Korea Selatan Tanggapi Darurat Pendanaan Proyek KFX/IFX, Indonesia Tawarkan Pembayaran Kontribusi dengan CN-235

Selama ini muncul kesan di publik, bahwa Indonesia seolah ‘ditinggalkan’ mitranya dalam pengembangan prototipe jet tempur KFX/IFX. Diantaranya seperti tiadanya logo “Ke-Indonesiaan” di full mockup jet tempur tersebut di pameran dirgantara ADEX 2019. Belum lagi berbagai pemberitaan seputar progres KFX yang tak menyebut nama Indonesia, malahan muncul sindiran dari dalam negeri Korea Selatan atas keterlambatan Indonesia dalam membayar kontribusi. Namun, dari berita yang dirilis situs asiae.co.kr (6/4/2020), menyiratkan bila peran Indonesia dalam proyek KFX/IFX masih begitu dinantikan pihak Korea Selatan.
Baca juga: Tanpa Identitas “Indonesia,” Full Mockup KFX Diperlihatkan di Seoul ADEX 2019
Dalam tajuk berita 6 April, “First KF-X emergency response meeting,” disebutkan pada 6 April lalu, Menteri Pertahanan Korea Selatan Chung Kyung-doo telah memimpin pertemuan untuk membicarakan kontribusi pendanaan pada proyek pesawat tempur KFX. Pertempuan ini disebut sebagai yang pertama dilakukan Menhan Chung untuk membahas KFX pada tahun ini. Salah satu dari tema yang dibicarakan dalam pertemuan itu adalah kondisi yang dianggap darurat, yaitu soal partisipasi Indonsia, terutama dalam hal angsuran alias kontribusi pendanaan yang belum dibayar.
Sejak proyek KFX/IFX dimulai pada tahun 2016, disebutkan oleh media tersebut, total dana yang bakal digelontorkan mencapai 18 triliun won, terdiri dari 8 triliun won untuk biaya riset dan pengembangan, dan 10 triliun won untuk dicanangkan untuk biaya produksi massal untuk kebutuhan AU Korea Selatan. Setelah prototipe meluncur perdana dan jet tempur lulus beragam sertifikasi, maka pada tahun 2026 akan dimulai fase produksi, dimana AU Korea Selatan bakal memesan 129 unit KFX, sementara Indonesia akan memesan 50 unit IFX.

Dari 8 triliun won sebagai dana pengembangan, maka komposisinya dibagi, yaitu 60 persen ditanggung oleh Pemerintah Korea Selatan, 20 persen oleh pihak manufaktur Korea Aerospace Industries (KAI) dan 20 persen lainnya oleh Pemerintah Indonesia. Agar proyek dapat berjalan mulus, maka kontribusi Indonesia ditetapkan dalam jumlah pendanaan. Seperti pada tahun lalu, seharusnya Indonesia membayar 63,5 miliar won kepada Pemerintah Korea Selatan, dari total kontribusi Indonesia senilai 1,7 miliar won pada akhir tahun 2026 nanti.
[the_ad id=”12235″]
Namun, lantaran ada masalah dalam pendanaan, hingga tahun lalu, kontribusu Indonesia baru mencapai 227 miliar won. Sumber di media Korea Selata menyebut, bahwa Indonesia masih tetap akan melanjutkan komitmen pada proyek KFX/IFX. Sebagai solusinya, Indonesia menawarkan pembayaran kontribusi dalam bentuk barang, yakni seperti penjualan pesawat angkut CN-235, ground equipent dan pakaian untuk orang dewasa. Dikatakan juga Indonesia telah meminta perpanjangan batas waktu pembayaran dan memperluas transfer of technology yang didapatkan dari proyek KFX/IFX.

Saat Presiden Joko Wido mengunjungi Korea Selatan pada September 2018, ia menunjukkan keinginannya untuk melakukan negosiasi ulang dengan meminta Presiden Moon Jae-in untuk mengurangi bagian dari kontribusi proyek KFX/IFX, yaitu dari 20 persen menjadi 15 persen.
