Beda Kasus dengan Singapura, AS Belum Izinkan F-16 Ukraina Gunakan Tactical Data Link 16, Ini Sebabnya!

Meski mendapat perlakuan laksana ‘anak emas’ oleh Washington, namun seiring tibanya jet tempur F-16 Fighting Falcon, Ukraina belum mendapatkan akses untuk menggunakan sistem komunikasi canggih seperti tactical data link network (TDL) – Link 16.
Baca juga: Viasat AN/PRC-161 BATS-D – Radio Taktis Handheld Pertama dengan Teknologi Link 16
Sistem komunikasi ini sejatinya sangat penting untuk mengordinasikan operasi militer dan digunakan secara luas oleh NATO. Namun, Amerika Serikat masih ragu untuk berbagi teknologi ini dengan Kyiv, lantaran ada risiko akan jatuh ke tangan Rusia.
Jenderal Christopher Cavoli, yang memimpin pasukan NATO dan AS di Eropa, menekankan pentingnya Link 16 dalam memastikan keberhasilan operasi pertahanan udara dan rudal. Sistem ini memfasilitasi pertukaran data target dan situasi pertempuran yang cepat dan tepat. Ketiadaan Link 16 secara signifikan membatasi potensi efektivitas F-16 yang dijadwalkan akan diterima Ukraina secara bergelombang, terutama pasokan dari Denmark, Belanda, dan Norwegia.

F-16 MLU (Mid Life Upgrade) Ukraina dapat dipadukan untuk efektivitas penggunaan rudal udara ke udara AIM-9M Sidewinder dan AIM-120C AMRAAM. Link 16 adalah sistem pertukaran data taktis militer, yang penting bagi NATO dan sekutu AS. Sistem ini dirancang untuk memfasilitasi pembagian informasi penting secara langsung, seperti posisi musuh dan sekutu, di antara pesawat, kapal, dan pasukan darat. Tautan radio yang aman ini memainkan peran penting dalam memastikan koordinasi yang lancar selama operasi gabungan dalam skenario pertempuran yang kompleks.
Dengan memanfaatkan teknologi Time Division Multiple Access (TDMA), Link 16 mengatur komunikasi di berbagai platform, menjamin efisiensi dan keandalan bahkan di tengah gangguan elektronik. Sistem ini terintegrasi dengan mulus dengan aset militer seperti sistem F-16 dan rudal Patriot, menawarkan pandangan lengkap medan perang untuk meminimalkan kesalahan koordinasi.

