Fregat PPA Class dengan Propulsi CODAG, Kini Kapal Kombatan TNI AL Sanggup Ngacir di Atas 30 Knots

Kehadiran fregat Thaon di Revel class atau yang dikenal sebagai PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) class, bukan hanya membawa poin penting pada update sistem navigasi, persenjataan dan radar, lebih dari itu, fregat KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321, juga membawa update baru pada sistem propulsi kapal perang TNI AL, yang mana kapal kombatan TNI AL kini mampu melaju dengan kecepatan di atas 30 knots.

Baca juga: Gantikan Unit yang Diakuisisi TNI AL, Angkatan Laut Italia Pesan Dua Unit Fregat PPA ‘Light Plus’ ke Fincantieri

Pencapaian kecepatan tersebut dapat terjadi berkat adopsi teknologi CODAG (Combined Diesel and Gas), yang terbilang baru di armada TNI AL. Dari spesifikasi, propulsi CODAG di PPA class terdiri dari komponen 2 × mesin diesel (peran ekonomis jelajah). 1 × turbin gas General Electric/Avio LM2500+G4 (≈32 MW) untuk sprint speed, dan 2 × motor listrik (untuk silent cruising ±10 knots). Sementara, untuk kecepatan tertinggi dengan turbin gas, PPA class sanggup melaju hingga 31,6 knots (setara 58,5 km per jam).

Pada prinsipnya, CODAG menggabungkan mesin diesel (efisien untuk jelajah) dengan gas turbin (tenaga besar untuk kecepatan tinggi, >30 knot). Adopsi CODAG Memberi fleksibilitas: hemat bahan bakar saat patroli, tapi bisa sprint cepat jika diperlukan.

(Ilustrasi)

Dan ini merupakan lompatan teknologi untuk TNI AL, karena butuh keahlian baru dalam pemeliharaan dan operasi gas turbin (seperti Rolls-Royce MT30 atau GE LM2500). Pasalnya, arsenal kapal perang TNI AL saat ini didominasi oleh dua sistem propulsi, CODAD (Combined Diesel And Diesel) pada korvet SIGMA 9113 (Diponegoro class), KCR 60M dan fregat SIGMA PKR 10514 (Martadinata class) – dengan CODOE (Combined Diesel or Electric). Selain penggunaan propulsi diesel murni (single type), seperti pada LPD Makassar class, LST Bintuni class, kapal bantu lainnya.

Dari spesifikasi, fregat PPA punya sistem propulsi CODAG dan CPP (Controllable Pitch Propeller) twin-shaft. Jadi ada dua jenis mesin berbeda yang bisa dipakai terpisah atau digabung, sesuai kebutuhan.

1. Mesin Diesel Utama (Cruise / Economy)
Jumlah: 2 unit
Tipe: MTU 20V 8000 M91L (MTU Friedrichshafen / Rolls-Royce Power Systems, Jerman)
Daya per mesin: ±10 MW (sekitar 13.600 hp)
Total daya diesel: ±20 MW
Fungsi: operasi jelajah ekonomis (patroli, operasi rutin, kecepatan menengah ±18–24 knot) dengan konsumsi BBM rendah dan endurance tinggi.

2. Gas Turbin (Boost / High-Speed)
Jumlah: 1 unit
Tipe: General Electric LM2500+G4 (GE Aerospace, USA, tapi dirakit di Italia oleh Avio Aero)
Daya: ±32 MW (sekitar 43.000 hp)
Fungsi: memberi dorongan tambahan saat butuh kecepatan tinggi (lebih dari 30 knot, bahkan mendekati 32–33 knot).

Sistem twin-shaft, masing-masing shaft dilengkapi CPP (Controllable Pitch Propeller), yang memungkinkan efisiensi lebih baik, manuver halus, serta pergantian mode cepat antara diesel dan gas turbin.

Masih terkait sistem propulsi, terdapat gearbox buatan Leonardo/Avio khusus untuk CODAG, yang mengatur kombinasi tenaga diesel dan turbin ke shaft.

Leonardo NA-30S MK2 – Sistem Kendali Senjata Multisensor di Fregat KRI Brawijaya 320 dan KRI Prabu Siliwangi 321

Secara umum, mode operasi CODAG di PPA class terdiri dari – Diesel only yang hemat BBM, jarak jauh, patroli, Gas Turbine Only untuk kecepatan tinggi dalam waktu singkat (misal untuk intercept, combat maneuver), dan CODAG (Diesel + Gas Turbine), yang mana diesel tetap jalan, lalu turbin masuk, kombinasi daya penuh, kecepatan maksimum.

Pada kecepatan jelajah, 18–24 knots (digunakan mesin diesel) dan kecepatan maksimum >30 knots (diesel + gas turbin). Endurance PPA class ada di rentang ±5.000–6.000 nautical miles pada kecepatan 15 knot. Fleksibilitas yang ditawarkan adalah hemat BBM di misi panjang, tapi bisa sprint cepat saat dibutuhkan.

Kecepatan Kapal Jadi Dilema di Satuan Kapal Cepat TNI AL

Sementara perbedaan dengan fregat Fregat Merah Putih (Arrowhead 140), CODAG (diesel + gas turbin) pada PPA class lebih mahal dan kompleks, tapi bisa kecepatan tinggi dan lebih fleksibel untuk misi multi-role. Sedangkan, CODAD (4 × diesel) pada fregat Merah Putih lebih sederhana, lebih ekonomis, kecepatan puncak 28 knots tanpa gas turbin.

Meski teknlogi gas turbin terkesan baru bagi TNI AL, namun di masa lalu, , TNI AL sudah pernah punya kapal dengan gas turbine, yakni pada fregat Tribal class (COGOG/(Combined Gas or Gas) buatan Inggris dan fregat Van Speijk class buatan Belanda (dari COGOG lalu diubah oleh TNI AL ke CODAD). (Gilang Perdana)

Frigat Van Speijk Class Dianggap Paling ‘Feasible’ untuk Dikonversi Jadi Kapal Patroli Bakamla

2 Comments