[the_ad id=”12235″]
Dari berita yang tersirat, nampaknya masa depan dan kelanjutan proyek KFX/IFX bakal terganggu dan menghadapi kesulitan tanpa partisipasi Indonesia. Tentu yang membuat berat bukan hanya soal pendanaan dalam aspek pengembangan, lain dari itu, bila Indonesia tak jadi memesan 50 unit IFX, maka KAI akan kehilangan peluang ekspor, yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya produksi per unit jet tempur, lantaran pesanan secara total ikut menciut.
Baca juga: GE Aviation Kirim Unit Mesin F414 Perdana untuk Jet Tempur KFX
Sejauh ini Kementerian Pertahanan Korea Selatan belum memiliki dana tambahan untuk menopang biaya talangan, jika misalnya Indonesia ‘keluar’ dari proyek ini. (Bayu Pamungkas)



mmg konsumen yg plg aneh ini cm negara kt, uda tau butuh pengetahuan pesawat tempur, uda ada yg ngajak buat pesawat, eh ktnya banyak tingkah, dr bayar kredit bulananya yg macetlah, alesan teknologilah, inilah itulah, banyak tetek bengeknya, ntar ujung2nya nasipnya ky r80 .
Jaman sudah berubah bung sejak Covid-19..Perusahaan berbasis penerbangan komersial menuju kehancuran..satu per satu perusahaan penerbangan bangkrut..pemerintah tahu itu..makanya si STOP…R80..N240 dan seterusnya..karena tidak ada masa depan.
Jaman sekarang yang bertahan antara lain hanya Air Cargo dan Drone
Kalo Korea Selatan sampe menuntut Indonesia ke Arbitration Court, pusing 1000 keliling dah. Bisa kena penalti lebih besar dari biaya yang harus dikeluarkan Indonesia dalam proyek ini. Belum lagi nama negara tercoreng, kedepannya bakal sulit kerjasama dengan negara lain, dicap negara yang nggak bisa dipercaya.
Bismillah,kalo barter boleh sahaja dengan CN 235 PT.DI,kenapa nga dilakukan pola barter?.mungkin bisa kita lakukan tuk pengadaan Jf.17 dan TEJAS bisa kita barter pengadaan pesawat,mungkin bisa ditambah dengan N.219,N.250 produksi PT.DI.solusi yang memungkin selain hasil produk tani,perkebunan,gas alam
Pertanyaanya adalah, apakah Korea Selatan sedang membutuhkan pesawat sejenis CN 235? Kalau nggak butuh, Korsel pasti menolak, karena percuma pesawatnya mangkrak. Sekarang ini Korsel butuhnya pesawat gede seperti Herky atau A400.
Pespur mana yg akan dipilih, tunggu saja kedatangan delegasi rusia di 5 okt, mudah2an bawa oleh2 untuk dipamerkan…😀
Bismillah,kalo barter boleh sahaja dengan CN 235 PT.DI,kenapa nga dilakukan pola barter?.mungkin bisa kita lakukan tuk pengadaan Jf.17 dan TEJAS bisa kita barter pengadaan pesawat,mungkin bisa ditambah dengan N.219,N.250 produksi PT.DI.solusi yang memungkin selain hasil produk tani,perkebunan,gas alam
lho wong butuh duit kok barter barang!
Korsel butuh duitnya bukan barang dari Indonesia. Tidak adanya ketaatan pada perjanjian hanya akan memperburuk image Indonesia soal kepastian hukum dimata investor. Terbaru, Samsung hengkang dari Indonesia & sepertinya Vietnam yg kebagian durian runtuh.
tak ada hubungannya itu lebih ke arah birokrasi indonesia yang ruwet, sejak dulu terkenal ruwet seluruh dunia tahu itu, vietnam dll butuh 1x
indonesia butuh 10x birokrasi hebat bukan ?
Justru dr datangnya masalah malah akn jd pembelajaran yg baik.dan korsel pun jg ga semata2 memilih indonesia sbgai mitra kalau sekedar untuk 20% berbagi pendanaan.pastinya korsel pun menimbang kita punya ilmu membuat pesawat penumpang makanya kita yg diikutkn dia dlm program KFX/IFX.karna sama2 belum berpengalaman maka jalan terbaik ya menggabungkn apa yg korsel tahu dan indonesia tahu jadi satu..malah prediksi sy kelak indonesia akn jd mitra yg stategis buat korsel dlm hal iptek dll.
