Hadapi Drone Cina, Taiwan Gelar Sistem Hanud Titik Berbasis Laser 50 Kw di Ranpur CM-32 8×8 “Clouded Leopard”

Perang yang berkobar di Ukraina, dan konflik bersenjata Israel versus Hamas di Timur Tengah, tak pelak mendorong perubahan strategi peperangan masa depan di Indo Pasifik. Sebut saja dalam konflik antara Taiwan dan Cina, kedua pihak membuat perubahan pada pola defensif dan ofensif yang kelak dijalankan. Dalam konteks defensif, maka Taiwan sebagai pihak yang bertahan, disebut bakal mengoptimalkan jenis senjata baru, yaitu senjata laser sebagai hanud titik (point defence).

Baca juga: Lockheed Martin Kembangkan Senjata Laser Berdaya 500 Kw dengan Biaya US$1 per Tembakan

Dilansir Asia Times (9/3/2024), disebut Taiwan akan mengerahkan senjata laser berkekuatan 50 kilowatt yang disempurnakan dan ditempatkan pada platform kendaraan lapis baja. Taiwan tak mengembangkan sendirian, yanb mana telah bekerja sama dengan sekutunya untuk mengembangkan sistem senjata laser berkekuatan 50 kilowatt, menandai potensi lompatan besar dalam pertahanan pulau, terutama mengantisipasi serangan drone kamikaze dari Cina.

Taiwan mengalami kemajuan pesat dalam pengembangan senjata laser yang dipasang di kendaraan berkekuatan 50 kilowatt, yang bocorannya akan digunakan pada ranpur lapis baja roda ban CM-32 8×8 “Clouded Leopard” pada akhir tahun ini.

CM-32 8×8 “Clouded Leopard”

Inisiatif tersebut disponsori oleh National Chungshan Institute of Science and Technology (NCSIST),, menandai peningkatan penting pada prototipe bertenaga rendah yang diluncurkan tahun lalu. Sistem laser berenergi tinggi yang sedang dikembangkan terutama dirancang untuk melawan drone.

Upaya ini menyoroti kolaborasi teknologi global yang dilakukan lembaga tersebut dan publikasi penelitian yang mengeksplorasi sinergi operasional antara teknologi laser dan platform pertahanan udara yang ada seperti AN/TWQ-1 Avenger yang berbasis rudal Stinger.

Kemajuan teknologi laser solid-state – solid-state laser (SSL) dan pengaturan ulang tujuan untuk menggunakan laser sebagai pertahanan titik dibandingkan pertahanan rudal telah membuat penggelaran senjata laser untuk peran hanud menjadi mungkin dilakukan.

Pada bulan September 2022, South China Morning Post (SCMP) melaporkan bahwa Taiwan memperkuat kemampuan pertahanannya dengan sistem pertahanan drone senilai US$143 juta yang dikembangkan oleh NCSIST untuk melawan meningkatnya potensi serangan drone Cina, khususnya di sekitar pulau-pulau terluarnya.

SCMP mencatat bahwa sistem ini dirancang untuk mengidentifikasi drone yang masuk melalui radar pencarian, kamera dan deteksi frekuensi, mengganggu kontrol drone secara elektronik dan kemudian menangkapnya dengan jaring.

Kementerian Pertahanan Taiwan berencana untuk menerapkan sistem ini selama empat tahun ke depan di seluruh pangkalan militer, pelabuhan, dan bandara dengan penekanan pada 45 pulau lepas pantai dan lokasi terpencil, tidak hanya menargetkan ancaman militer Cina, tetapi juga drone sipil yang digunakan di zona abu-abu.

Pada bulan Februari 2024, Asia Times melaporkan bahwa Tiongkok telah mengungkapkan rencana untuk mengubah operasi militernya dengan mengintegrasikan sistem armada wahana tak berawak yang canggih. Strategi Cina menandai peralihan ke arah operasi khusus yang dipimpin drone dalam skenario perang, termasuk potensi konflik dengan AS terkait Taiwan. Militer Cina kini sedang mengembangkan kendaraan udara tak berawak (UAV) yang mampu terbang jarak jauh, menyelam jauh di bawah air, dan menunggu dalam waktu lama.

HELMA-P – Senjata Laser Anti Drone untuk Amankan Olimpiade Paris 2024

Analis pertahanan global memprediksi Cina merencanakan konflik skala kecil dengan Taiwan dan negara tetangga yang tidak disebutkan namanya pada tahun 2035, dengan kedua belah pihak setuju untuk membatasi peralatan (persenjataan) mereka pada senjata ringan termasuk perahu kecil, drone, dan senjata antipesawat.

Dalam skenario ini, militer Cina ditugaskan untuk menyerang dengan cepat dan diam-diam terhadap instalasi utama musuh, termasuk pusat komando dan pasokan penting, jauh di belakang garis musuh.

Sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian atau intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) akan melayang di atas medan perang setelah serangan awal, menilai kerusakan dan menentukan apakah tindakan lebih lanjut diperlukan.

Terkait hal di atas, pada bulan Desember 2022, Asia Times melaporkan bahwa Cina telah meluncurkan kapal induk pengangkut drone berdesain katamaran, sebuah kapal perang jenis baru yang dapat mengubah keseimbangan militer dalam konflik Taiwan.

Kapal induk drone katamaran, yang merupakan bagian dari kekuatan pelatihan angkatan laut eksperimental, dapat mensimulasikan kawanan drone musuh, serangan rudal anti-kapal bervolume tinggi, dan mendistribusikan serangan peperangan elektronik.

Kapal induk pengangkut drone dapat beroperasi sebagai bagian dari kelompok aksi permukaan yang lebih besar untuk mengarahkan kawanan drone terhadap sasaran pantai atau pertahanan udara, sehingga memungkinkan kemampuan yang lebih tradisional untuk digunakan secara lebih efektif. Drone dapat memiliki muatan khusus seperti sensor, sistem peperangan elektronik, atau hulu ledak peledak.

Kapal perang jenis baru ini dapat memainkan peran yang menentukan dalam bentrokan antara Cina daratan dan Taiwan, berpotensi meluncurkan serangan kawanan drone untuk melumpuhkan pertahanan udara Taiwan dan memungkinkan kampanye pengeboman yang “mengejutkan dan menakjubkan” untuk menghancurkan infrastruktur militer, pemerintah, dan sipil yang penting.

Terkait dengan kapal induk Cina ‘pembawa drone’ katamaran yang dimaksud, akan kami kupas pada artikel selanjutnya. (Bayu Pamungkas)