Jatuh Menimpa Gedung Sekolah di Dhaka, Inilah Profil F-7 BGI – Jet Tempur Bertampang Lawas dengan Avionik Modern

Petaka baru saja terjadi di Dhaka, ibu kota Bangladesh, setelah jet tempur F-7 BGI milik Angkatan Udara Bangladesh, jatuh sesaat lepas landas dengan menghantam gedung Milestone School and College, yang mengakibatkan 19 orang tewas, sebagian besar anak-anak dan 164 orang lainnya mengalami luka bakar.

Baca juga: AU Cina Pensiunkan Total Jet Tempur “Laris Legendaris” Chengdu J-7 di 2023

Dalam kecelakaan ini, pilot F-7 BGI, yakni Letnan Penerbang Mohammed Toukir Islam dinyatakan tewas. Angkatan Bersenjata Bangladesh mengatakan dalam sebuah pernyataan di Facebook bahwa jet F-7 mengalami kerusakan mekanis setelah lepas landas saat latihan tepat setelah pukul 13.00 waktu setempat (07.06 GMT).

Seorang guru di sekolah tersebut, Rezaul Islam, mengatakan kepada BBC Bangladesh, bahwa ia melihat pesawat “langsung” menabrak gedung. Guru lainnya, Masud Tarik, mengatakan kepada Reuters bahwa ia mendengar ledakan: “Ketika saya melihat ke belakang, saya hanya melihat api dan asap… Ada banyak penjaga dan anak-anak di sini.”

Jet tempur F-7 BGI adalah varian ekspor dari pesawat tempur ringan Chengdu F-7, yang merupakan versi buatan Cina dari MiG-21 Uni Soviet. Varian BGI ini dikembangkan khusus oleh China National Aero-Technology Import and Export Corporation (CATIC) untuk memenuhi kebutuhan negara-negara yang menginginkan pesawat tempur murah namun modern.

Meskipun berbasis MiG-21 yang oldskul, varian BGI membawa berbagai peningkatan besar agar lebih kompetitif di era modern, seperti sudah dilengkapi glass cockpit dengan 3 layar MFD (Multi-Function Displays), Head-Up Display (HUD) modern, radar Pulse-Doppler buatan Cina (kemungkinan KLJ-6F), mendukung pencarian dan pelacakan multi-target, dan Helmet-Mounted Sight (HMS) yang mendukung peluncuran rudal WVR (within-visual-range).

Bekal persenjataan yang dibawa adalah rudal udara-ke-udara jarak dekat seperti PL-5E II atau PL-7, kemungkinan mampu membawa rudal PL-9 dan PL-10, tergantung integrasi, bom dan roket tak berpemandu untuk misi serangan darat ringan, dan kanon internal 1x twin-barrel 23 mm atau 3 0mm. Fitur tambahan lainnya (opsional) terdiri dari Electronic Countermeasures (ECM) pods dan Radar Warning Receiver (RWR).

Kelebihan dari jet tempur bertampang lawas ini adalah punya biaya operasional relatif rendah, cocok untuk negara dengan anggaran terbatas, plus desain ringan dan lincah, ideal untuk intersepsi. Sementara kelemahannya, masih berbasis airframe MiG-21 yang sudah sangat tua dan kapasitas muatan terbatas.

F-7 BGI adalah contoh dari strategi Cina memodernisasi platform lama untuk pasar ekspor. Ia menawarkan transisi murah menuju dunia tempur modern bagi negara-negara berkembang, meskipun tidak cocok untuk pertempuran udara mutakhir menghadapi lawan berteknologi tinggi.

F-7 BGI adalah varian tempur satu kursi (single-seat), yang dirancang sebagai jet tempur murni, bukan jet latih tempur. Pesawat yang jatuh dengan tail number 701 tercatat sebagai single seat J‑7BGI.

India Pensiunkan MiG-21 di Tahun 2025, Pecahkan Rekor 200 Pilot Tewas dalam 400 Kecelakaan

Terdapat varian tandem seat, yang disebut FT-7 BGI (juga kadang disebut FT-7 BGI ThunderCat), fungsi utamanya sebagai jet latih tempur canggih dengan kokpit dan avionik setara F-7 BGI satu kursi, meski tanpa tanpa radar, tapi tetap punya HUD dan MFD

F-7 BGI bukan benar-benar jet tempur “baru” dari nol, melainka, jet tempur ini merupakan produk akhir dari modernisasi ekstrem terhadap desain MiG-21 (melalui platform J-7 buatan Cina). Meskipun tampilannya lebih modern (glass cockpit, radar pulse-doppler, HUD, dll), airframe dasarnya tetap berasal dari MiG-21F/J-7, dengan sejumlah modifikasi struktural dan avionik.

Bangladesh Air Force menjadi satu-satunya operator F-7 BGI sejauh ini. F-7 BGI pertama kali diperkenalkan secara publik sekitar tahun 2010–2011. Bangladesh menandatangani kontrak untuk 12 unit F-7 BGI dan 4 unit FT-7 BGI pada tahun 2006, dan unit pertama mulai diterima pada tahun 2013 dan pengiriman dilaporkan tuntas sekitar tahun 2014. (Gilang Perdana)

Direktur Uji Yakovlev Ungkap Yak-130M Disiapkan untuk Ekspor, “Khususnya ke Negara yang Tidak Ingin Jet Tempur Berat dan Mahal”