Jangan sampai mengulangi kesalahan masa lalu, dulu kala dengan negara lain kita belajar sama2 buat rudal, mereka sekarang sudah mahir buat rudal jarak jauh dan kita msh merintis dr awal, riset pasti mahal dan banyak tahapan yg hrs dilalui, mau maju atau terus tertinggal, itu saja optionnya hrs ada garis besarnya dulu, kalau ngurusin kebutuhan rakyat pasti gak ada habisnya mau 10.000 triliun juga gak akan pernah cukup buat jalanin sebuah negara, apalagi kondisi covid, penentuan skala prioritas mutlak segera diambil keputusan, pindah ibukota tidak mendesak bisa menunggu pula, tapi masalah teknologi sekali ketinggalan ya susah ngejarnya dalam 5 tahun sudah pesat perkembangannya, take it or leave it, mau maju atau selalu tertinggal ….semoga pemegang kebijakan mengambil yg terbaik untuk bangsa, NKRI harga mati
banyak cara belajarrr hingga bisa membuat dek…malah cara kita terlalu jadul dan terlalu konvensional menut simbah….!!!
terutama adalah niat dan kesungguhan kita untuk usaha kesana lalu berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil yang memuaskan harus disertai visi dan strategi yang bagus pula.,.saya disini tidak untuk menyalahkan siapa siapa tapi hanya sekedar masukan saja…..akar memaksimalkan sesuatu harus disertai kesunguhan dan usaha yang luar biasa tidak terkecuali harus menyinggung atau bertentangan dengan negara lainya…..!!!
optimalkan pada satu jenis produk seperti rudal jarak dekat(500km)kebawah dengan segala jenis dan type(darat kedarat,darat ,keudara udara kedarat kelaut )dan semua tipe rudal jarak dekat…..dengan pengembangan seker(pemandu)sederhana terlebih dahulu…karna rudal adalah kepala nya alutsista di era ini….jadi didahulukan terlebih dahulu pengembanganya…karna semua sista perlu rudal dan rudal tak perlu sista lainya untuk operasional…!!!
Kl menurut saya ini bukan masalah finansial. Tapi masalah politik yg di counter secara finansial wkwkwkwk. Indonesia kl tawar tawaran macam ibu2 beli perhiasan.
No Coment lah…….. yang Pasti masalahnya bukan di Pendanaan, karena untuk pendanaan masih bisa di siasati dgn cancel Post lain kalau benar2 kepepet, masalah ini mulai “hangat” semenjak “ToT” Kapal Selam kemarin yang ternyata tak seindah harapan.
Harus benar2 teliti dalam detail dan klausul Kontrak, anyway walaupun endingnya tidak sesuai harapan harusnya Pemerintah yang sekarang harus tetap meneruskan dgn negoisasi detail kontrak, karena kalau “bertingkah” malah akan disalahkan nantinya.
gue setuja banget…tapi masalah disalahkan itu kurang tepat menurut gue…sebagai pemimpin harus punya langkah besar jadikan kontribusi pada bangsa dan negara agar kelak anak cucu mengenang betapa ayah atau kakek mereka pernah menjadi pemimpin yang dicintai oleh segenap bangsa….dengan artian kesadaran diri bukan hanya pencitraan semata…lebih bagus lagi kalou disertai pemahaman iman…karna semua hal yang diperbuat akan dipertanggung jawabkan……!!!
nah, bagus. pemerintah harus gini emang. usahakan banyakin offset kalo memang memungkinkaan.
Bayarlah kontribusi 20% jangan diturunkan 15%… malu lah minta banyak namun kontribusi sedikit. Kita harus buat trust, bahwa kata kita dapat dipegang.
