“Benteng Berjalan” – Yenisei, Volga dan Baikal – Kereta Tempur Lapis Baja Rusia di Garis Depan Zona Operasi Khusus

Melanjutkan legacy sejak era Kekaisaran Rusia, kereta lapis baja (armored trains) sampai saat ini masih terus digunakan oleh militer Rusia. Sebagai negara dengan wilayah terbesar di dunia (±17 juta km²), jalur kereta api menjadi tulang punggung logistik militer karena bisa menjangkau ribuan kilometer dengan cepat, melewati berbagai medan, dari hutan taiga hingga stepa. Dan dalam perang yang intens menghadapi Ukraina, nama kereta tempur Yenisei, Volga dan Baikal, menjadi yang banyak diberitakan.
Baca juga: Pindad Panser Rel V16 – Ranpur Lapis Baja Pengawal Kereta Api
Kereta lapis baja sudah lama dipakai Rusia sejak zaman Kekaisaran Rusia, Perang Dunia II, hingga era Soviet. Kereta-kereta ini hampir punah pada 2000-an, tapi dihidupkan lagi dalam bentuk modern karena konflik di Chechnya dan Donbas, lalu kembali terlihat di Ukraina sejak 2022.
Kereta-kereta dengan peralatan dan senjata khusus ini, bukan sebatas menjalankan peran pengiriman pasukan dan dukungan logistik, lebih dari itu, kerera-kereta ini ditujukan untuk pengintaian teknik dan pemulihan infrastruktur. Kereta-kereta ini juga mampu mengidentifikasi dan merespons ancaman, mengawal transportasi kereta api (utama), dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya.
Kereta-kereta ini acap kali disebut sebagai kereta pelindung dan pendukung beroperasi yang beroperasi ke arah Melitopol. Kereta tersebut dicirikan dengan dukungan platform dan gerbong lapis baja untuk berbagai keperluan.

Mengutip topwar.ru, pada hari-hari awal konflik (Februari 2022), kereta-kereta lapis baja menjalankan misi memastikan evakuasi warga negara asing dari wilayah Kherson ke Krimea. Kemudian awak kereta api mulai mensurvei dan memulihkan infrastruktur jalur. Selain itu, unit ranjau dikerahkan untuk mencegah sabotase oleh musuh.
Dengan partisipasi kereta kereta lapis baja dan awaknya, sebagian besar infrastruktur kereta api di wilayah yang dibebaskan dipulihkan pada bulan-bulan pertama.

Dan saat ini, setidaknya ada tiga kereta lapis baja tetap berada di zona Operasi Khusus dan di wilayah sekitarnya. Mereka melakukan misi utama berupa patroli jalur kereta dan perlindungan terhadap sabotase, transportasi logistik dan personel di daerah berisiko, dukungan tembakan artileri dan senjata otomatis, dan perbaikan jalur kereta yang rusak di zona tempur.
Komposisi utama kereta lapis baja Rusia umumnya terdiri dari lokomotif yang dilindungi baja, derbong tempur (combat cars) dengan senjata, gerbong logistik untuk pasokan dan amunisi dan gerbong teknis untuk perbaikan jalur. Sementara persenjataan yang digelar biasanya terdiri dari senapan mesin berat seperti KPV 14,5 mm atau NSV 12,7 mm, kanon otomatis penangkis serangan udara (PSU) 30 mm, peluncur granat otomatis AGS-17/AGS-30 dan beberapa dilengkapi mortir atau peluncur roket untuk dukungan darat.

