
TNI menjadikan truk offroad 4×4 sebagai salah satu rantis (kendaraan taktis) untuk menunjang berbagai operasi. Semasa konflik di NAD (Nanggroe Aceh Darussalam), truk TNI tak jarak dipasangi plat baja untuk menahan terjangan proyektil, kemudian populer disebut sebagai “truk anti peluru.” Hampir mirip saat operasi militer di NAD, PT Freeport Indonesia (PTFI) di Timika, Papua juga menggelar truk yang dimodifikasi sebagai bus anti peluru. (more…)

Bagi Anda yang eksis di era ‘Perang Dingin,’ boleh jadi telah mengenal truk pengangkut rudal (missiles carrier trucks) jarak jauh berhulu ledak nuklir dari layar televisi. Kala Uni Soviet berjaya, hampir setiap pemberitaan terkait militer di Blok Timur kerap menyertakan sosok truk berukuran besar dengan sederetan roda ‘raksasa.’ Terbesit angan-angan penulis, mungkinkah truk berukuran giant tersebut hadir di Indonesia?
(more…)

Truk serbaguna berkemampuan offroad masih jadi kebutuhan utama dalam pergeseran pasukan, terlebih bila yang dihadapi adalah kontur mentantang yang mendominasi sebagian wilayah di Tanah Air. Melengkapi utility truck 4×4 di era Mercedes Benz Unimog, TNI kini kembali diperkuat jenis truk serbaguna Isuzu NPS 75 4×4. (more…)

Selain keberadaan ranpur amfibi, hadirnya keluarga heavy truck Tatra memberi warna sendiri dalam etalase kesiapan operasi Korps Marinir TNI AL. Dengan wilayah penugasan yang tergolong menantang, adanya truk bermuatan besar plus punya kemampuan offroad menjadi suatu keharusan bagi Marinir. Setelah sebelumnya hadir Tatra T813 Kolos dan Tatra T815-7, keluarga Tatra pada Marinir bertambah dengan rantis Tatrapan 6×6. (more…)

Desainnya mencerminkan truk masa depan dengan nuansa robotik yang kental, dibalut warna hijau plus label “Marinir,” menjadikan sosok truk ini terasa sangar dipandang. Tak heran banyak orang yang awalnya mengira bila truk Marinir ini memuat alutsista. Namun siapa sangka, truk sangar yang masuk kategori ransus (kendaraan khusus) ini justru membawa beras, sayur mayur dan perlengkapan memasak.
(more…)

Di Indonesia, sosok rantis (kendaraan taktis) imut beroda rantai ini identik dalam penanganan pasca bencana alam. Tatkala tim SAR dihadapkan pada medan berat, Hagglunds Bandvagn 206 (Bv206) langsung diterjunkan untuk melalukan evakuasi dan dukungan logistik di wilayah yang sulit dilalui kendaraan konvensional. Meski lebih kondang digunakan tim PMI (Palang Merah Indonesia), sejatinya rantis asal Swedia ini juga dimiliki oleh Grup 2 Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD dan Satuan Pelopor Polri. (more…)

Sementara masih menanti kedatangan ranpur panser BTR-4M dari Ukraina, etalase alutsista Korps Baret Ungu sudah bertambah lagi dengan hadirnya RM70 Vampire yang memperkuat Batalyon Roket Resimen Artileri Marinir TNI AL. RM70 Vampire adalah varian baru dari RM70 Grad MLRS (Multi Launch Rocket System) yang selama ini sudah dioperasikan Marinir. Baik RM70 Grad dan RM70 Vampire mengusung jenis roket yang sama, yakni roket RM70 kaliber 122 mm. (more…)

Truk ini aslinya tak menyandang gelar sebagai kendaraan taktis (rantis) , namun ketika dipercaya sebagai kuda tunggangan kanon reaksi cepat Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU, maka sosok Hino Ranger 500 FM285 JD sontak berubah sebagai wahana yang terlihat sangar. Meski dari basis truk sipil, mobilitas operasi alutsista super canggih di Indonesia sangat bergantung pada kinerja truk ini. Urusan pindah memindahkan kanon, berikut paket baterai PSU (Penangkis Serangan Udara), semua ditangani truk yang diberi label Cruising Ranger ini.
(more…)

Sosok truk berwarna loreng biru, putih dan hitam ini pertama kali tampil pada defile HUT TNI Ke-69 di Dermaga Ujung, Surabaya tahun 2014. Dengan bertuliskan Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional) pada samping bodinya, orang langsung bisa menerka rantis ini pasti terkait dengan radar, karena terlihat antena radar lipat yang menyembul di bagian atas bodi. Namun, nyatanya masih banyak orang yang asing dengan alutsista baru milik Kohanudnas ini. (more…)

Dalam situasi peperangan, pangkalan udara (lanud) dipastikan jadi target utama serangan lawan, dan boleh jadi TNI AU saat itu membutuhkan gelar pangkalan udara taktis temporer. Dalam kondisi yang menuntut aksi serba cepat, komponen untuk menyiapkan sebuah lanud tetap harus dipikirkan secara matang, termasuk elemen vital dalam menunjang kendali dan keselamatan penerbangan, yakni menara ATC (Air Traffic Control). (more…)