Mudah-mudahan situasi didalam baik-baik saja, walaupun publik khawatir. Semoga Pak Jokowi dapat menyelesaikan isu ini dengan kedua pihak senang, dan puas.
sebelum proyek IF-X kembali dilanjutkan hal² yg prinsip harus diperjelas terlebih dahulu
1. IF-X bukanlah versi downgrade dari KF-X
2. meminimalisasi potensi/sangat rentan “gangguan” dikemudian hari karena
adanya penggunaan tek. USA-ISR cs. karena sa
kalo belum ditemui kesepakatan masih banyak proyek yg menggiurkan seperti
TF-X atau yg modelnya kayak HAL-FGFA apalagi teknisi IF-X sedikit banyak mengetahui jeroan KF-X
They need cash, not commodities, duh…
Akibat covid ekonomi dunia jd kacau…lebih baik dananya sebagian digunakan utk pemulihan saat ini beli pesawat yg sudah jadi aja agar tdk tertinggal oleh negara tetangga…dananya buat beli 4 ivers hutfielth dan 2 pkr sigma…serta pesawat f16 viper, rafale atau su35 aja dulu
Lanjutkan pakde,ini program bagus rintisan era SBY.walau mahal tp sebanding dg ilmunya.karna kemajuan suatu bangsa jg diukur dr sejauh mana penguasaan ipteknya.contohnya china atau india yg berani membayar mahal iptek dan sekarang jauh melampaui negara kita.memang beda jalan antara kita dan mereka tp garis besarnya sama banyak mengeluarkan dana buat dapet ilmu pesawat yg rumit.tinggal kelak digabung aj ilmu2 yg kita dapat dr korsel dan pengalaman kita bikin pesawat angkut.
benar sekali berapa pun harganya yang penting belajar,masalah bisa buat apa tidak kedepanya urusan belakangan.
yang penting jangan jadi wang kupi aja tuh ratusan trilunan karna nanti kembung ngopi sebanyak itu.
Hhhhhhhh
Nih program bener” Beda dgn cn235 dulu loh… Kita cuma patungan 20% dan ga usah ngarep yg ketinggian,… Dan di program ini kelak kalo “sukses” Kita juga ga blh ekspor… Dan gua juga pernah baca, dpt info kalo di sini kita cuma masok bagian sayap doang… Dan liat kondisi yg sekarang, ekonomi yg habis di SmackDown ama covid-19… Ga aneh kalo kita mundur
Ini cuma analisa pribadi…
Yuk Kita estimasi brp hrg kosongan KFX/IFX per unit nanti, jika Indonesia tetap joint.
Riset 2016-2026, 8 trilliun won d amortisasi ke 179 unit (129 + 50) = $38jt/unit d luar WACC. Plus WACC bs jd skitar $50jt/unit.
Biaya produksi 10 trillium won/129 unit = $ 65jt/unit. Jd estimasi hrg pespur nya bs d kisaran $ 115jt/unit d 2026 nanti, d luar sucad, armament dsb. Kalau Indonesia keluar pastinya hrg per unit nya akan naik banyak.
tapi itu pesawat baru dan belum teruji dek,ya kalou engak ngalami masalah masih vaik vaik saja,na kalou bermasalah apa engak gila kita dibuatnya, dah ilang wang ilang waktu ilang peasawat juga.
Beli yg batelpropen suriah aja su35 yang sangat ditakuti f35 isroil,aus & j20 pla
awokwkwkwkwkwkw batal aja tuh
Setuju sama abang ini. Mending cari ToT ke Gripen saja yang pesawatnya udah siap terbang dan siap tempur , sama2 dapat ilmu dan biayanya murah , tidak perlu ngoyo sama pesawat genreasi ke 5 karena generasi ke 4 saja belum kita kuasai ^_^
Knp terganjalnya lama ?krena pihak +62 sendiri yang maaf krang tau diri cmn 20 persen tapi mintak nya yg ekslusif bisa full production sama ekspor ni barang keluar negeri kek ibaratnya dana avanza tapi mintaknya camry sama alphard 😂😂😂 dah gtu minta di kurangi 15 persen plus nunggak lagi klo gw jadi korsel dah gw tendang jauh”pembeli/mitra model kek gini yg ad tar jadi kagak gagal iya kerna kekurangan dana tar 😅
kamu tau dari mana…???
semua juga kalou nego harus mengoftimalkan keuntungan,kalou mau rugi ya untuk apa kita ikutan…!!!
masalah dan informasi simpang siur karna kontrak awal mungkin tidak sejalan…yang lucunya kita tidak tau apa isi kontrak…jadi jangan ambil kesimpulan,,,siapa yang bermasalah….!!!
