An-196 Liutyi – Drone Kamikaze Jarak Jauh Ukraina, Sanggup Menjangkau Sasaran Lebih dari 1.000 Km

Belum lama ini, video pendek yang dibagikan akun X @Osinttechnical memperlihatkan sebuah drone yang disebut An-196 terbang rendah sebelum akhirnya menuk tajam dan meledakan d fasilitas pabrik Rusia di kota Cheboksary. Yang menarik perhatian, Cheboksary berada sangat jauh dari garis perbatasan Rusia-Ukraina, sehingga tidak terlalu mendapat perhatian dalam aspek pertahanan udara, khususnya dalam menghadapi serangan drone kamikaze.
Cheboksary adalah ibu kota dari Republik Chuvashia, yang merupakan salah satu entitas federal di bagian barat tengah Rusia, berada di wilayah Volga Tengah, lokasi Cheboksary sekitar 1.000 km dari garis perbatasan Ukraina. Selama ini, Cheboksary dikenal sebagai pusat pendidikan teknik dan teknologi di Volga. Di masa Soviet, Cheboksary merupakan kota tertutup sebagian karena keberadaan industri strategis.
Dan ketika drone An-196 yang terbang rendah dengan suara mesin bising berhasil menyasar target di Cheboksary, maka ini menjadi kabar yang menggemparkan, terkhusus bagi sistem hanud Rusia.
Terlepas dari serangan atas fasilitas pabrik Rusia di Cheboksary, maka menarik perhatian akan sosok An-196 Liutyi, yang disebut-sebut dikembangkan Ukraina pasca invasi Rusia, khususnya guna menandingi kemampuan drone kamikaze Shahed-136 yang didatangkan Rusia dari Iran.
Ukrainian attack drones successfully penetrated roughly 1000 km through Russian airspace this morning to hit multiple targets in the city of Cheboksary.
Seen here, a Ukrainian AN-196 Liutyi attack drone slams into a Russian factory. pic.twitter.com/1h5kzmoq7V
— OSINTtechnical (@Osinttechnical) July 5, 2025
An-196 dikembangkan oleh Ukroboronprom dan diumumkan pada Oktober 2022. Drone ini telah digunakan oleh Ukraina untuk menyerang infrastruktur penting di Rusia, termasuk kilang minyak di Saratov dan fasilitas militer di Izhevsk. Keberhasilan ini menunjukkan kemampuan drone untuk mencapai target yang berjarak lebih dari 1.000 km dari perbatasan Ukraina.
Dari spesifikasi, An-196 punya panjang 4,4 meter, lebar bentang sayap 6,7 meter dan bobot saat lepas landas 250-300 kg. Dari bobot tersebut, 50-75 kg di antaranya merupakan berat hulu ledak fragmentasi, dengan kemungkinan muatan shaped charge.

An-196 tidak seperti Shahed-136, pasalnya An-196 lepas landas dan mendarat menggukan roda, mirip dengan pesawat konvensional. Dapur pacu An-196 dtenagai mesin piston 4 tak berpendingin udara dengan baling-baling pendorong di belakang. Jangkauan operasional drone ini 1.200–2.000 km, tergantung konfigurasi muatan dan bahan bakar. Sistem pemandu drone mengadopsi inersial, GPS/GLONASS, dan elemen kecerdasan buatan untuk menghindari sistem pertahanan udara dan gangguan elektronik.
An-196 memiliki sayap lurus panjang, mirip pesawat glider atau drone Shahed-136. Desain ini meminimalkan drag (hambatan udara) dan memaksimalkan lift-to-drag ratio, membuatnya hemat energi saat meluncur di udara. Struktur tubuh yang ringan namun kuat juga membantu mengurangi konsumsi bahan bakar.

Kecepatan An-196 relatif rendah (sekitar 150–200 km/jam), tapi inilah yang membuatnya hemat bahan bakar dan bisa bertahan di udara selama 8–12 jam.
Dikutip dari Der Spiegel, pada Juli 2025, Pemerintah Jerman mengumumkan pendanaan lebih dari €100 juta untuk produksi lebih dari 500 unit drone An-196 Liutyi. Langkah ini menunjukkan dukungan Eropa terhadap pengembangan industri pertahanan Ukraina dan peningkatan kapasitas serangan jarak jauhnya. (Bayu Pamungkas)
Jerman Kirim “Tytan” ke Ukraina – Drone Spesialis Pencegat Drone Kamikaze dengan Tabrakan Kinetik



Dari sekian banyak dampak negatif perang, dampak positif yang kecil yang meningkatnya pengalaman dan kemampuan tempur, jika selesai perang Russia & Ukraina pasti punya produk2 alusista yang battle proven.