Selain di Malaysia, Keluarga “Hornet” Juga Mengalami Musibah di AS, F/A-18E Super Hornet Jatuh di Lepas Pantai Virginia

Untuk pertama kalinya, dalam satu hari keluarga jet tempur Hornet mengalami musibah, selain F/A-18D (tandem seat) Hornet milik Angkatan Udara Malaysia (TUDM) yang jatuh setelah gagal lepas landas di Lanud Kuantan pada 21 Agustus 2025, maka di tanggal yang sama, F/A-18E (single seat) Super Hornet milik Angkatan Laut AS (US Navy) juga dilaporkan jatuh di lepas pantai Virginia, AS.
Baca juga: Jet Tempur F/A-18D Hornet Angkatan Udara Malaysia Jatuh Dalam Latihan Terbang Malam
Seperti dilaporkan CBS News, F/A-18E Super Hornet yang jatuh berasal dari skuadron VFA-83 “Rampagers”. Skuadron ini berbasis di Naval Air Station (NAS) Oceana, Virginia Beach, Virginia. Insiden terjadi sekitar pukul 10 pagi Waktu Bagian Timur (ET), saat sedang menjalani penerbangan latihan rutin dan pesawat kemudian jatuh ke laut.
Seperti insiden di Malaysia, pilot F/A-18E Super Hornet berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar. Tim SAR segera dikerahkan. Pilot berhasil diselamatkan sekitar pukul 11.21 pagi ET dan dibawa ke rumah sakit setempat untuk menjalani pemeriksaan medis. Kondisinya tidak diungkapkan secara rinci.
Pesawat jatuh di perairan lepas pantai Virginia dan masih berada di dasar laut. Pihak Angkatan Laut belum melakukan evakuasi terhadap bangkai pesawat.

Secara garis besar, perbedaan mendasar antara F/A-18D Hornet milik Malaysia (sering disebut “Legacy Hornet” atau “Classic Hornet”) dan F/A-18E Super Hornet milik AS terletak pada desain, ukuran, dan teknologi.
Super Hornet adalah pesawat yang jauh lebih besar dan lebih berat daripada Hornet. Super Hornet memiliki rentang sayap, panjang, dan berat lepas landas maksimum yang lebih besar. Perbedaan ukuran ini membuatnya mampu membawa lebih banyak bahan bakar internal dan persenjataan.
Karena Super Hornet lebih besar, ia dapat menampung lebih banyak bahan bakar secara internal, sehingga jangkauan terbangnya lebih jauh dan waktu operasionalnya lebih lama tanpa harus melakukan pengisian bahan bakar di udara.
Serang Houthi di Yaman, F/A-18E Super Hornet AL AS Lepaskan GBU-53/B StormBreaker
Kedua pesawat menggunakan mesin General Electric, tetapi Super Hornet memakai mesin F414-GE-400, yang merupakan pengembangan dari mesin F404-GE-402 yang digunakan Hornet. Mesin F414 menghasilkan daya dorong (thrust) sekitar 35% lebih besar, memberikan Super Hornet kinerja yang lebih baik dalam hal daya angkat, kecepatan, dan kemampuan membawa beban.
Super Hornet adalah pesawat yang lebih modern dengan avionik yang diperbarui. Salah satu peningkatan utama adalah penggunaan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang jauh lebih canggih, yang memberikan kesadaran situasional (situational awareness) dan kemampuan pelacakan target yang superior.
Meskipun secara visual mirip, Super Hornet memiliki beberapa perubahan desain signifikan pada badan pesawat dan sayap untuk meningkatkan aerodinamika. Bentuk sayap dan intake udara (saluran masuk udara ke mesin) Super Hornet juga dirancang ulang untuk efisiensi yang lebih tinggi. (Gilang Perdana)



Jiwa korsa juga
makasih min, https://www.youtube.com/watch?v=uXtHCjMQNeI, sekalian kulik yang ini dong, ada apa bertamu ke pekanbaru