Diboyong ke Inggris, Pakistan Bangga Tampilkan Jet Tempur JF-17C Thunder Block III di RIAT 2025

Bila Indonesia dengan bangga menampilkan defile pasukan dan marching band Akabri pada perayaan Bastille Day di Paris, maka Pakistan juga tak ketinggalan menampilkan kebanggaan militernya di Eropa. Bukan dalam wujud defile pasukan, melainkan jet tempur produksi Pakistan-Cina, JF-17C Block III Thunder untuk pertama kalinya dengan bangga menyambangi langit Eropa, terlebih jet tempur single engine ini dikabarkan sukses melakukan jamming pada jet tempur Rafale milik India.
Sebagai bagian dari partisipasinya dalam Royal International Air Tattoo (RIAT) 2025, yang dimulai pada 18 Juli, Angkatan Udara Pakistan (PAF) telah mengerahkan sejumlah besar pesawat, termasuk dua jet tempur JF-17C Thunder Block III, yang telah tiba ini di Inggris.
Dikembangkan melalui kemitraan industri dengan Republik Rakyat Tiongkok, JF-17 Thunder adalah salah satu jet tempur tercanggih yang beroperasi dengan Angkatan Udara Pakistan, setelah baru-baru ini memperkenalkan varian termodernnya, yang diberi nama “Block III.” Pesawat-pesawat tempur ini memimpin detasemen yang akan berpartisipasi dalam pertunjukan statis dan terbang di RIAT 2025, yang akan diselenggarakan dari 18 hingga 20 Juli di Pangkalan Udara RAF Fairford, Gloucestershire, Inggris.
Kedatangan pesawat ini disorot oleh Angkatan Udara Pakistan melalui media sosialnya, melaporkan pengerahan dua JF-17C. Kedua pesawat tempur tersebut, dengan nomor ekor 23-323 dan 23-319, merupakan bagian dari Skadron No. 8 Angkatan Udara Pakistan yang dijuluki “Haiders”. Salah satu pesawat, “323”, memiliki corak peringatan khusus untuk presentasi Thunder di Inggris.

Selama beberapa bulan terakhir, dan sebelum konflik baru-baru ini dengan India, jet JF-17 Thunder Pakistan telah berpartisipasi dalam berbagai latihan gabungan dan multinasional. Sebut saja di tahun 2023 dan 2024, varian tercanggih JF-17 tersebut berpartisipasi dalam latihan udara bersama aset dan personel dari angkatan udara Arab Saudi, Tiongkok, Amerika Serikat, Mesir, dan Inggris. Dalam kegiatan ini, JF-17 beroperasi bersama pesawat tempur seperti Eurofighter Inggris, J-10C Tiongkok, serta F-16 AS dan Mesir.
Ciri khas JF-17C Block III Thunder yang paling menonjol dibanding varian sebelumnya (Block I dan II) adalah sudah mengadopsi radar KLJ-7A AESA (Active Electronically Scanned Array) buatan Nanjing Research Institute of Electronics Technology. Radar ini mampu melacak lebih banyak target secara simultan, dengan jangkauan deteksi yang jauh lebih luas dibanding radar mekanis varian sebelumnya.
Radar AESA juga lebih tahan jamming dan mendukung penggunaan rudal jarak jauh seperti PL-15. Block III dirancang untuk menggunakan rudal udara-ke-udara beyond visual range (BVR) PL‑15, yang punya jangkauan hingga lebih dari 200 km.
JF-17C Block III Thunder sudah menampilkan glass cockpit penuh dengan wide-area display (WAD) menyerupai milik jet tempur stealth J-20. Juga sudah dibekali Helmet Mounted Display (HMD) yang memungkinkan pilot membidik hanya dengan menoleh ke arah target.
PAF CONTINGENT ARRIVES IN UK TO PARTICIPATE IN RIAT-2025 pic.twitter.com/pXO2Bpxmwp
— DGPR (AIR FORCE) (@DGPR_PAF) July 16, 2025
Dari desain, air intake JF-17C Block III Thunder lebih besar, untuk menyokong kebutuhan mesin dan pendinginan sistem AESA, plus kokpit kanopi bubble tunggal, memberi pandangan lebih luas dibanding Block II yang masih pakai frame tengah.
Kembali ke kehadiran Angkatan Udara Pakistan di Inggris. partisipasinya tidak akan terbatas pada pesawat tempur JF-17C. Angkatan Udara Pakistan juga telah mengerahkan aset pendukung, termasuk sebuah C-130E Hercules dari Skadron “Antelope” No. 6 dan sebuah pesawat tanker udara Ilyushin Il-78 “Midas” dari Skadron “Bulls” No. 10. Pesawat yang terakhir bertanggung jawab untuk melakukan operasi pengisian bahan bakar bagi jet-jet Thunder selama beberapa tahap perjalanan ke Inggris.
Royal International Air Tattoo (RIAT) adalah pameran dirgantara militer tahunan terbesar di dunia, diakui oleh Guinness World Records dan oleh komunitas penerbangan internasional berkat jumlah pesawat dan negara peserta yang sangat besar, serta reputasi globalnya sebagai event militer utama. (Gilang Perdana)



Padahal indonesia dulu smpt diajak join kalau mau mungkin skrg sdh produksi diPTDI