Seputar DSEI 2019Klik di Atas

Pindad Panser Rel V16: Ranpur Lapis Baja Pengawal Kereta Api

Tak sedikit inovasi dalam persenjataan yang justru berhasil diwudjakan dalam kondisi mendesak, karena sifatnya urgent bahkan tanpa proses prototipe yang berlika liku, sosok alutsista langsung digelar di medan laga begitu rampung dibuat. Dan salah satu yang masuk kriteria ini adalah panser rel buatan Bengkel Peralatan Angkatan Darat (PAL) atau saat ini dikenal sebagai PT Pindad. Berbeda dengan panser beroda ban, maka panser rel sifatnya khusus untuk misi perlindungan, yaitu pada konvoi dan jalur kereta dari ancaman gerombolan bersenjata.

Baca juga: Tata Kestrel – Platform Rujukan Untuk Pengembangan Rantis 8×8 Pindad

Disebut panser rel, lantaran sosok ranpur (kendaraan tempur) ini selain dibekali senjata, juga diberi perlindungan lapisan plat baja, tak ubahnya seperti panser konvensional. Hebatnya hasil karya Anak Bangsa ini sudah pula dilengkapi tenaga penggerak sendiri, panser rel V16 disokong mesin diesel Ford VBA65HI. Karena punya tenaga sendiri, panser rel V16 mampu melaju dengan kecepatan maksimum 80 km per jam.

Tidak dijelaskan berapa level ketebalan lapis baja pada Panser Rel V16, namun ranpur roda rel yang kini bisa dilihat di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Bandung, nampak dipersenjatai senapan mesin ringan pada sisi depan dan belakang. Tidak lupa, sebagai ranpur panser ini juga telah dilengkapi perangkat komunikasi berupa radio. Sementara pada sisi kiri dan kanan lambung panser ini dilengkapi lubang intip. Diatasnya terdapat palka yang dapat dibuka untuk sirkulasi udara, dan tentunya bantuan tembakkan dari awak bila diperlukan.

Baca juga: M3 Amphibious Rig – Ini Dia! Truk Ponton Raksasa Untuk Zeni TNI AD

Debut Panser Rel V16 hadir dalam masa konflik DI/TII di daerah Jawa Barat pada periode 1955 – 1962. Sebagai ranpur lapis baja, sudah barang tentu operatornya adalah Satuan Kavaleri Kodam VI Siliwangi (sekarang Kodam III). Panser Rel ini digunakan untuk mengawal kereta api dari Ciawi ke Cicalengka (PP) yang sering mendapat gangguan dan penggulingan oleh gerombolan DI/ TII.

Sebagai gambaran gawatnya suasana pada saat itu, mulai dari tahun 1948 sampai 1962, Anda yang ingin berangkat dari Jakarta,harus berangkat pagi dan harus yakin bahwa sebelum jam 4 sore sudah sampai di Bandung. Dari Bandung bila ada kendaraan yang berangkat keluar kota pada waktu agak sore, di perbasan kota, tentara akan melarang Anda untuk meneruskan perjalanan karena tidak aman.

Untungnya masa penuh teror berakhir pada 1962, yakni saat Kompi C Batalion 328 Kujang II Siliwangi menyergap pimpinan DI/ TII Sekarmaji Maridjan Kartosoewirjo di Gunung Geber Majalaya di selatan Kota Bandung. Semenjak itu KA ke Bandung berangsur aman dan tidak perlu lagi dikawal oleh panser. (Darmo)

8 Comments