Pentingnya Link 16 menjadi sangat jelas dalam situasi krisis. Tidak adanya sistem Link 16 pada F-16 Ukraina secara drastis mengurangi kemampuan operasional mereka, karena mereka tidak memiliki akses ke koordinasi yang berpusat pada jaringan dan intelijen taktis kritis yang sangat penting bagi keberhasilan misi militer modern.
AS ragu untuk melengkapi Ukraina dengan sistem Link 16 karena khawatir Rusia dapat mengungkap dan membahayakan teknologinya. Link 16 adalah jaringan pertukaran data taktis canggih yang menggunakan komunikasi terenkripsi. Namun, tidak ada sistem yang sepenuhnya aman, terutama dalam situasi tertentu.
[the_ad id=”77299″]
Risiko signifikan muncul jika peralatan hilang di medan perang. Jika pesawat Ukraina yang dilengkapi dengan Link 16 jatuh di atas wilayah yang dikuasai Rusia, musuh berpotensi mengakses komponen sistem Link 16 secara fisik. Ini akan memungkinkan pakar keamanan siber dan intelijen elektronik Rusia berkesempatan untuk membedah dan menganalisis protokol komunikasi yang tertanam dalam sistem.
Selain itu, keahlian Rusia yang terkenal dalam peperangan elektronik – electronic warfare (EW) mencakup kemampuan intersepsi dan analisis sinyal. Dalam skenario pertempuran sesungguhnya, dapat dibayangkan bahwa pasukan Rusia akan berusaha untuk menyadap atau mengganggu komunikasi, dengan tujuan untuk mendapatkan wawasan tentang frekuensi sistem, metode enkripsi, dan struktur jaringan.
AS Setujui Paket Modernisasi Pertama (Link-16 TDL) Untuk F-16 Turki
Dengan terus memantau data ini, para ahli Rusia dapat mengidentifikasi kerentanan untuk dieksploitasi dalam serangan siber di masa mendatang atau bahkan mengembangkan tindakan pencegahan elektronik. Selain itu, dengan penggunaan Link 16 yang semakin intensif, musuh mungkin mencoba mengganggu koordinasi NATO dengan “memalsukan” sinyal, yang berpotensi membahayakan keamanan aliansi secara keseluruhan.
Kekhawatiran lainnya adalah bahwa bahkan akses parsial ke sistem tersebut dapat memungkinkan Rusia untuk meningkatkan teknologi komunikasinya sendiri. Mereka dapat menggunakan data ini untuk mengungkap kelemahan sistem atau membuat tindakan pencegahan, yang mengurangi efektivitas sistem dalam konflik di masa mendatang.
[the_ad id=”77299″]
Link 16
Diperkenalkan pada 1980-an, Link 16 adalah jaringan komunikasi taktis yang banyak digunakan dalam sistem komando dan kontrol NATO. Ini digunakan oleh berbagai platform, termasuk pesawat tempur, kapal perang, dan sistem darat. Link 16 menggunakan UHF (Ultra High Frequency), dengan cakupan terbatas pada garis pandang, sehingga cocok untuk pesawat tempur dan platform bergerak lainnya di jarak relatif dekat.
Link 16 digunakan terutama untuk komunikasi taktis yang lebih cepat, berbasis waktu nyata, terutama dalam situasi tempur udara dan penargetan. Ini mengirim data lokasi, penargetan, dan identifikasi teman atau musuh (IFF) dalam lingkungan pertempuran intens. Meskipun aman, Link 16 menghadapi keterbatasan kapasitas dan interferensi di medan dengan banyak pengguna.
Jalan Menuju Network Centric Warfare, Scytalys Bangun Sistem Data Link untuk Interoperabilitas TNI
Link 16 digunakan secara luas oleh negara-negara NATO dan sekutu untuk operasi udara-darat dan laut, dengan jangkauan yang terbatas untuk operasi jarak jauh.
Singapura Negara Non NATO Pertama Pengguna Link 16
Dikutip dari FlightGlobal (25/2/1998), disebut bahwa Singapura adalah negara non-NATO pertama yang mendapat izin untuk menerima TDL 16 dari AS. Sumber-sumber industri mengatakan bahwa Angkatan Laut AS mendorong persetujuan tersebut, dengan alasan perlunya interoperabilitas dengan sekutu utama AS di kawasan Asia-Pasifik.
[the_ad id=”77299″]
Saat itu Singapura berencana untuk memperoleh terminal datalink untuk pesawat tempurnya dan pesawat AWACS Northrop Grumman E-2C Hawkeye (sudah dipensiunkan – kini diganti Gulfstream G550 CAEW). Namun, AS menghadapi persaingan dari Israel, yang menawarkan datalink yang berbeda. Penawaran telah diterima, dengan AS menawarkan terminal Link 16 yang diproduksi oleh Rockwell Collins dan GEC-Marconi.
Solusi Israel lebih murah, tetapi memerlukan “gerbang” untuk menyediakan interoperabilitas dengan pasukan AS, yang menurut sumber-sumber skeptis bahwa Israel dapat menyediakannya karena belum pernah mendapat izin untuk menerima informasi tentang bentuk gelombang TADIL-J yang digunakan untuk Link 16.
Singapura telah ditawari terminal datalink Kelas 2 untuk E-2C-nya, yang identik dengan yang ada di Hawkeye Angkatan Laut AS, tetapi pesawat tempur akan dilengkapi dengan terminal datalink tempur (FDL) yang lebih kecil, lebih ringan, dan lebih murah yang sedang dikembangkan oleh perusahaan patungan Collins/GEC, Datalink Solutions. (Gilang Perdana)
Grumman E-2C Hawkeye: Pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C) Pertama di Asia Tenggara


