Rafale atau Boeing F-15EX. Biaya yang lebih rendah ini dapat menghemat anggaran pertahanan untuk kebutuhan lain.
Korea Selatan Ikut Cemas Atas Reputasi Jet Tempur Chengdu J-10C, Ini Sebabnya!
Namun, pengadaan J-10 juga erat kaitan dengan kelemahan dari aspek politik. Seperti langkah Indonesia dapat memicu kekhawatiran dan ketidaknyamanan dari sekutu tradisional Indonesia, terutama Amerika Serikat dan Australia. Ini dapat berdampak pada kerja sama pertahanan di masa depan, latihan militer bersama, dan akses ke teknologi Barat.
Ada kekhawatiran bahwa akuisisi alutsista dari Cina dapat membuka celah bagi pengaruh politik atau intelijen. Isu-isu tentang potensi “pintu belakang” (backdoor) pada sistem elektronik dan perangkat lunak sering kali diangkat dalam debat semacam ini.
Bila benar terjadi, maka pembelian J-10 diprediksi akan menempatkan Indonesia pada posisi yang sulit di tengah persaingan geopolitik antara AS dan Cina, terutama di kawasan yang strategis seperti Laut Cina Selatan. (Gilang Perdana)



Harus digaris bawahi . Bahwa saat kedatangan rafale belum dengan senjata rudal . Lebih realistis membeli rudal hanud medium dari pada pesawat j10 yg masih kosong tanpa rudal seperti biasanya pembelian pesawat baru . Rudal hanud medium masih dipegang nasams dan mica
f-16 bisa adios ini sih ceritanya, lagipula keduanya mirip ngapain punya 2 kalau satu cukup, tapi ya sebagai warga negara kita cuman perlu taat pajak dan duduk manis sambil ngopi 😁☕
Atau CM-401 diganti Houbei class 12 unit. Cocok itu untuk pertahanan pantai juga.
Semoga pembelian J-10 ini :
– dari varian C
– sepaket dengan PL-15 dalam jumlah yang cukup.
– sepaket dengan Yuan class 2 biji
– sepaket dengan KJ-500 Shaanxi AEW&C 4 biji
– sepaket dengan Type 052D 4 biji lengkap isiannya.
– sepaket dengan CM-401 coastal defense system 6 baterai.
Perkiraan biaya akuisisi usd 9 billion.
Gak kepikiranlah om Wo beli J10 biarpun dikasih PL15 ori, karena pespur yg lagi dipesen aja belum pada dateng, apalagi F15 juga masih alot duitnya, paling nego destroyer nya, itupun mau kalou harga discount😁