Mgomong apaan sih dek? Sejak kapan “optimal” jadi oFtimal wkwk
@angling darma, di dunia ini banyak pilihan untuk dapat TOT. Korsel kan baru saja. Jadi nggak usah terlalu bergantung pada Korsel. Kalau cuma disuruh ngecat, pasang baut apalah artinya.
mana ada orang bodoh bayar triliunan cuman buat ngecat sama masang ? lu kirain pemerintah kita badut !!
oh gitu ya,,,optimal,,,sekarang paham dek…!!!
xixiixixxi
jangan sering ambil kesimpulan iya kalou bener kalou salah vitnah itu dek…jadi fokoke ojo sox weruh lah rico dek…!!!
Pengalaman pribadi dlm R&D d bidang yg lain dgn perush2 jepang/korsel/amrik, mrk sbg pemilik teknologi biasanya sdh ambil keuntungan sejak awal, dgn mengenakan charge yg super mahal utk ED&D cost khususnya engineer cost/hour & jumlah labor hour yg sering gak msk akal.
Perlu d pahami setelah mock up jd, akan d ikuti dgn fase development component s/d dev product jd. Fase krusial pd saat testing component / unit pespur, jika terjadi failed atau NG pd fase testing component yg jumlahnya ribuan atau testing pespur itu sndri, akan berakibat pd molor nya wkt & pembengkakan biaya riset yg semula 8 trilliun won.
Jd kalau Indonesia mau lanjut harus siap dgn resiko extra riset cost. Dan jelas korsel pun sangat berharap Indonesia utk tetap lanjut utk bagi2 resiko.
mungkin dan kemungkinan besar seperti itu bung…permasalahan pembengkak kan dana a modal awal….!!!
#seolah gak berfikir panjang masalah pendanaan jangka panjang,dan gak ada dana talangan,apa bila ad masalah seperti ini.
#ikut beginian,krna gengsi, krna pengen #banget bisa bikin dan punya pesawat sendiri, itu dana segitu klo ditawarkan ke negara ke-3 buat join kfx, bakalan langsung lunas.
#indo negara kaya, tp susah ngubah kekayaan jadi duit, krna gak tau,
#ibarat lu jualan bahan2 dapur banyak,macam2 tepung,rempah2 penyedap rasa dll, tapi lu gak tau cara bikin roti/bakso dll makanan yg menghasilkan duit lebih, dan lu tetep jual bahan mentah #tepungnya aj.
itu permasalahan utama kita nilai tambah…karna kita selalu berpikir insta,cari yang gampang.
Intinya proyek ini terganjal di pihak indonesia yaa? dapet info dari temen di fb yg orang sana katanya 2 hari yg lalu pihak korea sdh mendatangkan 15 mesin untuk pesawat ini.. lalu dia juga bilang 1 dari 6 prototipe nantinya bakal dikirim ke indonesia april tahun depan. Wah klo indonesia seperti ini terus gimana jadinya yaa?
buktinya jalan terus…kemungkinan Indonesia juga menimbang untung-rugi proyek ini..jangan sampai di kibuli seperti kasus India Sukhoi/HAL FGFA…India keluar karena merasa dikibuli setelah habis milyaran dollar.
Indonesia akan lebih aman membeli lisensi pespur yg sdh ada. Atau bekerja sm dgn pabrikan yg sdh pernah mendesign pespur scr mandiri.
Hal yg sm dgn korsel wkt dulu membeli lisensi KF-16 dr LM, kemudian d lanjutkan dgn kerjasama development T-50 golden eagle. Setahu sy korsel blm pernah mendesign pespur secara mandiri.
Akan sangat beresiko membuat pespur from zero, amrik aja pernah gagal brp x. Prototye pespur bs terbang tp tdk pernah mass production krn banyak sebab.
Kalau Indonesia membeli pespur dlm jumlah besar mis 50 unit sy yakin Saab atau LM mau ksh lisensi nya.
Kalo LM kayaknya gk bakal ngasih. Tapi SAAB mau ngasih ToT, bahkan walau beli cuman 16 unit.
