Kamov Ka-137: Inovasi “Bola Terbang” Rusia yang Mendahului Zamannya

Di akhir masa kejayaan Uni Soviet hingga masa transisi Federasi Rusia, Biro Desain Kamov yang terkenal dengan helikopter maritimnya melakukan eksperimen radikal. Mereka merancang Kamov Ka-137, sebuah drone dengan bentuk yang sangat tidak lazim. Berbentuk bulat sempurna seperti bola atau panggangan BBQ, drone ini dirancang untuk menjadi platform multirole yang mampu melakukan pengintaian, transmisi data, hingga pemantauan lingkungan berbahaya.

Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Situasional, Prajurit Rusia Gunakan “Bulat” untuk Deteksi Kehadiran Drone

Bentuk bulat Ka-137 bukan sekadar estetika. Desain bola berdiameter sekitar 1,3 meter ini bertujuan untuk memberikan aerodinamika yang stabil dari segala arah angin serta memudahkan penyimpanan dan transportasi. Sebagai ciri khas keluarga Kamov, drone ini mengadopsi sistem dual rotor (coaxial)—dua baling-baling yang berputar berlawanan arah pada satu poros.

Teknologi ini menghilangkan kebutuhan akan rotor ekor (tail rotor), membuat drone jauh lebih ringkas, memiliki daya angkat yang kuat, dan mampu melakukan manuver presisi di ruang sempit. Dengan struktur badan yang terbuat dari material komposit, Ka-137 sangat ringan namun mampu membawa beban (payload) yang signifikan.

Dibalik bentuknya yang unik, Ka-137 ditenagai oleh mesin piston Hirth 2703 buatan Jerman (atau versi lokal Rusia) yang berkekuatan sekitar 50-65 tenaga kuda.

Performa drone ini tergolong sangat impresif untuk ukuran zamannya, seperti mampu melaju dengan kecepatan maksimum hingga 175 km/jam. Ka-137 memiliki jarak jelajah operasional sekitar 500 kilometer dengan ketinggian terbang mencapai 5.000 meter.

Drone ini bisa tetap berada di udara (loitering) selama kurang lebih 4 jam. Ka-137 mampu membawa beban hingga 80 kg. Ruang kargo di bagian bawah bola tersebut dapat diisi secara bergantian dengan kamera resolusi tinggi, sensor inframerah, radar mini, hingga peralatan pendeteksi radiasi nuklir.

Ka-137 dirancang untuk dioperasikan melalui stasiun kendali darat yang dapat dipasang di atas truk atau kapal. Hebatnya, sistem kendali drone ini sudah mencakup mode otomatis penuh. Operator dapat memasukkan titik koordinat (waypoint) melalui sistem navigasi satelit dan inersial, sehingga drone bisa menjalankan misi pengintaian secara mandiri dan kembali ke titik awal tanpa bantuan manual terus-menerus.

Meskipun prototipenya telah berhasil menjalani serangkaian uji coba pada pertengahan hingga akhir 1990-an, Kamov Ka-137 tidak pernah masuk ke tahap produksi massal secara luas.

Helikopter Serang Kamov Ka-52 dengan Ekor Rusak Parah Tetap Bisa Terbang, Ini Sebabnya

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalannya, yang paling krusial adalah karena krisis ekonomi. Pembubaran Uni Soviet meninggalkan lubang besar pada anggaran pertahanan Rusia. Program ambisius seperti Ka-137 kekurangan dana untuk pengembangan sensor yang lebih canggih.

Pada masa itu, sensor mikro dan sistem komunikasi data belum semaju sekarang. Memasukkan teknologi radar dan kamera canggih ke dalam ruang bulat yang sempit terbukti sangat mahal dan rumit secara teknis. Saat itu, militer Rusia lebih fokus pada pemeliharaan armada helikopter utama daripada mengadopsi konsep drone vertikal yang masih dianggap asing bagi strategi tempur mereka.

GY-500 – Drone Gyrocopter dari Rusia dengan Desain Retro

Meskipun proyek ini “mati suri”, konsep Ka-137 tidak sepenuhnya sia-sia. Pengalaman Kamov dalam mengembangkan drone coaxial menjadi fondasi bagi pengembangan UAV Rusia di masa depan, seperti keluarga Ka-175 dan teknologi drone taktis yang kita lihat saat ini.

Ka-137 akan selalu diingat sebagai salah satu desain paling berani dan futuristik dalam sejarah kedirgantaraan Rusia, yang lahir di waktu yang salah namun membawa ide yang melampaui masanya. (Bayu Pamungkas)

Kamov Ka-56 Osa – Helikopter Lipat ini Dapat Diluncurkan dari Tabung Torpedo Kapal Selam