Seperti Kereta Yenisei, digunakan untuk patroli dan perlindungan jalur di wilayah yang rawan sabotase, kereta ini menggabungkan gerbong teknis dan gerbong bersenjata. Lebih detail senjata pada Yanisei mencakup kanon ZU-23-2, NSV Utyos heavy machine gun, mortar 82-BM-37, dan ranpur IFV BMP-2 di flatbed. Sebagai perlindungan, terdapat pelindung 20 mm di beberapa titik, barikade pasir, dan sistem anti-IED Kamysh. Komposisi senjata Yenisei menjadilkan kereta ini ibatat “benteng berjalan”. Yenisei rerlihat aktif di zona frontline Donetsk / Pokrovsk.
Sementara Kereta Volga dilengkapi persenjataan lebih berat dan sering dipakai di wilayah konflik untuk mengawal konvoi kereta pasokan. Persenjataan di kereta ini mencakup dua unit kanon ZU-23-2, pelindung baja 20 mm dan sandbags. Volga juga didukung drone UAV untuk intelijen pendahulu. Komposisi Volga terdiri dari dua lokomotif ChME3, enam gerbong taktis (logistik, personel, troopers).
Kemudian, Kereta Baikal, adalah versi yang memiliki modul komando dan komunikasi, kadang digunakan sebagai pusat koordinasi bergerak. Kereta ini pertama terlihat Maret 2022 di utara Melitopol, Ukraina.
Yenisei, Volga dan Baikal terutama beroperasi di bagian timur Ukraina, khususnya di wilayah Donetsk dan sepanjang jalur kereta di dekat frontlines. Selain Yenisei, Volga, dan Baikal, masih ada beberapa kereta lapis baja Rusia yang diketahui beroperasi, seperti Amur dan Molodets (Combat rail missile system), yang terakhir bukan kereta tempur biasa, tapi peluncur rudal balistik via kereta (rail mobile ICBM).

Hadapi Sabotase dan Serangan Drone
Kereta lapis baja Rusia tidak kebal dari sabotase atau drone kamikaze, tapi mereka punya beberapa cara untuk mengurangi risiko, dengan ada di tiga hal, proteksi fisik, taktik operasional, dan perlindungan aktif.
Sebut saja bagian vital (lokomotif, kompartemen komando, amunisi, dan artileri) dilapisi baja hingga ±20–45 mm. Banyak kereta lapis baja modern Rusia menambahkan sandbags, jaring baja, atau panel reaktif improvisasi untuk menangkal pecahan dan ledakan. Di beberapa kereta, terutama yang beroperasi dekat zona tempur, dipasang mesh/jaring kawat di atas gerbong untuk memicu detonasi dini munisi drone FPV/kamikaze.



Sementara taktis operasi dijalankan dengan mengirim kereta kargo kosong atau gerbong tidak penting di depan sebagai penggali ranjau rel atau mendeteksi sabotase. Lalu ada gerbong khusus dengan sensor, detektor logam, dan kadang sistem water jet untuk membersihkan ranjau atau bahan peledak yang ditempatkan di rel.
Kereta lapis baja sering membawa pasukan infanteri di gerbong yang siap turun untuk mengamankan area bila ada ancaman. Jalur perjalanan sering diubah-ubah dan tidak diumumkan, sehingga sulit dipasang ranjau atau jebakan tepat waktu. Sebagian besar kereta lapis baja beroperasi di belakang garis depan, menghindari area yang rawan drone atau artileri berat.

Banyak kereta lapis baja Rusia membawa ZU-23-2 23 mm, ZPU-14,5 mm, atau bahkan MANPADS Igla/Verba untuk menembak drone atau helikopter. Beberapa versi modern memiliki sistem peperangan elektronik untuk mengganggu sinyal kontrol drone dan GPS. (Gilang Perdana)
Rawan Sabotase, Pasukan Rusia Gunakan Kereta Kargo Tanpa Awak Untuk Pasok Logistik ke Garis Depan



Jalur kereta hanya bisa jika jaringan tersebut sudah dibangun secara penuh dan menyambungkan antar kota di pulau-pulau besar bukan hanya satu jalur saja. Karena jaringan rel di Ukraina sangat panjang di mana negara Ukraina yg seluas Kalimantan saja punya jaringan kereta yg lebih panjang dari yg dimiliki oleh Indonesia.
Tapi kelemahan kereta perang ini adalah serangan presisi dari udara. Melihat bahwa kereta ini masih bisa eksis di Ukraina menunjukkan bahwa Ukraina belum memiliki serangan drone kamikaze yg tepat atau pespur yg bisa menghancurkannya dari jarak dekat/menengah
wih the real iron fortress ini. kalo di kasih cat Stealth & penggerak elektrik bisa jalan mode senyap nih.
Indonesia mengadopsi ini paten sih, buat transport lintas provinsi, pabrik kereta ada baja juga ada, tinggal tekat, sistem senjata yang siap dan juga yang tak terlewat duwitttt