Kalau lisensi berarti kita hanya sebagai perakit saja…tak bisa mengubah dst…kalau IFX kita sedikit banyak bisa..seperti LPD dan Tank Harimau
Tergantung kesepakatan dgn prinsipal, smp level mana blue print yg kita beli. lisensi sbg perakit bs d pakai sbg langkah awal, bisa d teruskan dgn modifikasi/local development, bahkan ada lisensinya bs d jual lg. Korsel sndri bnyk melakukan hal ini sprti U-209 mnjd CBG.
yang jadi pertanyaan dasar saya sebenarnya bagai mana pembagian persentase tersebut ditentukan apa sebatas pengerjaan apa sampai keuntungan penjualan akhir…???
kalou 20℅saham hanya dapat pengerjaan saja toh industri kita juga kurang mendukung nya….tapi kalou 20persen itu bagi keuntungan dan pengerjaan secara keseluruhan mungkin bisa dilanjutkan….menunggu sampai kita bisa mandiri dan buat pespur sendiri…!!!
tapi kalou hanya 20℅ pengerjaan itu namanya tipu tipu…karna toh kita memang belum siap untuk sumbang komponen inhan pada pespur tersebut…!!!
yang tau hanya ahli manajemen, ekonomi dst…tak usah dipikir.
Indonesia sudah mampu membuat komponen pesawat tempur…tahun 1990 PT.DI pernah membuat komponen penting F-16….Jadi PT.DI sudah sangat mampu membuat komponen IFX
ini lah perlu nya keterbukaan informasi karna bisa mengurangi celah masuknya penyelewengan,apa lagi dengan ada uu kebijakan tidak dapat di kriminalisasi atau dituntut,maka perlu sekali keterbukan informasi….!!!
komponen pesawat itu ribuan dek 20℅ itu banyak lagian beda pesawat beda komponenya apa lagi pespur dengan heli jadi jangan selalu meremehkan sesuatu atau mengampangkan sesuatu…!!!
kalou segampang yang kita kira kan engak ada masalah ribet kayak gini…tingal buat sendiri tuh pespur…!!!
MENHAN Prabowo Tolak Ungkap Anggaran Kemhan Terbuka, karena menyangkut kerahasian negara
https://news.detik.com/berita/d-4779902/debat-raker-komisi-i-prabowo-tolak-ungkap-anggaran-kemhan-terbuka
Hhhhhhh…..ini kadang lucunya yang seharusnya diarasian itu apa dan yang harus di informasikan kepublik itu apa…rakyat kita engak tau tapi pohak asing yang malah lebih tau..,liat perkembangan inhan dan militer negara negara maju dan bedakan dengan negara negara yang berkembang…pelajari dulu sistem nya baru untuk mengejar ketertingalan jadi pembenahan sistem dan sumberdaya manusia mutlak untuk mencapai negara besar dan maju…kita menganut sistem demokrasi tapi masih tidak dapat membuat sistem yang bebas dari keterti galan…mengapa…???
berapa besar pun angaran bila tidak bisa dimanagement dengan baik sesuai garis besar yang direncanakan akan mubajir dan sia sia…apa lagi wang seuprit…!!!
semu perlu visi dan itikat baik pada dasarnya…rahasia negara seharusnya tidak bertentangan dengan keterbukaan karna ancaman terbesar bagi suatu bangsa adalah penyakit didalam tubuh sendiri…jadi jangan sampai seperti diibaratkan “mengurung tikus dilumbung padi”…!!!
Udah mending langsung keluar aja. Ga enak terus terusan jadi beban buat Korsel. Biar Korsel langsung cari mitra yg lain. Uang yg dah terlanjur dibayarkan minta tuker sama pesawat latih korsel aja
Utang 5000T lebih msa ga bsa bayar bgnian, gmn si komitment nya…
Indonesia rasionya masih 28%..masih jauh dibanding hutang Filipina 38,9%…malaysia tembus 58%..Singapura sebesar 113,6%..negara maju macam amerika dan jepang jangan ditanya besar bingit.
Coment coment disini lebih pintar dari yang merencanakan program ini :v
yaa semua masalah negri yaa tanggung jawab bersama lah,banyak kepala kan banyak juga ide,tingal bagai mana saja menyeleksinya untuk mengambil jalan terbaik,gitu loh dek.
ini kamu masih terpaku pada ortodokian bahwa”orang yang menjabat lebih pandai dari rakyat biasa”,sama halnya angapan kalou kamu pintar mengapa tidak menjabat atau bahkan kaya,kalou miskin berarti kamu bodoh,kan kayak gitu mungkin pemikiran situ ya dek????.
kalou kamu melihat sesuatu tanpa ilmu dan pemahaman yang dalam maka akan semakin jauh dari kebenaran,”semua hal dunia ini permainan dalam permainan mengikuti aturan yang ditetapkan,tapi semua mengacu pada cobaan dan ujian”……
mau kamu kaya mau kamu miskin tetap mati,mau kamu presiden mau kamu rakyat tetap mati,lantas apa yang membedakan,apa karna kamu presiden dan kaya raya engak mati???.
Kata sape aku terpaku yang miskin bodoh dan yang kaya pintar seperti rakyat itu bodoh dan pejabat itu pintar”kan aku mau bilang komen komen disini gak tau apa yang sedang mereka kerjakan dan hanya memberi opini yang kadang gak masuk akal.pastinya pihak Indonesia pada program KFX/IFX juga memilih kemungkinan yang terbaik supaya menguntungkan pihak indonesia.hadeh
Ooooo gitu yaa….solly deh kalou gitu saya yang salah……Hhhhhh
maklum dek engak ada kopi dan engak ada yang dijadikan wang kopi….jadi rada sedikit prasangka……..!!¡
engak ada engine pespurkah untuk di songlaap bang?????.
wkwkwkwk
kan bisa batrey kasel juga jadi wang kopi kahkahklah……
Inget jamannya Eyang HABIBIE mau bikin/ rakit pesawat dan banyak yg menentang krn menghamburkan uang rakyat ………Rakyat belum ini belum itu. Tetapi Babe Harto sama Eyang Habibie tetep KEKEH .
Pak JOKOWI OJO NGANTI MANDEK PAK……SAMPEAN RAMPUNGNO PAAAK.
Teknologi memang mahal.
Korea yg notabene negara dgn penguasaan teknologi yg mumpuni dan ekonomi yg stabil saja masih butuh mitra untuk mengembangkan pesawat terbang, kita gaya-gayaan mau bikin pesawat sendirian hanya demi jargon “made in anak negeri”
Covid-19 dulu…pengobatan rumah sakit sekitar 70 juta – 125 juta per orang, kalikan saja dengan pasien positif nya, total Rp. 3,5 Triliyun
Belum biaya test A-Z, riset, dll total bisa sampai Rp. 100 Triliun
Pake dulu dana anggaran pemindahan ibukota
Sudah Off sejak Covid-19 melanda Indonesia
Pemindahan Ibukota tetap lanjut sesuai pesan bapak perdana Menteri. investor dari luar, bisa pakai pinjaman jangka panjang.
Kalo tak ada kata sepakat lebih baik keluar saja
Yah begitulah negeri ini, sblum ada covid pun sdh susah bayar apa lg skrang ini masa sulit karna covid, pdhl klo dibayar + sklian negosiasi masalah memperlebar tot agar kita jg bsa ekspor ni burung, nego dri 20% ke 15% ya jelas akan sedikit tot yg didapat, biar kam 20% akan ttp sesuai tot yg diharapkan.
Tak semudah yang kamu bayangkan, jauuuuuh
Tergantung presiden nya aja krg
Klo kita TNI AU menhan rakyat RI pasti tetep lanjut.
Presiden fokus ke Infrastruktur.
sy jamin fansboy rusia & gripen macam dark rider pasti senang berita ini
Admin,
“Seperti pada tahun lalu, seharusnya Indonesia membayar 63,5 miliar won kepada Pemerintah Korea Selatan, dari total kontribusi Indonesia senilai 1,7 miliar won pada akhir tahun 2026 nanti.”
Harusnya
“Seperti pada tahun lalu, seharusnya Indonesia membayar 635 miliar won kepada Pemerintah Korea Selatan, dari total kontribusi Indonesia senilai 1,7 triliun won pada akhir tahun 2026 nanti.”
Trus ada lagi :
“kontribusu Indonesia baru mencapai 2,27 miliar won.”
Harusnya
“kontribusi Indonesia baru mencapai 227 miliar won.”
Terima kasih atas koreksinya 🙂
Indonesia ribet. Bukan masalah untung rugi dlm proyek ini..tapi lebih kepada komitmen dgn mitra bisnis. Komitmen harus di laksanakan sampai bisnis di anggap selesai.